Bab 1: Penyihir Eterlyn yang Terjebak Di Bumi
Di semesta yang tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia di bumi, di tengah hamparan bunga-bunga abadi, terbujur kaku raga seorang wanita berusia 40 tahun di atas ranjang yang sunyi.
Di sisinya, bocah delapan tahun menatap hampa sambil meremas jemari sang ibu yang telah bertahun-tahun terlelap dalam koma.
"Ibu, bangun ibu, Freya kangen sama ibu," bisik lirih sang anak dengan suara bergetar menahan tangis yang tercekat di tenggorokan.
Derit pintu perlahan memecah kesunyian saat seorang pria paruh baya melangkah masuk ke dalam ruangan yang sarat akan duka tersebut.
"Sabar, Nak, mudah-mudahan ibumu segera sadar setelah bertahun-tahun koma," ucap pria itu lembut untuk memberikan secercah harapan di hati sang anak yang rapuh.
Dengan gerakan tangan yang lincah dan penuh perhitungan, pria itu meramu sebuah cairan misterius.
Ia kemudian meminumkan ramuan beraroma pekat itu secara perlahan melewati bibir pucat sang ibu yang masih terlelap dalam tidur panjangnya.
Begitu tetes terakhir ramuan mengalir, air mata anak itu kembali luruh tanpa seuntai suara pun.
Tangisan bisu tersebut menciptakan sebuah keheningan yang begitu menyayat hati dan mengiris sanubari siapa pun yang menyaksikannya.
"Untuk semua penghuni Eterlyn, recharge energi 'manna' sudah bisa dilakukan lagi," gema sebuah pengumuman gaib yang tiba-tiba merobek keheningan di ruangan itu.
"Mudah-mudahan recharge energi manna kali ini berhasil," ucap pria itu sambil menghela napas, memberikan sedikit harapan yang tersisa.
"Iya Tuan Mage, walau kita telah mencobanya berkali-kali," sahut anak itu lemah seraya melemparkan tatapan kosong ke arah jendela.
Pria yang dipanggil Mage itu terdiam dan tidak mampu berkata apa-apa lagi.
Ia hanya bisa menepuk pelan pundak anak kecil itu sambil menatap penuh rasa iba kepada sosok yang terbujur kaku tak berdaya di hadapannya.
***
Hari sudah larut malam di desa Candisari yang berpendar cahaya bulan.
Raga Gendis Atmojo terlihat tidur dengan bergeliat-liat resah. Geliatan itu rupanya mimpi dari Hazel Bigwick, jiwa yang menghuni raga Gendis yang cantik jelita.
“Hazel,” tiba-tiba suara menggema penuh wibawa mengagetkan Hazel yang tengah bingung tak tahu dirinya sedang berada di mana.
Hazel memutar tubuhnya di dalam ruang hampa tak berujung itu, mencari sumber suara yang menggetarkan sanubarinya.
Sesosok entitas bercahaya keemasan muncul menembus kegelapan, memancarkan aura keagungan yang membuat Hazel tanpa sadar menjatuhkan diri untuk berlutut.
"Siapakah... siapakah gerangan yang memanggilku?" tanya Hazel dengan suara bergetar.
"Akulah Penguasa Semesta, entitas mutlak yang mengawasi keseimbangan seluruh alam," jawab suara itu, menggema seolah berasal dari segala penjuru dimensi.
Hazel menundukkan kepalanya dalam-dalam, sama sekali tak berani menatap wujud cahaya yang menyilaukan tersebut.
"Ampuni kelancanganku, Yang Mulia Penguasa Semesta," ucap sang penyihir dari dunia Eterlyn itu dengan penuh takzim.
"Aku tahu kebingunganmu, Hazel Bigwick," sabda sang Penguasa Semesta dengan nada datar yang sarat akan d******i absolut.
"Ketahuilah bahwa jiwamu kini telah bertransmigrasi sangat jauh dari Eterlyn, menyeberangi batas antar dimensi menuju sebuah planet bernama Bumi."
"Engkau kini bersemayam secara utuh di dalam raga seorang gadis bumi bernama Gendis."
Hazel tersentak hebat mendengar kenyataan yang baru saja dijatuhkan kepadanya bak rentetan sambaran petir.
"Tidak, Paduka Yang Mulia, ini pasti sebuah kesalahan fatal!" bantah Hazel dengan kepanikan yang mulai merampas akal sehatnya.
"Kenapa hal gila semacam ini harus terjadi kepadaku?" tuntutnya dengan suara yang mendadak meninggi, melupakan sejenak rasa takutnya pada sosok agung di hadapannya.
Penguasa Semesta terdiam seribu bahasa, tidak memberikan satu pun pembenaran atau jawaban atas pertanyaan putus asa sang penyihir.
Keheningan absolut yang mencekam itu perlahan membuat Hazel menyadari kembali posisinya sebagai makhluk yang sangat kecil dan tak berdaya.
