Setelah kemarin menghabiskan waktu di rumah saja dan diisi dengan menonton berbagai film, akhirnya hari ini tidak seperti kemarin yang hujan hingga sore. Hari ini begitu cerah, secerah masa depan.
Hazel berencana akan jalan-jalan pagi di sekitar hutan, semoga saja Edgar tidak melarang-larangnya. Ia merasa butuh udara segar di luar seraya menjernihkan pikirannya. Tadi pagi, Gabriel mendadak tidak bisa dihubungi, membuatnya bingung dan cemas luar biasa. Begitu pula dengan Ansel yang tidak bisa dihubungi. Hazel sangat menyayangkan pada ponsel barunya hanya diisi dengan nomor Gabriel, Ansel dan juga Edgar. Bahkan nomor Laila, Saka, Yumna atau pun keluarga Jacob lupa ia salin. Meskipun begitu, Hazel harap Gabriel baik-baik saja di London sana.
Hazal mematut dirinya yang memakai hoodie berwarna krem dan juga celana hitam ketat yang panjang. Rambut ia ikat kuda di belakang dengan erat.
Hazel berjalan keluar dari kamarnya, dan kebetulan ia berpapasan dengan Edgar yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
“Anda mau ke mana?” tanya Edgar heran. Kedua manik pria itu melihat penampilan Hazel dari atas hingga bawah.
“Aku ingin jogging, dan menghirup udara segar di luar. Mungkin aku juga akan mencari sarapan di luar,” jawab Hazel santai.
Edgar menghela napas. “Di ruang olahraga sudah lengkap dengan alat-alat olahraga, bahkan ada treadmill, Nona. Untuk apa keluar rumah?”
“Aku ingin keluar, Ed. Kemarin seharian sudah di rumah saja. Lagi pula aku ingin melihat-lihat suasana di luar.”
“Tidak ada apa-apa di luar sana, Nona. Lagi pula rumah ini cukup terpencil dan di luar hanya banyak pepohonan seperti di hutan,” balas Edgar tidak mau kalah.
“Kau bisa ikut kalau begitu, kita jalan santai di pagi ini. Bagaimana? Aku harap kau tidak protes lagi,” usul Hazel dengan wajah memelas.
Edgar menatap wajah Hazel sejenak. Rasanya sulit sekali menolak. Hadeh, kenapa sih dia seperti ini?!
“Baik, saya ikut. Anda tunggu di bawah dulu.”
Hazel bersorak ria. “Yess! Cepat ya, jangan lama-lama!” peringatnya.
“Iya.” Edgar kembali memasuki kamarnya untuk berganti baju.
Dengan langkah pelan, Hazel menuruni tangga sembari bersenandung ria. Tak lama, Edgar turun dan menghampiri Hazel.
Lagi-lagi Hazel dibuat sedikit terkesima dengan penampilan santai Edgar. Pria itu hanya mengenakan kaos tipis berwarna hitam dan juga celana pendek.
“Anda sedang melamunkan apa, Nona?” tanya Edgar dengan mata yang menyipit.
“Ti-tidak ada, ayo pergi!” Tanpa rasa canggung, Hazel langsung menarik tangan Edgar keluar dari rumah.
Setelah mengunci pintu rumah, keduanya berlari kecil keluar dari area halaman. Tanpa banyak bicara, Edgar berlari kecil menuju jalan dan diikuti oleh Hazel.
“Nanti kita akan tiba di mana, Ed?” tanya Hazel penasaran. Pasalnya sudah lima menit mereka berlari kecil, hanya ada beberapa rumah yang mereka lewati, tidak lebih dari sepuluh. Saking sepinya wilayah di sini.
“Ke tempat yang ramai, di mana anda akan menemukan tempat sarapan,” balas Edgar santai.
Hazel mengangguk paham. Keduanya tak berbicara lagi, mereka berlari dengan kecepatan santai dan tidak terlalu kencang.
Hingga lima belas menit berlalu, peluh keringat sudah membasahi wajah Hazel, rambutnya pun juga sudah basah oleh keringat.
Hazel memelankan larinya lalu berhenti. Ia mengatur napasnya yang terengah-engah, sementara Edgar masih berlari di depan sana meninggalkan dirinya.
Hazel mendengus pelan, Edgar tidak sadar ya kalau dirinya tertinggal??
“Ed!!”
Edgar seolah tersadar bahwa ia meninggalkan Hazel. Pria itu berbalik dan kembali mundur menghampiri sang Nona.
“Anda sudah lelah?”
Hazel mengangguk cepat. “Aku haus," adunya sembari memegang tenggorokan.
“Di dekat sana kita bisa membeli minum, ayo lari sedikit lagi, Nona.”
Hazel menghela napas dan mengangguk. Keduanya kembali berlari, hanya Hazel yang lambat karena Edgar kembali berlari dengan langkah yang lebar. Membuat Hazel tertinggal beberapa meter di belakang.
“Akh!” Hazel meringis pelan dan langsung terduduk ketika kakinya keseleo.
“Aduh, kenapa bisa gini sih?!” omel Hazel seraya menepuk pelan kakinya yang keseleo. Tepukan yang berhasil membuatnya kembali meringis.
“Edgar kayak dikejar setan aja, larinyakenceng banget,” gerutu Hazel kesal.
“Ed!! Kakiku sakit!!” teriak Hazel dengan suara yang keras.
Edgar berhenti dan memutar tubuhnya. Melihat Hazel terduduk di jalan sambil memegang kaki, membuat Edgar berlari menghampiri.
“Ada apa lagi ini, Nona?” tanya Edgar dengan nada jengah.
“Keseleo, akh,” ringisnya.
Edgar memeriksa kaki Hazel dan menggoyang-goyangkannya pelan, tanpa sadar Edgar menekan kaki Hazel yang sakit.
“Akh, jangan ditekan seperti itu!” refleks Hazel menepuk bahu Edgar dan menatap pria itu tajam kala Edgar malah menekan kakinya yang sakit.
“Maaf,” gumam Edgar dengan wajah tanpa dosa.
“Aku haus, tapi kakiku keseleo. Bagaimana ini?” keluh Hazel sangat merepotkan.
Edgar menghela napas berat. “Kembali ke rumah saja?” usulnya.
Hazel tampak berpikir sejenak. “Lebih jauh pulang ke rumah atau ke tempat membeli minum seperti yang kau katakan tadi?”
“Rumah,” jawab pria itu singkat.
“Kalau begitu kita beli minum dulu,” pungkas Hazel final dan tak mau diganggu gugat.
“Kaki anda kan sakit.”
“Ya, apa gunanya ada dirimu? Kau kan bisa menggendongku,” sahut Hazel langsung.
“Baiklah.” Edgar kembali mengalah lagi. Pria itu berjongkok memunggungi Hazel dan menepuk punggungnya sendiri. “Naiklah, Nona.”
Dengan perlahan, Hazel menaiki punggung Edgar, ia melingkarkan tangannya di leher lelaki itu dan meletakkan kakinya di depan.
Dengan gerakan pelan, Edgar berdiri dan membawa Hazel seraya memegang kaki gadis itu.
Di belakang, Hazel tersenyum lebar. Lima belas menit berlari sudah membuatnya lelah, jika digendong seperti ini memang ada untungnya, ya. Ia jadi tidak lelah lagi.
Tuk!
Kepala Hazel nemplok di bahu Edgar, hembusan napasnya berembus di leher pria itu. Membuat Edgar merasa sedikit geli, namun ia tidak mengeluarkan suara protesan apapun. Edgar tetap berjalan menuju salah satu cafe yang ada di simpang jalan. Cafe yang menyediakan berbagai jenis hidangan dan macam minuman.
Tiga menit kemudian, langkah Edgar terhenti di depan pintu cafe.
“Turunkan aku,” bisik Hazel. Ia merasa malu, terlebih ada beberapa pasang mata yang mengarah pada mereka.
Edgar merunduk dan menurunkan Hazel dengan hati-hati. Pria itu membuka pintu cafe dan masuk dengan menggandeng Hazel yang berjalan tertatih-tatih. Hazel benar-benar jago dalam urusan merepotkan Edgar.
“Anda mau pesan apa?” Edgar memberikan buku menu berukuran kecil pada Hazel yang sudah duduk dengan nyaman di kursinya.
“Air putih saja.”
“Sarapannya?” tanya pria itu lagi.
Hazel kembali melihat menunya. “Waffle saja, soalnya di atasnya ada ice cream.” Seperti biasanya, Hazel susah untuk menolak menu Es krim yang terpampang di buku menu.
“Tidak baik mengkonsumsi es di pagi hari, apalagi baru selesai olahraga,” tegur Edgar dengan sangat tegas.
“Lama-lama kau cerewet juga ya, Ed. Persis seperti Mommy yang melarangku ini dan itu,” dengusnya.
Selama beberapa detik Edgar bungkam, hingga akhirnya ia kembal bersuara. “Pilihlah, Nona. Biar setelah sarapan kita bisa pulang.”
Hazel mencibir pelan. “Kenapa buru-buru sekali? Kita saja baru tiba.”
Baiklah, Edgar merasa Hazel benar-benar menguji dirinya. “Lebih cepat lebih baik, Nona. Agar setelah itu kita juga bisa mengobati luka anda.”
“Hm, benar juga. Ya sudah aku mau croissant dan pancake.”
Edgar mengangguk, lantas pria itu meninggalkan meja mereka untuk memesan di kasir. Setelah memesan dan membayar, Edgar kembali.
“Ed, nanti bagaimana mengobati kaki, ya?” Hazel menatap Edgar bingung. “Haruskah kita ke rumah sakit?” lanjutnya.
Edgar menggeleng samar. “Tidak perlu, saya bisa memijit kaki anda.”
“Yang benar?” Hazel tampak meragukan skills Edgar yang satu itu.
“Ya, benar. Nanti anda bisa lihat sendiri.”
Setelah itu keheningan melanda mereka. Di dalam hati, Hazel menyayangkan dirinya yang tidak membawa ponsel. Ia jadi tidak tahu akan melakukan apa. Namun untungnya, kebosanan Hazel hanya berlangsung lima menit. Sebab pesanannya telah diantar.
“Selamat menikmati sarapan anda, Tuan dan Nyonya.”
“Terima kasih.” Hazel menyahut dan pelayan itu pergi.
“Selamat makan, Ed!” serunya tanpa menatap Edgar, di mata Hazel yang paling menarik sekarang ini adalah waffle dan pancake nya.
“Ya, selamat makan.” Keduanya menguyah dan makan dalam keadaan kembali hening.
Beberapa menit kemudian piring mereka telah bersih, semua makan telah habis. Hazel merasa tadi sangat percuma lari pagi, sebab ia sarapan dua porsi barusan.
“Mau langsung pulang, Nona?” tawar Edgar.
“Tunggu turun dulu.”
“Apanya, Nona?”
“Makanannya.”
“Sekarang makanannya di mana, Nona?”
“Di lambung.”
“Berarti sudah turun, kan?”
Hazel berdesis kesal. “Ish kau ini, banyak tanya sekali. Kalau aku bilang tunggu, ya tunggu dulu, Ed.”
“Iya, Nona, iya.”
Edgar melakukan apa yang Hazel inginkan. Ia menunggu Hazel puas untuk menurunkan makanannya yang sudah berada di dalam perut.
“Tapi, Ed, bagaimana aku pulang? Sedangkan kakiku masih terasa ngilu.”
“Saya gendong lagi.”
Hazel melirik sekitarnya yang cukup ramai. “Tapi malu.”
“Tidak usah malu, Nona. Mereka tidak mengenal kita dan kita pun sama, abaikan saja,” balas pria itu dengan santai.
Kok bisa, ya, ada orang sesantai Edgar??
“Ugh, baiklah. Ayo pulang!”
Edgar berdiri dan berjongkok di sebelah Hazel. Dengan mengabaikan tatapan pengunjung cafe lain, Hazel kembali melekat di punggung Edgar. Tak lupa ia melilitkan kedua tangannya di leher lelaki itu dan juga melilitkan kakinya di pinggang Edgar.
“Jalan yang cepat, Ed,” bisik Hazel.
“Iya.”
Edgar keluar dari cafe dengan langkah lebarnya. Dan sekitar berjarak sepuluh meter dari cafe, barulah ia memelankan langkahnya dan berjalan seperti jalan santai.
Setibanya di rumah, Hazel langsung didudukkan di sofa ruang tengah. Edgar meninggalkan Hazel dan mengambil kotak obat. Setelah itu ia kembali dan duduk di sebelah sang Nona.
“Kau benaran bisa memijit?” tanya Hazel sangsi. Ia malah jadi takut, bagaimana kalau Edgar malah memijit kakinya dengan keras dan ditekan?
“Bisa, Nona. Jangan khawatir.”
“Pelan-pelan saja,ya.”
Edgar mengangguk. Pria itu membawa kaki Hazel yang keseleo di pangkuannya. Edgar mengoleskan sebuah minyak di kaki putih Hazel. Dengan perlahan ia mengurut kaki sang Nona.
“Apakah sakit?” tanya Edgar saat ia menekan-nekan bagian keseleo sedikit.
Hazel menggeleng. “Tidak terlalu.”
Edgar mengangguk, sementara ini, ia memang memelankan intensitas pijatannya. Namun beberapa saat kemudian, Edgar menarik pergelangan kaki Hazel dan memutarnya sedikit hingga menimbulkan sebuah bunyi.
Krek!
“AAAAAKKH!” Refleks Hazel berteriak dengan nyaring dan memukul kepala Edgar.
“Aduh!” ringis Edgar seraya mengelus kepalanya yang menjadi sasaran pukulan Hazel.
“KENAPA KAU GITUKAN KAKIKU?” pekik Hazel marah.
Edgar masih saja mengelus kepalanya yang terasa sakit, sebab pukulan Hazel tidak main-main. Sepertinya gadis itu mengeluarkan seluruh tenaganya tadi.
“Sekarang bagaimana rasanya? Sudah jauh lebih baik bukan? Kakinya tidak ngilu lagi?” tanya Edgar beruntun, ia tidak mengindahkan pertanyaan penuh amarah dari Hazel.
Hazel menggerak-gerakkan kakinya yang masih berada di pangkuan Edgar. Perlahan senyumnya terbit lantaran tak lagi merasakan ngilu yang menyakitkan.
“Sudah jauh lebih baik, tidak ngilu lagi,” cengirnya.
“Bilang apa dulu, Nona?”
“Hah? Apa?”
Edgar mendengus. “Saya sudah mengobati anda, dan anda memukul kepala saya.”
Hazel ber-oh ria. “Oh iya, terima kasih banyak dan maaf. Tadi itu beneran gerakan refleks memukul, aku tak ada maksud lain.” Gadis itu menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf V.
“Lain kali, jika mau lari atau olahraga, pemanasan dulu biar tidak keseleo atau terjadi hal lainnya, Nona,” peringat Edgar.
“Iya, Ed, iya. Aku akan mengingatnya. Terima kasih.” Hazel menurunkan kakinya dari pangkuan Edgar dan mencoba berdiri.
Dan voila, rasa ngilu yang menyiksanya tadi kini sudah hilang.