Malam Pertama

1577 Kata

Ketika kedua keluarga dipersilakan naik ke panggung untuk sesi foto bersama, Brama dan Elang berdiri hanya beberapa langkah. Tuan Elang sempat menahan napas. Ia tidak pernah lupa wajah pria yang perusahaannya ia tumbangkan dalam persaingan dulu. Brama menoleh—dan tatapan mereka bertemu. Sekejap, waktu seolah berhenti. Tak perlu kata-kata untuk menyadari bahwa mereka mengingat segalanya. Brama mengangkat alis sedikit, terkejut namun segera menata ekspresinya agar tetap santai. “Elang Wiratama,” gumam Brama rendah. “Dunia memang kecil.” Elang menanggapi dengan senyum kaku. “Teramat kecil rupanya.” Meski suasana batin memanas, mereka menjaga sikap di depan umum. Istri Elang menepuk lengan suaminya pelan. “Ingat, ini hari bahagia Elvan.” Elang mengangguk kaku. “Aku tahu. Untuk ana

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN