Keesokan harinya, Hazel kembali bingung hendak melakukan apa. Sebab, sejak selesai makan malam ia menghindari Edgar. Entah mengapa ia jadi deg-degan sendiri di dekat pria itu sejak selesai berkuda bersama.
Setelah sarapan beberapa menit yang lalu, ia langsung pergi ke kamar dan mengabaikan Edgar.
“Akh, aku bisa mati kebosanan di sini tanpa melakukan apapun!” gerutu Hazel geregetan sendiri.
Gadis itu menggigit kukunya dengan perasaan bimbang. Haruskah ia keluar dari kamar?
“Huaa, lagian kemarin kok mau-mau aja sih naik kuda bareng? Terus wajah Edgar kenapa tampan dan seksi begitu?” keluh Hazel uring-uringan tidak jelas.
Tok... tok... tok...
Hazel terkesiap, tubuhnya langsung menegak dan spontan menoleh ke arah pintu. “Ada apa?” tanyanya cemas. Ia yakin itu adalah Edgar, lagi pula siapa lagi yang tinggal bersamanya selain pria itu?!
“Anda mau makan buah kiwi dan apel? Kenapa di kamar terus? Tidak biasanya,” ujar Edgar dari luar.
“Aku sedang tidak ingin makan buah, Ed,” balas Hazel dengan suara sedikit keras.
“Anda kenapa? Sejak tadi malam kelihatan murung begitu, apa ada masalah?” tanya pria itu lagi.
Hazel dapat mendengar jelas nada kekhawatiran di nada suara Edgar, membuatnya semakin bingung hendak merespon seperti apa.
“Aku baik-baik saja!” seru Hazel setelah sekian menit bungkam.
“Bolehkah saya masuk? Saya akan memeriksanya sendiri.” Edgar benar-benar tidak menyerah rupanya.
“Tidak boleh!”
“Huft, saya tidak tahu apa yang sedang anda pikirkan. Tapi tidak baik mengurung diri seharian di luar. Anda bisa berolahraga atau berenang,” saran Edgar bijak.
“Ya, ya, ya, aku akan melakukan itu kapan-kapan. Sekarang kau pergilah Ed, jangan di depan kamarku. Lakukanlah hal lainnya,” usir Hazel..
“Baiklah. Kalau anda membutuhkan sesuatu, saya berada di bawah.”
“Iya, aku tahu!”
Perlahan Hazel mendengar suara derap langkah kaki menjauh dari kamarnya. Hazel bernapas lega lantaran Edgar sudah tidak ada di sekitarnya lagi.
‘Huaa, Mommy! Apa yang harus aku lakukan?’
***
Edgar membuka koran yang ia dapat dari pengirim koran pagi ini. Dengan di temani secangkir kopi, ia membaca beberapa berita terbaru.
Beberapa kolom berita memuat tentang nasib pianis terkenal yang tak lain adalah Jacob Similian. Lelaki itu masih betah dengan tidur panjangnya, dan tidak ada menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Omong-omong tentang Jacob, ia jadi teringat soal Hazel. Gadis itu bertingkah aneh sejak tadi malam. Apakah ia melakukan kesalahan? Kenapa ia merasa Hazel sedang menjauhinya? Padahal kemarin mereka terasa sangat dekat sekali, Edgar ingat betul.
Edgar menghela napas, sebuah pemikiran melintas di dalam benaknya. Kemungkinan Hazel uring-uringan atau bahkan murung mungkin karena kabar mengenai tunangannya yang entah kapan siuman.
Lagi-lagi, Edgar merasa kesal dan tidak suka ketika membayangkan Hazel sedang mencemaskan Jacob.
Drrttt... drrttt...
Edgar melipat korannya dan meletakkannya di meja, lalu ia meraih ponselnya. Nama Dedrick lah yang terpampang di layar ponselnya.
“Ada apa?” tanyanya to the point.
“Pasokan senjata dan laporan keuangan sudah selesai Tuan. Anggaran yang dikeluarkan untuk memasok senjata itu juga sudah dikeluarkan. Apakah anda ingin melihat barangnya secara langsung?” lapor Dedrick dari seberang sana.
“Tidak, aku tidak bisa ke London saat ini. Aku percayakan semuanya padamu, lakukan seperti biasanya. Jangan sampai gagal.”
“Baik, Tuan.”
“Apakah ada kabar di London sana, Ded?”
“Adik anda, belakangan ini mencari-cari anda. Saya tidak tahu juga motifnya apa, namun Ethan sempat bertemu dengan Eliana. Dan gadis itu mendesak Ethan agar memberitahu keberadaan anda sekarang, Tuan.”
“Ethan memberitahu Eliana?” tanya Edgar tajam.
“Tentu saja tidak, Tuan. Ethan memilih bungkam dan segera pergi meninggalkan Eliana,” balas Dedrick santai.
