“Ba-bagaimana, bagaimana bisa ….” tanyanya dengan suara bergetar, tangisnya nyaris pecah di tempat. Lidah Elena mendadak kelu, susah sekali bergerak menjawab pertanyaan Jena. Kabar ini tidak hanya menjadi pukulan besar bagi Jena, tapi Elena juga merasakan hal yang sama. Bahkan dia tidak sempat menanyakan detailnya pada Thimothy yang saat itu memberinya kabar. Wajah cantik Jena mulai kehilangan ronanya. Matanya nanar entah tertuju ke mana. Bibirnya sudah pucat, giginya bergemeletuk. Kaget, cemas dan juga takut. “Keadaannya sekarang gimana? Dia di bawa ke rumah sakit mana?” Pertanyaan Jena tak kunjung mendapat jawaban, hingga ia mengulang lagi dengan nada tinggi. “Dimana, El!?” “Ru-rumah sakit Royal Novena!” jawab Elena tergugu. Segera berdiri, Jena langsung menghambur keluar. Berl