BAB 42 Keesokan harinya, pemakaman ayah Hans, Candra Kurniawan, berlangsung kelam dan hening. Cua hadir di antara kerumunan, wajahnya tegang dan gelisah. Sejak pagi, ia terus berusaha menghubungi Naya, menelepon dan mengirim pesan, berharap sahabatnya datang. Namun telepon dan pesan tak kunjung direspon. Cua tidak tahu bahwa Naya sama sekali tak menyadari panggilan itu, hatinya hanya tertuju pada Rey, yang kini terbaring koma di rumah sakit. Cua menunduk, menatap nisan yang akan segera ditutup tanah, napasnya tersengal. "Naya ... elo di mana? Kenapa lo tak mengangkat?" gumamnya lirih. **** Sementara itu, di rumah sakit, Naya duduk di kursi panjang tepat di samping ranjang Rey. Wajahnya pucat, matanya sembab karena tak berhenti menangis sejak malam. Jemarinya terus menggenggam tangan