“Baiklah, itu bagus. Apa ada yang ingin kau laporkan lagi?”
“Perihal Tuan Gabriel, Tuan.”
“Ada apa dengannya?” raut wajah Edgar berubah serius meskipun Dedrick tak dapat melihatnya.
“Kemarin nyaris saja ia tewas karena diberi minuman beracun.”
“Apa?! Bagaimana bisa?”
“Jadi kronologisnya seperti ini, Tuan. Dari malam Tuan Gabriel lembur di kantornya, dan di pagi hari seseorang memberikan kopi yang berisi racun. Tuan Gabriel sempat menegaknya sedikit, dan untungnya keberuntungan dipihaknya, sebab ia merasa perutnya tidak enak dan langsung menyemburkan kopi itu tanpa menelannya sedikit pun.”
“Siapa yang berani memberi kopi beracun? Lalu keadaannya bagaimana?”
“Tuan Gabriel menderita sakit perut dan tenggorokannya terasa terbakar. Hingga siang hari ia berada di rumah sakit dan di sore harinya saya melihat ia sudah pulang ke rumahnya ditemani oleh Ansel. Dan yang memberi kopi itu adalah office boy di perusahaan, kini sedang diselidiki oleh kepolisian di kantor polisi,” jelas Dedrick panjang lebar.
“Apakah Hazel tahu masalah ini?”
“Em, sepertinya tidak Tuan. Lagi pula jika Nona Hazel tahu seharusnya anda juga sudah tahu dan saya tidak perlu menceritakannya pada anda secara rinci.”
Edgar memangut paham. Benar juga, berarti kejadian ini disembunyikan oleh Gabriel. Perkataan Dedrick juga tepat, sebab jika Hazel tau. Pasti kemarin gadis itu akan heboh dan memaksanya pulang ke London. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Hazel mengajaknya berkeliling dengan menggunakan kuda.
“Baiklah, terima kasih atas laporanmu. Tapi kau juga harus cari tahu siapa dalang aslinya dibalik kejadian kemarin.”
“Seriously?! Anda selalu ingin saya yang mencari tahu semuanya? Kenapa anda begitu peduli dengan keluarga Austen, terlebih kejadian yang menimpa Tuan Gabriel kemarin??” erang Dedrick dengan nada sedikit kesal.
“Patuhi saja perintahku, jangan banyak tanya dan protes. Kau mau gajimu dan jatah liburmu dipotong huh?” ancam Edgar.
“Baik, Tuan. Akan saya laksanakan, apakah ada lagi yang ingin anda ketahui?” tanya Dedrick dengan serius. Keluhannya tadi sudah menghilang lantaran ancaman yang diberikan Edgar.
“Tidak ada. Kalau kau lanjut bekerja sana.”
“Baik, Tuan.”
Tut!
Edgar segera memutuskan sambungan telepon. Pria itu menghela napas berat lalu pandangannya tertuju pada lantai atas. Hazel benar-benar tidak ada keluar dari kamar sekarang.
Sebenarnya apa yang sedang gadis itu lakukan? Tapi, kenapa pula dia jadi penasaran seperti ini?
Edgar tersentak, buru-buru ia alihkan pandangannya dari lantai atas karena melihat Hazel berjalan menuruni tangga. Dengan gerakan cepat, ia menyambar koran di atas meja dan menutupi wajahnya, terlihat sok serius fokus dengan kertas koran.
“Ed? Kau membaca koran?” Pertanyaan Hazel terdengar, memecah keheningan dan membuat Edgar tersekejut.
Edgar tersentak, ia menjauhkan koran itu dari wajahnya dan mengangguk kaku. “I-iya Nona.”
Hazel terkekeh pelan. “Benarkah? Apa tidak salah? Kenapa posisi korannya terbalik seperti itu? kau yakin bisa membacanya tiap kalimat di kertas koran dengan posisi terbalik?” senyuman miring terlihat di wajah cantiknya.
Edgar menatap koran di tangannya dan mengumpat di dalam hati. Sial, ia terlihat terlihat bodoh dan aneh saat ini.
“Saya bisa membacanya dengan keadaan terbalik. Itu adalah bakat terpendam saya yang lain, Nona.” Demi terlihat cool dan tidak dianggap aneh, Edgar melontarkan alibinya yang sedikit tak masuk akal.
Hazel tertawa pelan. “Terserahmu lah.”
Lalu Hazel berjalan meninggalkan ruang tengah. Gadis itu berjalan ke dapur dengan wajah yang masih diselimuti oleh senyum lebar lantaran masih ngakak dengan apa yang Edgar lakukan tadi.
Sejujurnya Hazel sedikit malu dan enggan menegur pria itu, namun mulutnya sudah sangat gatal tadi untuk mengomentari koran Edgar yang dalam posisi terbalik.
Tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar tidak tahan untuk tidak berkomentar tadinya.