Chapter 58

1555 Kata
Sore harinya, Hazel berencana akan berkuda mengelilingi sekitaran hutan. Tentu saja ia akan meminjam kuda milik Edgar. Siang tadi ia melihat seorang pria paruh baya keluar masuk kandang kuda. Ketika ia menanyakannya pada Edgar, pria itu mengatakan kalau pria itu adalah orang yang merawat kudanya. Memberi makan dan memandikannya. Hazel berjalan turun ke bawah. Ia sudah memakai kaos lengan panjang dan juga celana legging hitam. Penampilannya serba hitam. Niatnya ia ingin mencari Edgar untuk meminta izin meminjam kuda, namun ponselnya tiba-tiba berbunyi. Mengalihkan fokusnya. Senyumnya terbit dengan lebar kala melihat nama Gabriel di layar ponselnya. "Akhirnya kau menghubungiku, kak!" seru Hazel penuh kelegaan. "Maaf, dari pagi hingga siang aku berada di kantor dan sangat sibuk. Tidak ada memegang ponsel sama sekali," sahut Gabriel lesu. Mendengar suara tidak semangat dari Gabriel membuat Hazel merasa cemas. "Sekarang masih kerja? Lebih baik kakak istirahat dulu," sarannya. "Utamakan kesehatan, kak. Jangan terlalu memforsir diri sendiri, istirahat yabg cukup. Nanti kalau dipaksakan malah jatuh sakit," cerocos Hazel. "Iya, iya, aku mengerti. Sekarang bagaimana kabarmu di sana? Apa kau nyaman tinggal di sana selama dua hari ini?” tanya Gabriel. “Iya, nyaman. Edgar juga sangat baik padaku,” jawab Hazel jujur. “Dia tidak macam-macam, kan?” Nada suara Gabriel terdengar seperti memastikan. “Dia baik dan tidak berbuat macam-macam padaku. Kak Gab tidak usah khawatir," jawab Hazel dengan menenangkan. Hazel bisa mendengar helaan napas lega Gabriel. “Syukurlah aku memperkerjakan bodyguard yang benar-benar baik seperti dirinya. Pesanku padamu hanya satu, jangan terlalu menyusahkan Edgar paham? Hazel meringis samar. Jangan menyusahkan? Jika mengingat kejadian pagi tadi, ia benar-benar sudah menyusahkan Edgar. Tapi ia harap Edgar tidak kesal atau jengkel pada sikapnya yang satu itu. “Iya, kak. Aku juga akan lebih mandiri kedepannya.” “Baguslah. Ada lagi yang ingin kau katakan padaku?” Hazel menggigit bibir bawahnya. “Apakah Jacob sudah sadar, kak?” tanyanya dengan pelan. “Belum. Terus berdoa lah pada Tuhan agar ia segera bangun.” “Iya.” “Sebenarnya dua bulan lagi kalian akan menikah, kan. Sepertinya pernikahan kalian harus diundur, aku benar-benar menyesal.” Hazel tersenyum kecut. “Tidak, ini semua bukan salah kakak. Aku juga tidak masalah pernikahan diundur, lagi pula setelah sadar aku ingin Jacob benar-benar memulihkan kondisinya terlebih dahulu.” “Ya kau benar. Maka dari itu, selama di sana kau jangan sampai jatuh sakit, ya?” “Iya. Kak Gab juga harus lebih pentingkan kesehatan.” “Iya, bawel.” Tanpa Hazel sadari, di belakang Edgar mendengar percakapan Hazel dan Gabriel. Samar-samar ia juga mendengar bahwa pernikahan Hazel diundur, dan yang seperti yang ia harapkan tempo lalu, Jacob benar belum sadar hingga kini. Edgar pura-pura berjalan santai ketika Hazel telah  mengakhiri panggilannya. “Anda mau ke mana?” tanya Edgar basa-basi. “Aku ingin meminjam kudamu, boleh ya? Aku mau jalan-jalan santai di sekitar hutan,” ungkap Hazel dengan binaran mata yang penuh harap. “Err ... tidak baik jalan disore hari sendirian, Nona. Mungkin anda bisa pergi besok.” “Kenapa tidak baik? Aku bisa menjaga diriku sendiri kok!” keukeuh Hazel bersikeras. “Anda benar-benar ingin pergi?” Hazel mengangguk antusias. “Ya!!” “Bisa menunggangi kuda?” tanya Edgar terdengar tidak yakin. Raut wajah Hazel ikutan berubah meragu akan kemampuannya sendiri. “Em, bisa saja sih. Terakhir kali aku memacu kudaku di area yang luas dan aku tidak jatuh ataupun terluka.” “Kapan itu, Nona?” “Tiga tahun yang lalu,” cicit Hazel sembari meringis malu. Ternyata sudah lama sekali ya.  “Tapi aku beneran bisa kok! Aku tidak mungkin lupa cara berkuda,” lanjut gadis itu dengan sangat yakin. Edgar menghela napas berat. Ia sendiri tak percaya dengan ucapan Hazel. Terakhir kali menunggangi kuda tiga tahun yang lalu, dan sekarang ingin pergi sendirian. Nona-nya benar-benar sangat ajaib. “Saya akan ikut dengan anda," putus Edgar. “Aku bisa sendiri kok.” “Kalau begitu saya tidak mengizinkan kuda saya ditunggangi oleh anda,” pungkas Edgar tegas. Hazel memanyunkan bibirnya kesal. Kalau sudah diancam begitu, mana bisa ia protes lagi. “Baiklah, kita akan pergi bersama.” Edgar tersenyum. “Keputusan yang bagus. Kalau gitu ayo, Nona!” Hazel mengikuti langkah Edgar dengan lesu menuju halaman belakang dan kandang kuda. Gadis itu membiarkan Edgar mengeluarkan kuda hitamnya sendirian. Edgar mengeluarkan kudanya dengan hati-hati sembari mengelus-elus kepala kudanya. Hazel segera menghampiri pria itu dan mengelus rambut halus sang kuda. Kata Edgar, kuda ini jantan. Tapi di mata Hazel kuda ini sangat cantik, apalagai warnanya yang hitam legam dan tampak berkilauan di bawah sinar matahari. “Naik sekarang, Nona?” tanya Edgar yang langsung diangguki Hazel. Edgar membantu Hazel untuk duduk di atas kudanya. Setelah Hazel berpegangan erat dengan tali pengikat, barulah Edgar menyusul duduk di belakang Hazel. “Apa di sini ada lintasannya, Ed? Maksudku, apakah di sini ada jalan khusus dilewati kuda gitu?" “Bukan lintasan sih, Nona. Hanya sebuah jalan kecil yang bisa dilewati oleh kudanya. Anda benaran ingin ke hutan?” “Iya. Apakah di hutan ada tempat yang bagus?” “Tidak juga. Kita hanya akan menemukan hewan liar dan buas di sana,” jawab Edgar ngasal. “Benarkah?” “Entahlah, saya belum pernah lihat hewan buas di hutan belakang ini,” sahut Edgar acuh tak acuh. Hazel mendengus. Jawaban Edgar sungguh ambigu dan tidak jelas. “Apa lagi yang kai tunggu? Ayo jalan!” Edgar mulai mengambil alih tali yang sebelumnya ada di tangan Hazel. Dengan perlahan ia membuat kuda hitamnya melaju menuju hutan di belakang. “Ayo lebih kencang, Ed!” seru Hazel kegirangan. Edgar segera menurutinya, ia membuat kecepatan lari sang kuda bertambah. Tanpa pria itu sadari, dadanya menempel begitu dengan dengan punggung kecil Hazel. Posisi duduk yang tidak berjarak semakin membuat keduanya tampak sangat lengket seperti ada sebuah lem  yang merekat diantara mereka. Hawa sejuk ditambah dengan kecepatan kuda membuat Hazel merasa sangat dingin, namun ia juga menyukai sensasinya. Duk! Hazel baru menyadari bahwa posisinya begitu lengket dengan Edgar, dan ia baru sadar bahwa punggungnya menempel di d**a bidang pria itu. ‘Astaga, kenapa aku merasa deg-degan?’ batin Hazel tak habis pikir. Tanpa sadar ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik perhatian Edgar. ‘Jangan gila Hazel, ingat tunanganmu masih berjuang di rumah sakit,’ lanjutnya di dalam hati mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak goyah atau meleleh hanya karena ini. “Apa yang anda pikirkan, Nona?” tanya Edgar dengan suara serak yang tepat di telinga Hazel. Deg! Deg! Deg! Gerakan refleks Hazel yang menoleh ke samping membuat ia seperti menggali kuburannya sendiri. Pasalnya hidungnya jadi menempel dengan pipi Edgar. Jika di lihat dari jauh, mungkin ia seperti sedang mencium pipi Edgar. Dengan gugup, ia memalingkan wajahnya. Kini baru ia sadari, larian kuda hitam Edgar ini sudah melambat dan tidak sekencang tadi. Bahkan nyaris berhenti. “Em, se-sebaiknya k-kita kembali ke rumah, Ed,” ucap Hazel dengan terbata-bata. “Kenapa? Kita bahkan baru pergi berkuda lima menit, Nona,"protes Edgar dengan kebingungan. “A-aku lelah,” alibi gadis itu. Ia memalingkan tatapannya kala sadar bahwa Edgar menatapnya dengan intens. “Baiklah. Pegangan pada tali, Nona. Dan menyandar pada saya.” “Kenapa harus menyandar?” “Jika tubuh anda merunduk ke depan, posisi itu akan menjadi sangat tidak nyaman. Lebih bagus anda duduk tegak dengan menyandar pada saya seperti tadi,” balas Edgar santai. Mau tidak mau Hazel patuh karena ia tidak ingin badannya jadi pegal hanya karena posisi merunduk ke depan. Ia kembali menyandarkan punggungnya di d**a Edgar dan mencoba mengabaikan detak jantungnya yang mulai menggila. Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka memasuki kawasan halaman belakang dan kuda pun berhenti. Edgar turun lebih dulu dan mengulurkan tangannya. Hazel meletakkan tangannya di pundak Edgar, dan lelaki itu memegang pinggangnya. Edgar memegangi tubuh Hazel untuk turun. “Aku masuk duluan!” Hazel melangkah dengan langkah cepat meninggalkan halaman belakang rumah. Edgar hanya menatap kepergian Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan telapak tangannya memegang d**a kirinya, di mana jantungnya masih berdetak dengan kencang. Edgar sangat lega bahwa Hazel tidak menyadari detak jantungnya yang sempat menggila ketika mereka menempel. Pria itu menghela napasnya berat lalu memasukkan kembali kuda hitam kesayangannya ke dalam kandang. *** Hazel menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan perasaan yang campur aduk. Kilasan memori kejadian beberapa menit lalu kembali terputar di dalam benaknya. Kenapa bisa ia terlambat menyadari kalau ia menempel erat di d**a Edgar?! Hazel meringis malu, pipinya merona. Ia menepuk d**a kirinya pelan dan bergumam. “Jangan berdisko di dalam sana, nanti aku yang serangan jantung. Perhaluslah ritme detakanmu, Jantungku.” Namun, nihil. Jantungnya masih saja berdetak kencang. Dengan cepat Hazel meraih iPadnya dan membuka galeri foto. Ia melihat foto dirinya dan Jacob yang diambil beberapa waktu yang lalu sebelum terjadi kecelakaan. “Aku hanya mencintai Jacob. Wahai jantungku, jangan berdetak kencang ke Edgar!” peringat Hazel pada jantungnya sendiri. Dengan lamat-lamat ia memperhatikan wajah tampan Jacob di foto. Ia harus mengalihkan seluruh fokusnya pada Jacob. “Hanya cinta pada Jacob. Jacob dan Jacob. Baru setelah itu sayang kak Gabriel,” gumamnya. Hazel memejamkan matanya perlahan tatkala ia merasa sudah lebih baik. Jantungnya kembali berdetak dengan normal dan tidak menggila. Sepertinya, ia benar-benar harus menjaga jarak dari Edgar. Pasalnya, pesona Edgar ternyata juga oke dan sudah sekali ditolak. Hazel bodohnya baru sadar, bahwa bodyguard nya itu tak kalah tampan dari Jacob. Astaga, kenapa ia jadi membandingkan ketampanan Edgar dan Jacob?! Sepertinya ia mulai tidak waras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN