BAB 41 Pak Salim baru saja meninggalkan lift menuju parkiran ketika matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya seketika membeku. Di dekat mobil Rey, tubuh presdir itu terbaring tersungkur, jas hitamnya basah oleh darah. Napas Rey tersengal, matanya setengah terpejam. "Presdir ...!" teriak Pak Salim, kaget sekaligus panik. Ia berlari, menunduk, meraih tubuh Rey dan memeriksa tanda-tanda vitalnya. Detak jantung Rey lemah, tapi masih ada. **** Suara sirene meraung di depan rumah sakit, petugas medis segera menggotong Rey yang tak sadarkan diri ke ruang gawat darurat, sementara Pak Salim berjalan di sampingnya, terus memberi arahan. Di ruang IGD, dokter dan perawat langsung bekerja cepat. Infus dipasang, darah diambil untuk transfusi, dan tim medis menilai luka tusukan di perut Rey

