BAB 34 Di hadapan nisan marmer putih yang masih basah oleh tanah merah, Rey berdiri kaku. Setelan hitamnya basah, namun ia tak bergeming. Matanya merah, tak lepas menatap foto Yudhistira Pratama yang dipajang di atas bunga-bunga duka. Suara doa bergema lirih, mengiringi tubuh tua yang kini beristirahat untuk selamanya. Para pelayat menunduk, beberapa menangis. Tapi Rey berdiri sendiri, seperti tak mampu bergabung dengan dunia di sekitarnya. Tangannya mengepal, dadanya sesak. "Kakek ... aku bahkan belum sempat memaafkanmu ..." bisiknya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh gemericik hujan gerimis. Pak Anwar serta Pak Salim berdiri tak jauh darinya, menatap penuh iba. mereka tahu, duka Rey bukan hanya kehilangan, tapi juga penyesalan yang dalam. **** Di rumah sederhana milik Tante Ita,

