Yang dikatakan Xavier memang benar, di sana ada Starla dan ayahnya, dia tau karena sebelumnya dia pernah bertemu dengan mereka di suatu pesta. Saat itu Xavier mengajaknya dan memperkenalkannya sebagai kekasihnya.
Dia bisa melihat Starla yang tadinya tersenyum namun lalu merubah wajahnya menjadi emosi ketika melihat dia bersama Xavier.
Xavier sendiri memegang tangan Grace yang membuat dia terkejut. Dia melepaskannya dan akhirnya tidak dipaaksa lagi oleh Xavier.
"Maaf, saya terlambat." Ucap Xavier yang menghampiri mereka.
"Tidak masalah, Tuan Xavier." Ucap salah satu dari mereka.
"Kenapa kau membawa pekerja wartawan ke sini, Xavier?" Ucap Starla tersenyum remeh melihat Grace.
"Wartawan?" Beo salah satu dari mereka.
"Siapa wartawan?"
"Calon istriku, namanya Grace Sindy. Dia memang bekerja sebagai wartawan di salah satu stasion televis." Ucap Xavier menyauti.
"Aah, jadi anda calon Tuan Xavier? Senang sekali bertemu dengan anda, Nona Grace." Ucap salah satu dari mereka yang di tanggapi Grave dengan senyuman.
Sejujurnya Xavier sangat senang ketika melihat senyuman Grace yang tidak dia lihat lagi setelah meninggalnya Reyhan, meskipun senyum itu hanya tipis dan menghargai rekan kerjanya, namun dia tetap senang melihatnya.
"Pantas saja jika Tuan Xavier tidak pernah mau di kenalkan dengan wanita manapun, ternyata sudah ada wanita cantik yang bisa meluluhkan hati pria dingin ini." Salah satu rekan kerja Xavier juga menyauti namun lagi-lagi Grace hanya menanggapinya dengan senyuman.
Sedangkan Starla mengepalkan tangannya, dia ingin berdiri dan rasanya ingin memaki dan mempermalukannya namun ayahnya mencegahnya.
"Jangan membuatku malu dengan tindakanmu." Bisik Soni sang ayah.
"Dia muncul lagi di kehidupan Xavier, aku tidak terima itu." Ucap Starla namun Soni menatap tajam ke arah putrinya.
Dia tidak mau rekan kerjanya akan berbisik buruk tentangnya karena sikap Starla.
Starla terpaksa menahan dirinya, namun kebenciannya terhadap Grace semakin berada di puncaknya.
Mereka memulai meting seperti biasa, Grace sendiri sebenarnya sedikit bosam, dia sama sekali tidak tau apa yang mereka bicarakan karena dia memang tidak begitu tau soal bisnis.
Setelah selesai. Mereka mengobrol sebentar sampai terhenti ketika Starla berbicara.
"Sepertinya calon istrimu ini tidak suka saat kau ajak ke sini, Xavier." Ucap Starla.
"Dia tidak paham akan bisnis, akan lebih baik kau tidak mengajaknya."
"Maksutku, agar dia tidak merasa bosan ketika mendengar para peringgi dan berpendidikan berbicara." Lanjutnya sambil tersenyum penuh arti.
"Hm, anda benar! Aku memang tidak paham dengan apa yanh kalian bicarakan. Aku di sini hanya menemani Xavier. Tidak untuk ikut campur soal pekerjaannya karena dia yang mencari uang untukku nantinya." Balas Grace dengan senyuman juga.
"Jadi kau menikah dengannya karena uang? Sudah kuduga dan memang banyak perempuan sepertimu." Ucap Starla.
"Cukup! Jika kau tidak bisa menghargai calon istriku, akan lebih baik jika kau diam saja." Ucap Xavier. Sedari tadi dia sudah menahannya. Bahkan dia tadi ingin bertindak namun Grace malah memeganginya dan tidak mau membuat citra Xavier buruk di hadapan rekan kerjanya.
"Dia sendiri yang mengatakan akan membuatmu bekerja untuknya, kau sedang di manfaatkan, Xavier! Dia baru saja kehilangan calon suaminya yang kaya, untuk itu dia mencari mangsa yang baru dan memilihmu, kau—
Perkataan Starla terhenti ketika Xavier sudah berdiri dan bahkan hendak menghampirinya namun lagi-lagi Grace mencegahnya.
""Aku rasa cukup sampai di sini pertemuan kita, aku harap tidak ada perdebatan seperti ini di kemudian hari." Ucap salah satu dari rekan kerja Xavier dan pergi dari sana.
"Tuan Soni, jika anda tidak bisa membuat dia diam untuk berkomentar tentang calon istriku, maka kau tau sendiri apa yang akan aku lakukan dalam satu telefon saja." Ucap Xavier lalu pergi dari sana.
Xavier tidak sesabar itu dan hanya mengancam Starla, jika saja Grace tidak mencegahnya. Ingin sekali dia mengeluarkan pistol yang sudah lama tidak digunakan olehnya.
"Brengsekk!" Umpat Starla. Dia marah karena Xavier malah mengancamnya di depan ayahnya.
"Aku tidak ingin bisnisku hancur karenamu, Starla! Jika kau ingin mendapatkan Xavier. Maka kau harus bermain cantik. Jangan sampai kau membuat kesalahan yang akan merugikanku." Ucap Soni yang membuat Starla sedikit kesal namun dia cukup senang karena itu artinya ayahnya mendukungnya.
Jelas Soni mendukungnya karena dia juga menginginkan memiliki calon menantu dari keluarga Moreno.
Sedangkan di mobil, Grace hanya diam saja karena dia sendiri malas menanggapinya.
"Aku sudah katakan kepadamu, jangan membawaku karena itu akan membuatmu malu." Ucap Grace.
"Aku tidak pernah malu memilikimu, kau hanya perlu mengingat itu." Ucap Xavier.
Grace tidak menanggapinya lagi karena dia merasa dirinya memang jauh beda dari Xavier yang seorang pembisnis muda dan dia hanya seorang karyawan wartawan.