Terbiasa Terluka.

1599 Kata

Suasana parkiran hotel malam itu sunyi, hanya terdengar suara gemericik air dari pancuran taman dan gesekan angin di antara pepohonan. Lampu-lampu mobil yang redup menambah suasana sendu. Cindera berdiri di samping motornya, masih mengenakan kebaya biru lembut yang kini tampak kusut di beberapa bagian karena air matanya. Bahunya bergetar pelan, tangannya menutupi wajah — tangisnya pecah tanpa bisa dibendung lagi. “Kenapa semuanya harus begini…” gumamnya di sela isak, suaranya serak. “Aku tidak minta cinta siapa pun… hanya sedikit penghargaan…” Ia mencoba menenangkan diri, tapi sesak di dadanya justru makin berat. Sementara itu, dari kejauhan, Elvan berjalan cepat menuruni tangga menuju parkiran. Jas hitamnya masih rapi, tapi langkahnya tergesa dan matanya gelisah. Dia melihat sosok C

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN