Bab 1: Cuti yang Tak Kunjung Disetujui
"Des, ini gila sih. Pagi-pagi banget gue udah harus terbang ke Bali tapi cuti gue masih 'Menunggu Persetujuan'. Padahal gue udah ajuin dari dua minggu lalu!"
"Parah banget ya, Mut. Padahal kita udah pontang-panting nahan beban kerja tiap hari, giliran mau ambil hak cuti malah dipersulit. Mau gue temenin ke HRD nggak?"
"Pak Bernard HRD sama Mbak Cynthia atasan kita, udah approve dari kapan tahu, Des."
Gadis mungil itu berdiri dari tempat duduknya lalu menumpukan tangannya di atas meja.
"Tinggal si dajjal, Rayan Alistair Mahesa, yang belum approve!"
"Bangke banget kan tuh orang!" cerocos Imut seraya membanting tubuhnya kembali ke kursi.
Desi mengangkat kepalanya dari tumpukan invoice, lalu menatap Imut dengan tatapan lelah yang menyiratkan rasa iba.
"Tau ya, kelewatan banget CEO kita itu. Ada masalah apa sih dia sama lu, Mut?"
Tiba-tiba keningnya berkerut. "Tapi, Mut… bukannya cuti kita nggak butuh approval CEO ya? Cukup atasan sama HRD aja."
Imut memutar kursinya hingga menghadap Desi, lalu menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Nah itu dia, Des. Gue juga bingung, ada masalah apa sih dia sama gue."
"Cuma form pengajuan cuti gue yang tiba-tiba ada kolom tambahan 'Persetujuan CEO' di sistem. Cuma gue, Des!"
Ia menggerutu dengan suara pelan sembari mengetuk-ngetuk ujung jarinya ke meja dengan kesal.
"Cuti karyawan kan harusnya cuma urusan atasan langsung sama HRD, ngapain sih harus minta tanda tangan CEO segala? Sok penting banget!"
"Ya udah, Mut, sabar dulu aja. Ngomongnya ati-ati, kalo kedengeran orang nanti lu juga yang susah."
Alih-alih mendengarkan saran Desi, celotehan Imut justru semakin menjadi-jadi.
Ia menegakkan punggungnya dan merentangkan kedua tangannya.
"Bodo amat!"
"Lagian perusahaan ini isinya cuma dua puluh orang, yang punya sok-sokan dipanggil CEO."
Imut mengangkat dua jarinya ke udara lalu menggoyangkannya dengan nada mengejek.
"Dua puluh orang… Itu juga udah sama resepsionis dan OB, lebay banget kan owner perusahaan kayak gitu dipanggil CEO!"
"Hahaha…!"
Tawa Desi terdengar lepas.
"Terus di panggil apa, Mut? Di panggil Say? Babe?"
"Ada-ada aja sih lu!"
Imut menyandarkan tubuh rampingnya ke kursi.
"Ya, dipanggil ketua kek, kakak tertua kek, atau kepala suku gitu."
Bibir Desi kembali tersenyum.
"Kakak tertua... Lu kira nih kantor perguruan silat?!"
"Lagian, Mut, kita ini masih karyawan loh, nggak pantes kita ngata-ngatain bos secara berlebihan."
Imut menyipitkan matanya ke arah Desi.
"Ngata-ngatain bos secara berlebihan?"
Udara di sekitar meja mereka tiba-tiba terasa lebih dingin.
Desi yang sedang menatap Imut tiba-tiba membeku, matanya membulat melihat bayangan tinggi di belakang Imut.
"Mut…" Ia berbisik, nyaris tak terdengar.
Imut yang masih sibuk menggerutu tidak merasakan adanya sosok yang berdiri tepat di belakangnya.
"Elu kok, jadi belain si cepak laknat itu sih, Des?"
Tiba-tiba Imut merasakan hembusan nafas hangat di belakang lehernya.
Aroma parfum Dior Sauvage yang sangat khas itu tercium jelas olehnya.
Perlahan, ia menoleh, dan menatap lurus ke kemeja putih rapi yang dipadukan dengan dasi hitam.
Pandangan Imut perlahan naik, melewati dagu tegas, bibir tipis yang tertutup rapat, hingga menatap sepasang mata tajam milik Rayan Alistair Mahesa, CEO PT Mahesa Tech, yang menatapnya tanpa ekspresi.
Kenapa jantung gue jadi deg-deg-an gini ngeliat muka dia??
"Selamat pagi, Mbak Imut. Siapa itu si Cepak Laknat?" tanya Rayan dengan nada datar dan dingin.
Wajah Imut langsung memerah, nafasnya tercekat di tenggorokan.
Dia bisa mendengar suara tawa tertahan dari arah meja lain.
"Oh… ah… pa… pagi, Pak Rayan…" Imut terbata-bata, terkejut setengah mati.
"Itu tadi maksud saya tukang bakso, Pak, potongan rambutnya cepak."
Kening Rayan berkerut dalam sementara rahangnya mengeras, menahan kejengkelan yang nyaris meledak di balik ekspresi datarnya.
Sialan nih bocah Gen-Z, nyama-nyamain gue sama tukang bakso…
Biarin aja dia nungguin terus approval cutinya. Biar tahu rasa…
Lelaki bertubuh atletis itu kemudian menghela napas panjang…
"Oh iya, tukang bakso ya."
"Tadi, di lobby gedung, saya di tegur sama pengelola kantin."
"Katanya, pak, itu tolong Staf Finance PT Mahesa Tech yang bernama Mutia Davina Azizah alias Imut, segera melunasi utang-utangnya yang udah numpuk sama tukang bakso di kantin."
Mata Imut seketika melotot tajam.
"Iya, Pak. Nanti saya lunasin," balas gadis cantik itu dengan wajah ditekuk.
"Segera dilunasi ya, jangan bikin malu perusahaan," ujar Rayan sambil melenggang pergi menuju ruang kerjanya.
Setelah Rayan masuk ke ruangannya, tawa pun langsung meledak di sekitar meja Imut.
"s****n lu, Des. Kenapa nggak bilang-bilang tuh psikopat ada di belakang gue?"
"Sumpah, Mut, gue nggak tahu. Tiba-tiba aja si Bos muncul di belakang lu."
"Emang kayak hantu tuh manusia, suka tiba-tiba muncul dibelakang orang."
Imut menyondongkan tubuhnya ke arah Desi dan menatapnya dengan mata terbuka lebar.
"Lu bayangin aja coba, dia ngarang-ngarang gue punya utang sama tukang bakso di kantin!"
"CEO tuh, Des, CEO!"
"Bayangin coba!"
Desi hanya tertawa pelan melihat raut wajah kesal Imut yang justru terlihat lucu.
***
Waktu berganti menjadi sore hari. Lampu-lampu kantor mulai meredup.
"Belum muncul juga, Mut, approval-nya? tanya Desi dengan nada serius dan tatapan kasihan.
"Beloman, Des… Gimana nih?" jawab Imut setengah merengek.
"Sayang banget ya, klo lu nggak jadi pergi…" ucap Desi pelan.
"Nggak bakal, enak aja," timpal Imut cepat.
Imut menyunggingkan senyum tipis penuh keyakinan sambil menatap layar komputernya.
"Gue akan tetap pergi dengan atau tanpa approval cutinya Rayan!"
Desi menggeser kursinya lebih dekat ke meja Imut.
"Jangan nekat lu Mut..."
"Bulan lalu anak Marketing ada yang dipecat kan karena sering ambil cuti tanpa izin."
"Gue kan udah minta izin tapi nggak dikasih sama si makhluk dajjal," balas Imut sewot.
"Tolong dibedain ya saudari Desi Aryanti."
Desi hanya tertawa kecil melihat muka sewot Imut.
"Seumur hidup, belum tentu gue dapat kesempatan ke Bali sambil nginep di Hotel Bintang Lima kayak gini, Des."
"Iya, Mut."
"Beruntung banget ya lu bisa menangin undian dari produk skin care itu."
"Gue kira itu cuma prank doang, lu sama si Mas Budi kerja sama gitu ngerjain gue."
Bibir comel Imut terlihat tersenyum lebar, memamerkan giginya yang putih bersih.
Desi memutar bola matanya ke arah Imut, lalu mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi gadis mungil itu dengan gemas.
"Enak aja lu, nuduh-nuduh."
"Jadi lu berdua aja sama temen lu si Fitri yang menang undian itu?"
"Hadiah undiannya beda-beda, Des. Yang dapet hadiah ke bali plus nginep di hotel bintang lima, cuma gue sama Fitri."
Satu per satu karyawan Mahesa Tech sudah mulai pulang dari kantor.
Imut kembali me-refresh aplikasi form pengajuan cuti di komputernya, statusnya masih sama, ‘Menunggu Persetujuan CEO’.
Wajahnya mulai terlihat gelisah.
Budi Prihatin, salah seorang Software Engineer di perusahaan itu, menghampiri kubikal Imut dan Desi.
"Loh, Mbak Imut, Mbak Desi, kok belum pada pulang?"
"Kami lagi banyak kerjaan, Mas Bud," jawab Desi.
"Oh… karena, Mbak Imut, mau cuti ya besok, makanya dikebut sekarang?"
"Emang nggak bisa dikerjain nanti setelah cuti?"
"Iya nih, Mas. Mbak Cynthia bilang ini urgent, minta segera diselesaikan," jelas Desi.
Sementara itu, Imut masih memandang hampa komputernya dan terus me-refresh aplikasi form pengajuan cuti PT Mahesa Tech.
Wajahnya terlihat semakin gelisah.
Budi mengernyitkan dahinya saat mengamati bahasa tubuh Imut yang tampak sedang cemas.
"Pengajuan cutinya sudah beres kan?"
"Nah itu dia, Mas Bud. Sampai sekarang belum juga disetujui sama Pak Rayan…" Desi menjelaskan.
Kerutan di kening Budi semakin dalam.
"Lah, kok bisa begitu? Aku minggu lalu ngajuin cuti cuma butuh approval HRD dan atasan langsungku aja."