Baru kali ini ruang operasi terlihat begitu menyeramkan. Aku seorang dokter dan aku yang paling tahu bagaimana keadaan Stevi ketika kami membawanya ke sini. Karena itu rasanya dadaku sesak sekali. Bagaimana kalau dia meninggalkanku? Bagaimana kalau ternyata dia tidak bangun? Bagaimana kalau jalan-jalan tadi adalah kenang-kenangan terakhir kami? Air mataku jatuh, dan mulutku tidak bisa mengatakan apapun. Tiba-tiba saja aku teringat bagaimana renyahnya tawa Stevi ketika aku pertama kali melihatnya dulu. Stevi yang selalu mengalah, Stevi yang selalu baik pada semua orang, Stevi yang gemar bermain bersama anak-anak yatim piatu dan menghabiskan uangnya disana, Stevi yang hangat jika di peluk, Stevi yang selama lebih dari tiga tahun aku tunggu. Aku menunggu lama untuk berada di dekatnya, tapi a