Memilih Di Sini Bersamamu

1674 Kata

Hujan masih turun, kini mulai mereda jadi gerimis halus. Aroma tanah basah bercampur kopi hangat memenuhi udara di bawah atap seng warung itu. Cindera masih diam, menatap jalanan yang basah dengan pandangan kosong. Elvan duduk di depannya, menunduk, jemarinya memainkan sendok kecil di atas gelas kopi. Tak ada kata-kata. Tapi diam mereka bukan hening yang asing, ada sesuatu yang tumbuh, pelan, namun tak terucap. Tiba-tiba, ponsel Elvan berdering. Nada dering khas yang sudah sangat ia kenal. Di layar: “Nadira.” Elvan menatap layar itu sejenak. Biasanya, ia akan langsung mengangkat tanpa pikir panjang, tak peduli sedang di mana, atau dengan siapa. Tapi malam ini… entah kenapa, jemarinya hanya terpaku. Cindera melirik sekilas, lalu kembali menunduk. Ia tahu siapa yang menelepon, namun t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN