Kau Beruntung menjadi…

1040 Kata
"Warna kelopaknya terlihat sangat rapuh, bukan? Tetapi percayalah, anggrek hitam ini memiliki akar yang mampu mencengkeram inangnya dengan sangat tepat. Tak tergoyahkan. Ia hidup dan memekarkan keindahannya dengan cara menyerap apapun yang ia sentuh, pelan-pelan... dalam diam." Suara lembut itu mengalun bagai sutra di tengah sejuknya udara pagi yang membalut taman belakang kediaman Sastrawidjaja. Ranti tersenyum simpul, jemarinya yang lentik dan dihiasi cincin berlian berpotongan zamrud menyentuh kelopak bunga anggrek di hadapannya dengan kehati-hatian yang terukur. Wanita itu adalah nyonya besar di rumah ini, ibu tiri Sastra. Fakta yang paling ironis di mata publik, dan mungkin di mata Izora sendiri adalah usia Ranti yang hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Sastra. Namun, Ranti membawa gelar nyonya besar itu dengan keanggunan. Posturnya selalu tegak sempurna, balutan gaun pastelnya tanpa cela, dan senyumannya tak pernah gagal memancarkan karisma elegan seorang wanita berkelas. Ranti terlihat sangat santun, tutur katanya selalu tertata rapi layaknya melodi klasik. Namun, entah kenapa, Izora selalu merasa tidak nyaman setiap kali harus menghabiskan waktu berdua dengan wanita itu. Mungkin itu murni karena kondisi psikologis Izora yang sedang berada di titik terendah. Duduk di kursi besi tempa bergaya Victoria, Izora menatap kosong ke arah hamparan rumput hijau yang dipangkas simetris. Di tangannya, sebuah cangkir teh porselen dengan pinggiran emas bertengger kaku. Teh earl grey di dalamnya sudah tak lagi mengepulkan uap sejak belasan menit yang lalu. Cairan kecokelatan itu telah mendingin, sedingin telapak tangan Izora yang sedari tadi terus bergetar samar di balik pangkuannya. Pikiran Izora sama sekali tidak berada di taman yang indah ini. Kewarasannya masih tertinggal di atas ranjang kamar tidurnya, terperangkap dalam jaring mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Tawa Setya yang menggema, kilat lampu kilat kamera yang membutakan, dan napas pria sosiopat itu di lehernya... semuanya berputar-putar di dalam kepala Izora bagai kaset rusak. Ia merasa dadanya sesak, seolah udara pagi ini tidak diizinkan masuk ke dalam paru-parunya. Izora menelan ludah dengan susah payah, pandangannya beralih menatap Ranti yang kini tengah memotong tangkai daun kering dengan gunting perak kecil. Gerakan wanita itu begitu anggun, nyaris hipnotis. Namun, bagi Izora yang dihantui trauma, setiap bunyi 'klik' dari gunting itu terdengar bagaikan ancaman yang tidak diucapkan. Ada sesuatu dalam diri Ranti, sebuah rahasia di balik tatapan matanya yang terlalu tenang, yang membuat bulu kuduk Izora meremang tanpa alasan yang logis. "Sepertinya kau kurang enak badan, Zora." Suara Ranti memotong lamunan Izora dengan ketajaman yang disamarkan oleh kelembutan nada bicaranya. Gunting perak di tangan Ranti berhenti bergerak. Wanita itu menoleh perlahan, menjatuhkan tatapan gelap dan menyelidik tepat ke manik mata Izora. Izora tersentak kecil, bahunya menegang seketika. Cairan teh dalam cangkir porselennya bergoyang keras, nyaris tumpah menodai gaun sutra putih yang membalut tubuh ringkihnya. Ia mengerjap cepat, seolah baru saja ditarik paksa dari dasar lautan ke permukaan. Ranti masih menatapnya. Senyum keibuan terukir di bibir wanita muda itu, namun sorot matanya menelanjangi kepanikan yang berusaha Izora sembunyikan. Teh yang sudah dingin di tangan Izora adalah saksi bisu betapa kacaunya pikiran wanita itu sejak awal mereka duduk di sana. "Ah..." Izora membuka mulutnya, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan mengintimidasi Ranti, lalu menggeleng pelan dengan gerakan yang canggung. "Maaf... Maafkan aku, Bu. Kepalaku... hanya sedikit pusing hari ini. Aku tidak fokus memperhatikan ucapanmu." Suara Izora keluar bergetar, menyerupai cicitan nyamuk yang menyedihkan. Ia merutuki dirinya sendiri. Sebagai putri dari Prawiro yang berkuasa, ia seharusnya tidak terlihat sebegini menyedihkan. Namun ketakutan telah melucuti semua harga dirinya, mengubahnya menjadi burung bersayap patah yang bersembunyi di sudut sangkar. Alih-alih membalas atau menuntut penjelasan lebih jauh, Ranti menghela napas halus yang nyaris tak terdengar. Keheningan kembali turun merengkuh keduanya, membiarkan desiran angin pagi dan gemerisik dedaunan mengambil alih percakapan. Perhatian Ranti perlahan bergeser dari wajah pucat Izora. Wanita itu mengangkat dagunya sedikit, mengarahkan pandangannya melewati hamparan bunga-bunga eksotis, menuju ke hamparan danau buatan yang membelah batas belakang kediaman Sastrawidjaja. Permukaan air danau itu memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai meninggi, menciptakan kilauan keemasan yang menyilaukan. Secara insting, Izora mengikuti arah pandang wanita di hadapannya. Di kejauhan sana, di atas jalan setapak berbatu yang mengitari tepi danau, dua siluet pria tampak sedang berjalan santai berdampingan. Kakek Sastrawidjaja, sang patriark sepuh yang sangat dihormati, melangkah lambat dengan bertumpu pada tongkat kayu eboni miliknya. Di sisinya, mengimbangi langkah sang kakek dengan kesabaran, berjalan suaminya, Sastra. Meskipun jarak mereka cukup jauh, aura d******i yang tenang dari Sastra bisa dirasakan hingga ke teras tempat Izora duduk. Sastra mengenakan kemeja berwarna gelap yang pas di tubuh tegapnya, posturnya lurus dan sempurna, seolah ia adalah patung pualam yang dipahat khusus untuk mewarisi dinasti cendekiawan ini. Pria itu menunduk sedikit, merespons ucapan kakeknya dengan sikap hormat yang kaku namun elegan. Ranti memandang lekat ke arah figur tinggi di tepi danau itu. Senyum di bibir wanita itu berubah, tidak lagi terlihat seperti senyum formal seorang ibu mertua, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih lambat, dan sarat akan emosi pekat yang tak bisa diuraikan oleh nalar Izora. Tatapan Ranti menyimpan sebersit rahasia gelap; ada kekaguman, ada rasa lapar yang ditekan paksa, dan ada melankolia yang ganjil. Izora menepis pikiran tersebut. Tidak sopan. "Dia adalah pria paling berbeda," gumam Ranti tiba-tiba. Suaranya mengalun terbawa angin, terdengar seperti sebuah pengakuan dosa yang lirih namun mematikan. Ranti menoleh sedikit, menatap Izora dari sudut matanya dengan senyum yang mengembang misterius. "Kau beruntung menjadi istrinya, Zora." Izora terdiam. Ia kembali menatap lurus ke arah Sastra yang kini tampak berhenti berjalan untuk membantu kakeknya duduk di bangku taman. d**a Izora terasa hampa. Angin pagi meniup anak rambutnya yang berantakan, membisikkan realitas yang hanya diketahui olehnya sendiri. 'Beruntung?' batin Izora menjerit dalam ironi yang pedih. 'Aku merasa jauh lebih beruntung bisa berlindung di bawah nama besar Sastrawidjaja. Keberuntunganku ada pada perlindungan kokoh yang tidak bisa disentuh oleh Setya. Pria itu? Sastra? Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku. Dia hanyalah tameng, sebuah kebohongan yang terpaksa kuamini.' Izora memejamkan mata sejenak, mengubur dalam-dalam gejolak keputusasaan yang menggerogoti ulu hatinya. Ia harus menjaga peran ini dengan sempurna. Kesepakatan adalah kesepakatan, dan ia tidak boleh membiarkan siapapun, terutama wanita semisterius Ranti, melihat celah dalam pernikahannya. Perlahan, Izora membuka matanya. Ia menghela nafas pelan, menekan sisa-sisa kepanikan ke dasar jiwanya, lalu mengulas sebuah senyum tipis yang tak pernah mata indahnya. "Ya," jawab Izora dengan nada lirih yang pasrah. "Aku beruntung."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN