Keesokkan paginya, Grace bekerja seperti biasa, sikapnya masih sama namun dia sudah sedikit melupakan kesedihannya dengan aktifitasnya.
Seperti biasa, setelah di antar oleh Xavier, Grace tidak banyak bicara dan Xavier sendiri tidak banyak bertanya.
"Tumben sekali, tapi memang lebih baik begitu." Gumam Grace pelan saat ingin turun dari mobil Xavier.
"Sampai ketemu nanti, Sayang." Ucap Xavier namun Grace tidak menjawabnya, dia memilih untuk lamgsung pergi ke dalam kantornya karena Xavier yang memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.
Xavier hanya tersenyum, meskipun Grace tidak menjawabnya, namun dia senang karena menurrutnya semakin hari Grace semakin seperti sudah terbiasa dengannya.
Sedangkan Grace sendiri memang tidak memperdulikannya, dia lebih senang menanggapi teman-temannya yang menyambutnya.
"Nanti jam berapa wakil perusahaan di wawancarai?" Tanya Grace.
"Jam 10," jawab temannya.
Grace mengangguk dan membawa materi yang akan di tanyakan nantinya kepada tamu undangan seorang pembisnis muda.
"Perusahaan ini— bukankah perusahaan Xavier?" Gumam Grace pelan.
Dia masih mengingat nama perusahaan dan bisnis-bisnis Xavier, dia baru melihat jika ternyata hari ini dia kedatangan tamu perwakilan salah satu dari perusahaan Xavier.
"Ada apa, Grace?"
"Tidak apa! Ngomong-ngomong siapa yang nanti akan datang? Maksutku apakah direkturnya atau managernya atau mungkin pemiliknya?" Tanya Grace.
"Tidak tau! Tapii katanya hanya perwakilan saja, mungkin managernya." Ucap Temannya yang membuat Grace mengerti.
"Tentu saja hanya perwakilan, dia mana mau di wawancarai seperti ini." Batin Grace.
Sedari dulu memang dia mengenal Xavier yang jarang mau di wawancarai karena memang dia orangnya tertutup.
Pukul 9 pagi, semua orang bersiap karena akan kedatangan tamu undangan dari perusahaan besar.
Grace sendiri juga sedang melakukan briefing sebelum acara dengan timnya.
Setelah selesai dan semua timnya sudah siap, ponsel Grace berbunyi yang ternyata pesan dari Xavier.
Pesannya mengatakan jika dia ingin makan apa namun Grace tidak menjawabnya dan mengabaikannya.
Dia memilih untuk berkumpul dengan teman-temannya karena tamunya akan datang.
Grace terkejut ketika melihat tamu yang datang adalah Xavier.
"Yang datang ternyata pemiliknya, wawancarai dengan hati-hati." Ucap Nia, atasan dari Grace.
"Grace! Kau dengar aku?" Ucap Nia karena Grace hanya diam saja dan malah melamun memandangi Xavier.
"I-iya. Aku mendengarnya. Aku akan hati-hati." Ucqp Grace pada akhirnya.
Dia mengerutkan dahinya karena Xavier mau di wawancarai oleh stasion televisi, biasanya bahkan meskipun itu dengannya, dia tidak pernah mau.
"Apa yang dia rencanakan sekarang." Gumam Grace pelan.
"Astaga, Grace! Dia sangat tampan. Kabarnya dia masih belum memiliki istri." Ucap Lily salah satu teman Grace.
"Hm, sepertinya begitu." Ucap Grace.
Semua temannya memang belum pernah tau jika dirinya pernah menjalin hubungan dengan Xavier.
Xavier sempat menyapa Grace dengan senyuman namun dia hanya diam saja.
"Astaga, Grace! Dia tersenyum kepadamu, kenapa kau bisa saja dan tidak membalasnya." Ucap Lily yang heboh.
"Aku sudah membalasnya." Jawabnya sebagai alasan, padahal dia sama sekali tidak menjawabnya.
"Pantas saja dia tadi mengatakan seperti itu." Batin Grace. Dia masih mengingat jika Xavier mengatakan sampai bertemu nanti. Dia tadinya berfikir mungkin yang di maksut nanti adalah saat dia menjemputnya pulang, namun ternyata nantinya adalah saat ini karena dia bertemu dengannya.
Grace menghela nafas panjangnya dan masuk ke dalam acara karena ada dua orang yang mewawancarai Xavier, yaitu dirinya dan Lily, temannya.
