Pagi harinya Ceklek Zoya membuka pintu kamar dan terlihatlah Zeo berdiri di samping pintu. Zeo menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia tersenyum manis melihat istrinya keluar dari kamar. “Sayang…” “Nggak usah sayang-sayang!” ujar Zoya dengan nada ketus Zeo menggaruk keningnya yang tidak gatal. Wajah dingin dan nada bicara Zoya yang ketus membuat Zeo berpikir dua kali untuk bicara padanya. Namun di satu sisi ia tidak ingin istrinya terus-terusan marah. Ada kesalahan yang harus diluruskan. “Kamu mau kemana?” “Ke asrama laki-laki, tebar pesona di sana!” “Heh!” tegur Zeo Zoya menghiraukan perkataan suaminya. Ia melangkah pergi meninggalkan Zeo namun baru dua langkah laki-laki itu menahan lengannya. “Em.. saya mau berangkat ke Pesantren. Bantuin seperti biasa, ya!” pinta Zeo dengan

