BAB 26 Naya membeku, air bening mulai menggenang di pelupuk mata. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang ingin pecah. "Apa ... apa karena ini Mas berubah?" gumamnya lirih, suaranya pecah oleh getir. Pikirannya berputar kacau. Potongan-potongan peristiwa belakangan ini menyeruak ke permukaan: sikap dingin Rey, jarak yang tiba-tiba tercipta, tatapan mata yang tak lagi sama. Semua seperti menemukan satu titik yang menghubungkan segalanya. Ia menatap lagi foto itu, lebih lama, lebih perih. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah ingin keluar dari dadanya. Naya duduk di ruang tamu, menunggu Rey pulang dengan hati yang terus bergemuruh. Jarum jam berdetak lambat, namun setiap dentingnya menusuk telinga dan dadanya yang sudah sesak oleh rasa cemas. Pukul sepuluh mala

