Nana menggelengkan kepalanya lagi, kalo keputusan nya kali ini sudah benar. Nana langsung membuka tutup pulpen itu, dan langsung mencoret-coret kertas tersebut, dengan perasaan hancur. "Nana, jangan!!!" Jerit Dinda kencang, saat melihat kertas itu sudah terisi tanda tangan Nana. Dinda langsung menatap Nana yang juga sedang menatapnya, dengan tatapan mata merahnya, karena marah, Dinda benar-benar marah, kecewa karena Nana melakukan hal fatal tersebut. "Na!" Panggil Dinda dengan suara kecilnya "Aku tidak punya pilihan lain lagi Din," ujar Nana dengan suara parau nya. Nyonya Tika yang melihat kertas itu sudah ditandatangani oleh Nana, langsung merampas nya dengan kasar, lalu menyimpannya untuk diserahkan pada Arkan. "Sekarang, kalian pergi dari sini." Usir Nyonya Tika, setelah kertas itu