Xavier terlihat dingin dan sebenarnya cuek, jika bukan karena calon istrinya yang mewawancarainya, dia tidak akan datang. Tapi dXavier mendapatkan informasi jika yang mewawancarainya adalah Grace, untuk itu dia mau datang dan bertemu dengannya.
"Selamat pagi, Tuan Moreno, suatu kehormatan bagi kami karena anda bisa datang ke sini." Ucap Lily yang memulai acara. Xavier sendiri hanya menanggapinya dengan anggukan tanpa senyuman.
Sesi tanya jawab akhirnya terjadi, Xavier menjelaskan dengan pembicaraan yang santai namun kisa katanya memang benar-benar rapi dan terlihat terdidik.
"Tuan Moreno, anda sudah sangat sukses membangun perusahaan besar anda sendiri, lalu apakah ada wanita di samping anda yang menemani anda? Maksut kami adalah mungkin kekasih atau seirang istri?" Ucap Grace, namun setelah melontarkan pertanyaan itu, Grace menggigit lidahnya sendiri karena bagaimana bisa dia menanyakan itu kepadanya.
Xavier tersenyum dengan pertanyaan Grace, di mana dia adalah calon istrinya sendiri.
"Saya belum menikah." Ucap Xavier dengan tersenyum tipis.
"Tapi saya memiliki wanita yang hebat dan sangat saya cintai, kami akan menikah sebentar lagi," lanjutnya.
"Pasti wanita iti sangat beruntung karena bisa meluluhkan hati anda." Icap Lily.
"Tidak! Akulah yang beruntung memiliknya, bahkan aku yang harus meluluhkannya karena dia sempat menolakku." Ucap Xavier.
"Waah benarkah? Itu berarti wanita iti sangat spesial." Ucap Lily.
"Ya, dia segalanya bagiku." Ucap Xavier.
"Boleh kami tau nama calon istri anda?" Tanya Lily yang membuat Grace terkejut dan menyenggol temannya karena dia terlalu mempertanyakan detail kehidupannya.
"Saya sangat ingin menyebutnya agar semua orang tau dia milikku, tapi aku takut dia marah." Ucap Xavier.
"Waah, apakah anda tipe pria yang nantinya takut istri?" Tanya Lily dengan candaan.
"Sepertinya begitu, calon istriku sangat galak." Jawabnya namun Grace melotot.
"Apa?" Grace reflek menjawab yang membuat temannya terkejut dan menyenggolnya.
"Maksutku, sepertinya tidak mungkin jika calon istri anda seperti itu." Ucap Grace namun Xavier akhirnya tertawa.
"Astaga. Dia benar-benar tampan," bisik Lily kepada Grace, namun Grace hanya diam saja.
"Ya, dia memang terkadang bersikap lembut, hanya saja akhir-akhir ini dia sedikit pemarah. Tapi aku tetap mencintaimya." Jawab Xavier tersenyum.
Sesi tanya jawab akhirnya di akhiri oleh Grace karena selain dia tidak mau lagi nanti Xavier banyak bicara, waktunya juga sudah selesai.
Xavier berjabat tangan dengan keduanya sebelum keluar dari ruangan, namun Grace dan Xavier sendiri terkejut ketika ada Starla di depan.
"Kau sudah selesai." Ucap Starla tersenyum seakan-akan menunggunya.
"Untuk apa kau ke sini?" Xavier benar-benar malas jika harus berdebat dengannya di sini.
"Sepertinya dia calon istri Tuan Moreno, dia sedari tadi menunggunya di depan." Ucap salah satu temannya yang sedang berbisik-bisik.
"Aku menunggumu." Ucap Starla tersenyum sambil melihat Grace dengan tatapan remeh.
Dia tau jika Xavier tidak menyebutkan nama calon istrinya. Untuk itu dia ingin semua orang mengira jika dirinya saja yang menjadi calon istrinya.
"Jangan bersikap seolah-olah kau—
"Kau marah denganku soal kemaren? Aku minta maaf. Jangan membahasnya di sini. Tidak enak dilihat orang." Ucap Starla yang tau jika Xavier ingin mengatakan jika dirinya bukan siapa-siapa baginya.
Xavier tidak menghiraukannya dan memilih untuk langsung pergi dari sana, dia melepaskan Starla yang ingin menggandengnya.
"Aku tau rencanamu, tapi akan lebih baik jika kau tidak meneruskannya karena itu akan mempermalukanmu." Ucap Xavier menatap tajam kepada Starla namun dia hanya diam saja.
Dia terswnyum miring melihat Xavier sudah pergi dari pandangannya.
"Kau milikku, kenapa aku harus malu." Gumam Starla.