BAB 35 Ruang tamu terasa mencekam. Cua dan Tante Ita memilih mundur, meninggalkan mereka berdua. Rey berdiri kaku, wajahnya tegang, matanya merah, tapi mulutnya masih dikunci oleh egonya. Naya menatapnya dingin, jemarinya meremas sandaran sofa. "Bicaralah, aku akan mendengarkan." Suara Naya terdengar tenang, tapi menusuk. Rey menarik napas dalam, lalu menyodorkan map coklat di tangannya dengan gerak menuntut, menuntut Naya untuk menerimanya. Namun, Naya hanya terdiam, membiarkan tangan Rey menggantung di udara. "Aku baru saja membaca wasiat kakek. Selama ini ... semua kesalahpahaman, semua yang kubenci darimu ... ternyata karena ulahnya." Naya menoleh cepat, wajahnya berubah, tapi ia segera menegakkan diri. "Kesalahpahaman? Kenapa dulu kau mudah percaya begitu saja, tanpa bertanya

