BAB 44 Kenangan itu datang bagai gulungan film lama, berputar perlahan di benak Hans, sebuah kilas balik yang menyeretnya kembali pada masa orientasi mahasiswa baru, di universitas nomor satu di Jakarta. Suasana riuh, sorak panitia, dan wajah-wajah penuh semangat terlukis jelas seakan baru kemarin terjadi. Mereka memang berbeda fakultas, bahkan jurusan, namun takdir kecil bernama "pembagian kelompok" mempertemukan mereka dalam lingkaran yang sama. Hans, dengan sikapnya yang humble dan tutur yang mudah diterima, tak butuh waktu lama untuk dipilih menjadi ketua kelompok. Sosoknya menjulang—tinggi, berkulit putih bersih, hidung sedang namun tegas, aura priyayi terpancar dalam tiap geraknya. Tak heran, para gadis di kelompok itu diam-diam menaruh kagum, bahkan menyimpan khayal untuk bisa ber

