MENJELANG PERNIKAHAN

1585 Kata

BAB 17 H-7  Butik itu sunyi. Jam dinding telah melewati angka dua belas malam. Jemari Naya tak lelah menyulam satu demi satu detail di gaun putih yang akan ia kenakan dalam tujuh hari lagi—gaun yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan. Tok ... tok ... tok … Suara ketukan pintu mengganggu fokusnya, awalnya ia tak peduli. Pandangannya masih terpaku pada payet di tangan. Namun, suara itu berubah menjadi gedoran keras. DUARR!! DUARR!! DUARR!! Naya terperanjat. "Siapa sih ... larut malam begini?" gumamnya. Dengan hati-hati ia mendekati jendela, mengintip dari celah tirai. Matanya membelalak. Hans? Batin Naya berdesis getir: Kenapa dia datang malam-malam begini? Naya membuka kunci pintu. "Hans." Hans melangkah masuk dengan tubuh limbung. Setelan jasnya kusut, dasi terlepas begitu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN