ANAK YANG HILANG

1610 Kata

BAB 32 Udara sore di halaman rumah sakit terasa berat. Naya duduk di kursi roda, tubuhnya lemah, wajahnya masih pucat. Ia menunduk, enggan menatap ke arah pintu rumah sakit di belakangnya, tempat ia merasakan kehilangan yang tidak akan pernah tergantikan. Sosok tantenya, berwajah teduh dengan garis usia yang bijak, berdiri di belakang kursi roda. Dengan hati-hati, ia mendorong perlahan, seolah setiap gerakan adalah bagian dari pelukan. "Pelan-pelan saja, Nak ... kita pulang," ucapnya lembut. Rey tidak ada di sana. Bukan karena ia tidak ingin datang, tapi karena Naya sudah menolak kehadirannya. Dan Rey, untuk pertama kalinya, memilih patuh, meski hatinya hancur. Di depan, sebuah mobil hitam sederhana sudah menunggu. Dari balik kemudi, tampak Cua, sahabatnya yang setia. Begitu melihat Na

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN