Haruskah Aku Penasaran?
"Lepaskan aku! Setya, kumohon, lepaskan! Please"
Suara itu pecah, merobek pita suaranya sendiri di tengah kegelapan yang pekat. Tubuh Izora meronta hebat, memukul udara kosong, namun pergelangan tangannya seolah dikunci oleh cengkeraman besi yang dingin dan tak berbelas kasih.
"Ssst... Izora, sayangku." Bisikan itu mengalun rendah, merayap tepat di telinganya. Dingin. Mencekik. "Kenapa kau terus berteriak? Suaramu sangat indah saat kau menangis, tapi tahukah kau? Semakin kau melawan, semakin aku tidak ingin melepaskanmu. Atau, Kau memang sengaja, hm?”
"Tolong! Tolong aku! Setya, kau gila! Menjauh dariku! Jangan begini. Kumohon!!!" Izora menjerit sekuat tenaga, memutar tubuhnya hingga persendiannya terasa ngilu.
Namun Setya tertawa. Tawa yang halus, elegan, namun kosong dari kewarasan. Pria itu menekan tubuh Izora semakin kuat ke sudut ruangan, mengunci setiap akses pelariannya. Tangan Setya yang biasanya menari di atas tuts-tuts piano dengan jenius, kini merayap di leher Izora, mencekik napasnya dengan kelembutan yang mematikan.
"Sssttt… jangan teriak, Sayang. Percuma. Tidak ada yang bisa mendengarmu disini," bisik Setya, nafasnya berhembus di kulit wajah Izora yang pucat pasi. "Kau milikku. Sejak awal, kau diciptakan hanya untuk berada di bawah bayang-bayangku. Kau pikir kau bisa lari dariku? Kau pikir marga besar keluargamu bisa menyelamatkanmu dariku? Tidak, Sayang… tidak."
"Tidaaak! Jangan lakukan ini padaku!!!"
Dalam mimpi yang terasa seperti kenyataan itu, kilat cahaya kamera tiba-tiba menyambar membutakan mata. Setya mengabadikan ketakutannya, merekam setiap air mata dan rintihan putus asanya. Bukti-bukti laknat yang mengikat Izora dalam rantai neraka. Rasa jijik dan ngeri berbaur menjadi empedu yang naik ke tenggorokan Izora.
Pria itu terlalu dominan. Ia menguasai setiap jengkal ketakutan Izora, menelannya bulat-bulat, memaksanya jatuh ke dalam palung keputusasaan yang tidak memiliki dasar. Tangan Setya semakin erat, merenggut pasokan udara terakhirnya, dan—
GASSP!
Mata Izora tersentak terbuka lebar. Udara ditarik masuk ke dalam paru-parunya secara paksa, menghasilkan suara decitan napas yang memilukan di tengah keheningan malam.
Ia terbangun.
Tubuhnya terpaku di atas ranjang king-size, sementara matanya menatap nanar pada langit-langit kamar yang terbuat dari ukiran kayu jati kuno, langit-langit asing yang dingin, agung, dan kaku. Kamar ini bukan miliknya. Ini adalah kamar utama kediaman Sastrawidjaja.
Dahi Izora bersimbah peluh dingin yang merembes hingga ke anak rambutnya. Jantungnya berdebar dengan ritme yang menggila, seolah organ itu tengah memukul-mukul tulang rusuknya, menuntut untuk dikeluarkan. Dadanya naik-turun dengan cepat, nafasnya terengah-engah, terputus-putus layaknya seseorang yang baru saja ditarik dari dasar sungai yang membeku.
Perlahan, jemari Izora yang bergetar hebat merayap naik, mencengkram kerah gaun tidur suteranya. Ia meraba lehernya sendiri, memastikan tidak ada tangan Setya di sana. Tidak ada. Kosong. Hanya ada udara malam yang menembus celah jendela, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.
Namun, sensasi sentuhan Setya di dalam mimpi tadi terlalu nyata. Bau cologne mahal milik pria itu, kilat kamera, tawa psikopatnya, semuanya menempel di memori Izora seperti noda yang tidak bisa dicuci bersih.
Izora memejamkan mata, membiarkan sebulir air mata lolos dari sudut matanya dan jatuh menembus kain bantal. Ruangan ini sangat luas, dihiasi dengan perabotan kayu antik bernuansa coklat tua yang memancarkan kemewahan aristokrat peninggalan masa lalu. Tirai beludru tebal menjuntai menutupi jendela raksasa, mengisolasi kamar ini dari rintik hujan di luar sana. Semuanya begitu hening. Terlalu hening hingga kesunyian itu sendiri terasa berdenging di telinga Izora.
Inilah hidupnya sekarang.
Ia telah menyerahkan dirinya pada kesepakatan gila ini. Menikahi Aksara Banyu Sastrawidjaja, pria yang nyaris tak dikenalnya, hanya demi selembar kertas yang mengesahkan namanya bernaung di bawah payung hukum dan kekuasaan keluarga cendekiawan itu. Ia pikir, dengan memutus akses ke dunia luar dan bersembunyi di balik nama suaminya, teror Setya akan berhenti.
Secara fisik, ya, Setya tidak bisa menyentuhnya. Pria itu tak akan mampu menembus tembok kokoh Sastrawidjaja yang dijaga ketat oleh sistem dan birokrasi elit.
Namun secara mental? Setya masih terus memburunya di dalam mimpi. Mantan kekasihnya itu masih menari-nari diatas ketakutannya, menggunakan memori dan ancaman foto-foto sialan itu sebagai melodi yang terus menghancurkan kewarasan Izora perlahan-lahan.
Izora menyingkap selimut tebalnya. Kaki telanjangnya menyentuh lantai kayu yang dingin, memberikannya sedikit jangkar pada realitas. Ia berjalan terhuyung menuju meja nakas, menuangkan air putih dari teko kristal ke dalam gelas dengan tangan yang masih gemetar. Suara denting kaca yang beradu memecah keheningan ruangan. Ia meneguk air itu dengan rakus, berharap cairan dingin itu bisa memadamkan neraka yang berkobar di dalam dadanya.
Ia menoleh ke arah sisi ranjang yang kosong. Rapi, tanpa lipatan. Aksara tidak tidur di sini.
Sejak malam pertama pernikahan mereka yang dirayakan dengan gemerlap kebohongan, pria itu selalu menghabiskan malamnya di ruang kerja. Aksara Banyu Sastrawidjaja adalah sosok yang tidak tersentuh. Pria itu tenang, selalu bertutur kata sopan dengan nada rendah yang terukur, dan tidak pernah sedikit pun menunjukkan ketertarikan pada Izora.
Pernikahan ini benar-benar hanyalah sebuah cangkang kosong; sebuah tirai beludru yang menyembunyikan keterpaksaan Sastra menghindari perjodohan, dan keputusasaan Izora mencari perlindungan.
Izora merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya pada pilar ranjang ukir tersebut. Ia menekuk lututnya, menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lengannya. Sampai kapan ia harus hidup seperti ini? Sampai kapan ia harus menoleh ke belakang dalam ketakutan? Di dalam kediaman super mewah ini, Izora merasa lebih sendirian dari sebelumnya. Ia adalah Nyonya Sastrawidjaja di mata publik, namun jiwanya hanyalah seorang tawanan pesakitan yang menunggu waktu eksekusi.
Sementara itu, di sayap barat rumah yang terpisah oleh lorong-lorong panjang nan berpilar, cahaya temaram berwarna keemasan menyala dari balik pintu ganda ruang kerja utama.
Aroma kayu gaharu dan lembaran kertas tua menguar memenuhi udara. Ruangan itu dikelilingi oleh rak-rak buku menjulang tinggi yang menyentuh langit-langit, berisi ribuan literatur hukum, sejarah, dan filsafat yang tak ternilai harganya. Di tengah ruangan, di balik meja kayu eboni yang memancarkan d******i mutlak, duduklah Aksara Banyu Sastrawidjaja.
Pria itu mengenakan kemeja hitam bersih yang lengan panjangnya digulung rapi hingga siku, menampilkan urat-urat nadi yang tegas di balik kulitnya. Kacamata berbingkai tipis bertengger sempurna di pangkal hidungnya yang bangir. Sorot matanya yang seteduh air danau menatap lekat pada deretan aksara di halaman buku tebal yang tengah ia baca. Suasana di sekitarnya begitu statis dan tenang, nyaris seperti lukisan klasik yang membeku dalam waktu.
Tok. Tok.
Ketukan pelan di pintu memecah konsentrasi statis di ruangan itu. Tanpa menunggu jawaban, kenop pintu diputar. Seorang pelayan paruh baya dengan setelan seragam rapi melangkah masuk. Langkah kakinya sengaja diredam di atas karpet tebal, seolah takut nafasnya sendiri akan mengusik ketenangan pemilik ruangan. Pelayan itu berhenti beberapa langkah di depan meja eboni, menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan penghormatan dan kepatuhan yang mutlak.
Pelayan itu tidak langsung berbicara. Ia menunggu hingga dirasa aman untuk merobek kesunyian majikannya.
"Tuan," suara pelayan itu terdengar rendah, berhati-hati, memecah keheningan. "Nyonya mimpi buruk lagi."
Hening kembali turun merengkuh ruangan itu. Hanya terdengar detak jarum jam antik di sudut ruangan yang bergema lambat, seolah tengah menghitung mundur sebuah takdir yang tak terelakkan.
Sastra tak menghentikan gerakan tangannya yang sedang membalik halaman buku tua di pangkuannya. Bunyi gemerisik kertas yang bergesekan terdengar nyaring dalam keheningan. Sorot matanya di balik lensa kacamata tidak bergeser sedikit pun dari teks bacaannya. Ketenangannya adalah jenis ketenangan palung laut yang tak tertembus cahaya; diam, gelap, namun mematikan bagi siapa saja yang berani menyelam terlalu dalam.
Bibir pria itu bergerak perlahan. Ia hanya bergumam, suaranya mengalun datar, serendah bisikan angin malam, namun sarat akan teka-teki yang membekukan darah.
"Lagi." Sastra membiarkan jeda sejenak menggantung di udara. "Sepertinya mimpi itu sangat suka menghampiri istriku. Haruskah aku penasaran?"