Melinda masuk kembali ke ruang tamu dengan wajah cemberut. Ia mendapati Anne, ibunya, sudah duduk menunggunya dengan tatapan penuh selidik. Anne menyilangkan tangannya di d**a. “Mel, Mama mau tanya. Itu pria barusan… kok bisa-bisanya berani melamar kamu? Padahal kamu sudah bertunangan dengan Reiner. Ada apa sebenarnya antara kamu dan dia?” Melinda langsung menghela napas panjang, malas sekali menjawab. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, menyandarkan kepala ke belakang. “Mama jangan kepo deh. Palingan… dia tuh cuma butuh istri buat formalitas aja. Mama lihat sendiri, dia usianya sudah matang banget. Kayaknya mau empat puluh deh. Pasti keluarganya nyuruh dia nikah biar bisa sah jadi pewaris kekayaan perusahaan mereka.” Anne mengerutkan dahi. “Kalau memang begitu, kenapa dia milih kamu?” Me

