BAB 27 Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan yang hampir gila, menembus derasnya lalu lintas malam. Wiper bekerja keras menghalau butir hujan yang mulai turun, sementara matanya menyapu setiap sudut jalan, setiap halte, setiap persimpangan. Panik, cemas, sekaligus marah, berpadu menjadi satu badai dalam dadanya. "Jawab, Naya ... jawab, sayang ..." gumamnya berulang kali setiap kali panggilannya berakhir dengan nada sambung yang hampa. Kilatan petir berulang kali membelah langit, menorehkan cahaya sesaat pada wajah Rey yang tegang. Ia merasakan waktu seakan berubah menjadi musuh yang kejam, menggerogoti kesabarannya. Sementara itu, jauh di taman kota yang remang, Naya duduk memeluk lutut di bangku tua yang mulai basah. Tubuhnya yang mungil tampak rapuh diterpa angin malam yang menusuk