Air mata seketika menggenangi pelupuk matanya saat bayangan wajah polos putri kecilnya yang ditinggalkan terlintas kuat di dalam benak.
"Hamba memohon belas kasihmu, Yang Mulia Penguasa Semesta, tolong kembalikan hamba ke dunia asal hamba," isak Hazel dengan nada memelas yang menyayat hati.
"Hamba memiliki seorang putri kecil yang berharga di Eterlyn yang masih sangat membutuhkan bimbingan dan kasih sayang ibunya," lanjutnya seraya merendahkan diri hingga dahinya menyentuh ketiadaan ruang.
"Putriku tidak akan pernah bisa bertahan sendirian di dunia sihir yang kejam itu tanpa perlindungan hamba, Yang Mulia."
Pendar keemasan sang Penguasa Semesta tampak sedikit beriak pelan, seolah sedang memberikan ruang kosong bagi kesedihan Hazel untuk tersalurkan seutuhnya.
"Garis takdir yang telah tertulis kuat di alam semesta tidak bisa diubah hanya dengan cucuran air mata, Hazel," ucap Penguasa Semesta, memecah kesunyian dengan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Namun, selalu ada satu benang merah tersembunyi yang bisa kau rajut kembali untuk menemukan arah jalan pulang ke tempat asalmu."
Hazel seketika mengangkat wajahnya yang basah oleh sisa air mata, membiarkan secercah harapan baru menyala di dalam relung dadanya.
"Tugas apa yang harus hamba lakukan, Paduka Penguasa Semesta?" tanyanya dengan embusan napas yang memburu penuh antusiasme.
"Hamba bersedia menukarkan sisa nyawa hamba demi bisa kembali memeluk putri kecil hamba di sana."
Suara berwibawa nan agung itu kembali menggema, membawa sebuah titah besar yang akan mengubah peta jalan hidup Hazel untuk selamanya.
"Selesaikanlah sebuah misi pelik yang jauh melampaui batasan bumi tempat raga fanamu berpijak saat ini."
"Carilah sebuah jalan mustahil untuk membuka jalinan komunikasi secara langsung dengan makhluk cerdas dari luar angkasa."
"Hanya ketika pesanmu berhasil tersampaikan dan dibalas oleh entitas asing di penjuru galaksi, pintu dimensi menuju Eterlyn akan kembali terbuka lebar untukmu."
Napas Gendis tersengal hebat saat kelopak matanya terbuka secara tiba-tiba, menarik paksa kesadaran Hazel kembali ke dunia fana.
Keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya, membuat anak rambutnya menempel lengket pada kulit yang terlihat pucat pasi di bawah temaram cahaya.
Pandangannya menyapu cepat ke sekeliling ruangan yang hanya diterangi sisa pendar rembulan dari celah jendela kayu yang sedikit terbuka.
Ini masih kamar yang sama di desa Candisari, tempat raga asing ini terkurung dalam garis nasib yang sama sekali tidak ia pahami.
Hazel mencengkeram erat selimut tipis yang menutupi tubuhnya, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu begitu liar.
Malam sebelum ia tidur, Hazel berdoa secara khusyuk kepada sang Penguasa Semesta agar di beri petunjuk supaya bisa kembali pulang ke dunia asalnya.
Apakah pertemuanku dengan Penguasa Semesta tadi hanyalah bunga tidur belaka? batin Hazel dengan rasa frustrasi yang menyiksa isi kepalanya.
Ataukah itu benar-benar sebuah titah nyata yang dikirimkan langsung ke dalam relung alam bawah sadarku?
Ia menyentuh pelan dadanya yang mendadak terasa sesak oleh rasa rindu yang begitu menyakitkan kepada putri kecilnya di Eterlyn.
Entitas agung itu terasa begitu nyata, bahkan gema suaranya yang sarat akan d******i masih tertinggal jelas di gendang telingaku.
Fatamorgana semata tak mungkin bisa memancarkan aura wibawa mutlak yang sanggup membuat seluruh jiwaku tunduk gemetar ketakutan seperti tadi.
Hazel menelan ludahnya yang terasa kering, memikirkan kembali syarat mustahil yang baru saja dibebankan kepadanya sebagai jalan pulang.
Berkomunikasi dengan makhluk luar angkasa dari planet bumi ini? gumamnya dalam hati, merutuki ketidakmasukakalan dari misi tersebut.
Di dunia antah-berantah yang bahkan belum aku kuasai seluk-beluknya ini, bagaimana caraku menjangkau entitas dari galaksi lain?
Meski keraguan pekat menyelimuti seluruh batinnya, ada secercah tekad baja yang kini mulai menyala terang di balik sepasang mata jelita Gendis.
Fatamorgana atau bukan, aku tidak memiliki pilihan lain selain meyakini pesan tersebut demi mencari jalan keluar untuk kembali memeluk putriku.
***