Penulis yang butuh dukungan orang-orang yang hobi membaca. Pepatah lama mengatakan, tak baca maka tak kenal. Coba baca blurb aja dulu, siapa tau lagi relate sama kamu.
Cek medsos saya untuk teaser novel.
ig: @nara_hening
tik-tok: @nara_hening
"Gue yang salah kamar, malah gue sendiri yang baper"
Imut, karyawan Gen Z yang blak-blakan, yakin dirinya korban diskriminasi dari Rayan, CEO yang senyumnya lebih langka dari sinyal wifi gratisan. Bagi Imut, bosnya itu manusia paling menyebalkan sedunia. Sementara bagi Rayan, Imut cuma bawahan kurang ajar yang pantas dikirim kursus tata krama. Keduanya bersumpah saling menjauh, sampai takdir punya rencana lain.
Menang undian liburan ke Bali membawa Imut tepat ke hotel yang sama dengan Rayan yang ternyata sedang berbulan madu kedua bersama istrinya, Sasha. Mereka di sana atas desakan orang tua mereka yang percaya pernikahan bisa diperbaiki cukup dengan nasihat dan wejangan.
Malamnya, empat gelas whisky gratis membuat Imut mabuk, salah masuk kamar, dan terjerembab di ranjang dalam pelukan Rayan. Pelukan itu tertangkap mata Sasha yang murka. Satu kesalahan kecil, dan hidup Imut berubah selamanya.
Di tengah gosip kantor yang selalu membuat depresi, benih perasaan yang ganjil justru tumbuh untuk atasan yang paling ia benci, pria yang usianya jauh lebih tua dan sedang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Rayan pun tak bisa lagi berpura-pura benci pada gadis yang selalu menganggapnya sebelah mata.
Saat hati mulai bicara, perjanjian bisnis antarkeluarga mengancam segalanya. Sanggupkah Imut mempertahankan cinta yang baru tumbuh, atau ending-nya cuma jadi TKI dadakan setelah ditendang dari perusahaan start-up?
“I Love You Mbak,” Ezra mengungkapkan perasaannya dengan sedikit gugup kepada Gendis, wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Mas, maafkan aku, sejujurnya kurasa aku juga sudah jatuh cinta padamu, tapi aku tidak bisa menerima cintamu”. ucap Gendis lirih sambil berlalu meninggalkan Ezra.
“Tapi kenapa mbak? Bukankah kita saling jatuh cinta” ujar Ezra setengah berteriak kepada Gendis yang mulai berlari meninggalkannya.
Gendis hanya diam dan terus berlari. Rasanya akan sulit bagi Ezra untuk percaya bahwa dia bukan berasal dari dunia ini.
Hazel hanya menumpang dalam raga gadis dewasa bernama Gendis ini. Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.
Tetapi Hazel terus berharap dan berusaha untuk pulang kembali ke dunia asalnya dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Ada darah daging, anak perempuan mungil yang ia sayangi, yang mungkin sedang menunggunya di dunia asalnya.
Sepertinya Hazel dalam raga Gendis akan terus galau mengatur perasaannya kepada Ezra sebelum ia benar-benar bisa pulang ke dunia asalnya atau dia memilih terjebak selamanya di dunia Gendis?
***