Aku pikir Kau menyukai…

1017 Kata
"Aku kakak tingkat Sastra di masa kuliah. Dalam beberapa kesempatan dan perjamuan penting, kami kerap bertemu dan bertegur sapa." Ranti kembali membuka percakapan, kali ini nada suaranya terdengar lebih lambat, seolah sengaja mengeja setiap suku kata agar meresap ke dalam benak Izora. Wanita anggun itu meletakkan gunting perak di atas meja porselen, lalu menautkan jemarinya di atas pangkuan seraya menatap Izora dengan senyum yang tak bisa diartikan. "Sejauh aku mengenalnya, aku tidak pernah tahu dia dekat dengan wanita mana pun. Sastra terlalu sibuk dengan dunianya yang sunyi. Karena itu, saat dia tiba-tiba mengumumkan ingin menikah dengan wanita pilihannya—tepat di saat perjodohannya sedang direncanakan oleh keluarga… aku benar-benar terkejut." Izora menatap wajah Ranti lurus-lurus. Tumbuh di lingkungan keluarga Prawiro yang sarat akan intrik bisnis membuat insting Izora cukup tajam untuk mengenali racun yang disajikan di atas nampan emas. Untungnya, ia tahu ini adalah pertanyaan jebakan. Ranti sedang memancingnya, menguji seberapa jauh Izora mengetahui latar belakang suaminya, atau mungkin, tengah mencari celah dari pernikahan dadakan ini. Izora menilai, Ranti sedang menggali informasi. Ingin tahu bagaimana ia dan Sastra saling mengenal, menjalin hubungan, dan akhirnya menikah. Ranti… sangat penasaran. Tapi, apapun alasannya, Izora tidak akan memberitahu—sedikitpun. Izora mempertahankan raut wajahnya. Ia meletakkan cangkirnya yang berdenting pelan, lalu menjawab dengan nada suara yang sangat santun dan terjaga. "Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi di masa depan, bukan? Baik tentang diri kita sendiri, ataupun tentang orang lain." Ia memberi jeda sejenak, membiarkan desau angin pagi menyapu kalimatnya. "Sama halnya seperti Ibu yang tidak menyangka, sebenarnya... aku juga tidak pernah menyangka akan berakhir menikah dengan Sastra. Cara Tuhan mempertemukan dan menyatukan dua anak manusia memang selalu unik, Bu." Ranti tersenyum kecil. Sudut bibirnya terangkat tipis, sama sekali tidak menunjukkan ketidakpuasan atau kekecewaan atas jawaban diplomatis Izora yang menolak untuk dikuliti. Ia mengendalikan raut wajahnya dengan keanggunan seorang nyonya rumah yang tak tersentuh. Izora mengangkat cangkirnya kembali, menyesap teh yang rasanya sudah benar-benar dingin dan hambar, sekadar untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa perih. Ia menurunkan cangkir itu dan bangkit berdiri dengan pelan. "Bu, sepertinya sudah waktunya aku ke perpustakaan," ucap Izora, merapikan lipatan gaun sutranya. "Nyi Simah pasti sudah menunggu." "Tentu," balas Ranti mempersilahkan dengan lambaian tangan yang elegan. Tatapannya masih mengunci pergerakan Izora. "Nyi Simah wanita tua yang sangat disiplin. Jangan sampai kau membuatnya kesal hanya karena terlambat. Pergilah." Izora mengangguk hormat, merendahkan tubuhnya sedikit untuk pamit, lalu berbalik melangkah meninggalkan taman yang udaranya tiba-tiba terasa mencekik itu. Ada jadwal kelas silsilah keluarga Sastrawidjaja yang harus ia pelajari hari ini, sebuah rutinitas melelahkan untuk mengikatnya lebih dalam ke keluarga ini. Jauh dari paviliun teh, di bawah naungan pohon willow yang menjorok ke arah danau buatan, kakek berdiri bertumpu pada tongkat kayu eboninya. Mata tuanya yang masih setajam elang mengikuti siluet Izora yang berjalan menjauh menelusuri selasar batu, menuju ke arah sayap timur tempat perpustakaan utama berada. "Istrimu..." Kakek Sastrawidjaja membuka suara, serak, berat, dan penuh otoritas. "Dia sangat naif." Sastra, yang sedari tadi berdiri dengan postur lurus hanya selangkah di belakang bahu kanan kakeknya, perlahan mengikuti arah pandang pria tua itu. Wajah malaikatnya tidak menunjukkan riak emosi apapun saat melihat punggung rapuh istrinya berjalan menjauh. "Ya," jawab Sastra, nada suaranya mengalun datar, serendah permukaan danau di hadapan mereka. "Mungkin itu adalah sifat uniknya. Dia naif. Dia tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya. Dia hanya bisa melihat apa yang terjadi pada dirinya sendiri." Sebuah analisa yang kejam namun sangat akurat. Kakek memutar kepalanya sedikit, menatap cucu kebanggaannya dari sudut mata. "Dan kepolosan buta itu yang membuatmu memutuskan untuk menikahinya." Sastra menatap mata kakeknya tanpa gentar. "Salah satunya," ralatnya dengan tenang. Kakek tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh arti yang memunculkan kerutan di sudut matanya. Ia kembali menatap ke arah permukaan danau. "Dia muncul menjadi pilihanmu tepat di saat aku merencanakan perjodohan mu. Waktu yang cukup mengejutkan. Padahal selama ini, aku pikir kau menyukai Sania." Suara tongkat kayu yang diketuk perlahan ke atas batu koral mengisi jeda di antara mereka. "Kalian tumbuh besar bersama. Bisa dibilang, kau adalah mentor dan sosok kakak yang sangat baik untuknya. Seluruh keluarga besar sudah menduga bahwa pada saatnya nanti, kalian berdua akan menikah. Tapi..." Kakek tidak melanjutkan kalimatnya. Pria sepuh itu hanya mengedikkan bahu acuh, seolah takdir cucunya adalah sebuah permainan catur yang salah perhitungan dan tak layak untuk disesali lebih jauh. "Tidak ada yang tahu jalan Tuhan," Sastra membalas dengan kelembutan yang begitu menipu. "Menjadi seorang mentor dan kakak yang baik bukan berarti harus berakhir menjadi seorang suami." Sastra membetulkan letak kacamatanya, membiarkan pantulan cahaya matahari menyembunyikan kilat gelap di matanya yang tak pernah bisa dibaca siapa pun. "Dan yang paling penting dari semua itu..." lanjut Sastra, kali ini suaranya merendah menjadi sebuah yang mematikan. "Kata perjodohan tidak pernah ada dalam kamus Sastra-ku. Aku memiliki jalan hidup yang telah kubuat dan kupahat dengan tanganku sendiri." Sudut bibir Sastra terangkat, mengulas senyum arogan yang dibingkai oleh ketenangan. "Dan kurasa, Tuhan setuju dengan jalan itu." *** Selasar panjang menuju perpustakaan utama dipenuhi oleh pilar-pilar marmer tinggi dan bayang-bayang temaram. Lantainya dilapisi karpet merah tebal yang menelan suara langkah kaki siapa pun yang melintas di sana. Hening. Kedap. Di tengah lorong yang sepi itu, garis takdir mereka berpotongan dalam sebuah ilusi kebersamaan. Izora melangkah gontai dari arah perpustakaan, sementara Sastra baru saja masuk dari pintu sayap timur rumah. Keduanya berpapasan di tengah lorong. Udara di sekitar mereka seolah membeku sesaat. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum formalitas. Bahkan, tidak ada sepasang mata yang saling bersinggungan. Mereka terus melangkah berjalan melewati satu sama lain layaknya dua orang asing yang terperangkap dalam sangkar kebisuan. Namun, tepat sebelum Izora berbelok, langkah kaki Sastra terhenti. Tepat sebelum masuk ke dalam perpustakaan. Dalam keheningan lorong yang hening, pria itu menoleh perlahan. Sastra memiringkan wajahnya, menatap lurus ke arah punggung kecil Izora yang perlahan menjauh dan bersiap menghilang. Tatapan mata Sastra begitu tenang. Tidak ada emosi. Hanya ada sorot mata tenang seorang seorang pria yang sedang mengamati. “Naif” Sastra masuk ke dalam perpustakaan pribadinya. Menenggelamkan diri disana. Otaknya kembali fokus pada pekerjaannya. Seketika Izora lenyap dari dalam pikirannya. *** Izora ragu dan takut menyentuh ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN