Malam itu, langit Jakarta tampak redup. Lampu kota berkelip dari jendela kamar rumah sakit, menyinari wajah Elvan yang sedang duduk bersandar di ranjangnya. Luka di pelipisnya sudah dibersihkan, dan infus di tangannya masih terpasang. Suasana sunyi—hanya terdengar detak jam dinding dan suara langkah lembut perawat di luar ruangan. Cindera sudah dipaksa pulang oleh orangtuanya agar beristirahat, meskipun ia sempat menolak meninggalkan Elvan. Tak lama kemudian, pintu kamar perlahan terbuka. Sosok tua berjas abu-abu masuk dengan langkah tenang—Kakek Alvaro, tokoh disegani sekaligus panutan dalam keluarga Elvan. “Kakek…” sapa Elvan pelan, agak terkejut namun tersenyum. “Kakek belum tidur?” Kakek Alvaro tersenyum lembut, berjalan mendekat dengan tongkat di tangan kanannya. “Bagaimana mung

