BAB 39 Hari-hari berlari cepat, meninggalkan jejak tanpa suara. Hampir sebulan penuh, butik Naya tak lagi disinggahi Rey. Sejak terakhir kali ia datang untuk mengambil pesanan jasnya, kehadiran Rey seolah lenyap begitu saja dari rutinitas Naya. Naya mencoba meyakinkan dirinya bahwa ketiadaan itu membuat hatinya lebih tenang, tapi nyatanya justru ada ruang kosong yang tak bisa diisi siapa pun. Setiap kali bel butik berbunyi, detik pertama hatinya selalu berharap yang datang adalah Rey, meski bibirnya buru-buru menyangkal harapan itu. Di sisi lain, Rey menenggelamkan diri dalam kesibukan kantornya. Tumpukan berkas, rapat demi rapat, proyek besar yang harus ia kawal—semuanya ia gunakan sebagai pelarian dari rasa rindu yang terus menggerogoti. Namun di balik layar rutinitasnya, Rey tak pern

