Chapter 60

1869 Kata
Hazel sedang bersantai di sebuah kursi panjang yang terletak tak jauh dari kolam renang. Pagi harinya diisi dengan berjemur ditemani oleh secangkir kopi s**u dan satu buah novel. “Nona, ayo kita olahraga! Bagaimana pun juga anda harus olahraga dan jangan bermalas-malasan.” Tiba-tiba Edgar datang dan berdiri di hadapan Hazel. Lelaki itu berdiri di depan dan menutupi sinar matahari menerpa tubuh dan wajah Hazel. “Aku sedang berjemur, Ed,” tolak Hazel. “Saya mulai terpikir, ada baiknya anda mempelajari beberapa bela diri sekarang. Saya bisa mengajarkan anda memanah dan juga menembak.” Mendengar kata menembak, Hazel langsung menutup bukunya dan menatap Edgar serius. “Maksudmu, menembak pakai pistol?” tanyanya memastikan. Edgar mengangguk. “Ya, Nona.” “Eem, aku tidak begitu yakin bisa.” Kedua manik Hazel memandang Edgar ragu. “Saya akan mengajarinya. Ke mana-mana anda harus membawa senjata dan harus mengusai setidaknya satu senjata untuk membela diri anda sendiri.” “Kan ada aku, bodyguard-ku.” “Kalau saya tidak ada, bagaimana anda akan melindungi diri sendiri? Ingat, tidak selamanya saya berada di samping anda nanti. Lagi pula, anda tidak akan tahu ada di mana saja para musuh anda. Oleh karena itu ada baiknya berhati-hati dan mulai mempersiapkan diri dari sekarang,” terang Edgar dengan maksud tersembunyi dibalik kalimatnya. Hazel tertegun, apa yang dikatakan Edgar memang benar. Ia tidak selamanya terus bergantung pada pria itu. Akan ada masanya nanti Edgar tak lagi di sisinya dan ia harus menyelamatkan dirinya sendiri. “Baiklah, aku setuju.” “Pilihan yang bagus, Nona. Gantilah baju anda, saya tunggu di ruang olahraga di bawah.” Usai mengucapkan hal itu, Edgar berlalu pergi. Hazel menghela napas pelan. Sebenarnya ia malas, tapi ia harus memiliki bekal seni bela diri yang bagus juga. ‘Ayo Hazel bergerak! Jangan malas!’ batin Hazel menyemangati diri sendiri. Hazel memejamkan matanya dan bertekad, ia pasti bisa. Hazel membereskan sisa-sisa bungkusan biskuit dan meraih cengkir kopinya. Setelah membuang bungkusan biskuit, ia mencuci cangkir kopi yang digunakan. Setelah tidak ada yang kotor lagi, barulah ia menuju kamarnya untuk berganti baju. Hazel memakai celana cokelat selutut dan kaos yang mengepas di tubuhnya. Gadis itu berjalan cepat menuju ruang bawah tanah di mana Edgar sudah menunggunya. “Baiklah, apa yang akan kita pelajari sekarang?” “Judo.” Dahi Hazel mengernyit samar. “Bukannya tadi kau bilang padaku akan mengajari menembak?” Edgar menggeleng. “Kita bisa melakukan itu lain waktu. Tapi yang pertama anda harus bisa melawan dengan tangan kosong. Bayangkan, bagaimana jika anda berada di situasi berbahaya namun tidak ada senjata yang dibawa. Bagaimana anda akan melindungi diri anda sendiri?” Hazel mengangguk paham. “Ya, kau benar juga.” “Baik, saya akan mengajarkan dasar-dasarnya terlebih dahulu pada anda.” Hazel mengangguk patuh. Edgar membawa Hazel ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Ruangan yang dipenuhi oleh matras. Edgar pun menjelaskan hal mendasar dan juga teknik-teknik dalam seni bela diri Judo ini. Sekitar satu jam kemudian, sudah cukup banyak yang bisa Hazel pahami dan mempraktikkannya pada Edgar. “Anda sudah paham?” tanya Edgar memastikan. “Paham sekali, setelah ini apa lagi?” tanya Hazel antusias. Edgar berdehem, tak menyangka bahwa Hazel akan seantusias ini. “Karena ada sudah tahu dasarnya. Dekap saya dari belakang la-” “Hah? Apa maksudmu di dekap? Kau mau cari kesempatan, ya?” sela Hazel menatap Edgar dengan horor. “Bukan begitu maksudnya, Nona!” sahut Edgar geram bercampur gemas. Padahal ia belum selesai berbicara. Kenapa juga Hazel berpikir ia akan cari kesempatan?! “Lalu?” “Dekap saya dari belakang, anggap saja saya itu sandera dan anda adalah penjahatnya.” Edgar langsung memunggungi Hazel. Hazel bergerak maju mendekati Edgar dan mendekap lelaki itu dari belakang. “Seperti ini?” “Ekhem... Lebih kuat lagi, Nona.” Edgar melirik tangan Hazel yang melingkari tubuhnya. Rasanya ada gelenyar aneh, dan ia merasakan panas. Sesuai dengan perintah Edgar, Hazel pun menguatkan dekapannya. “Pindahkan tangan anda ke leher saya, buat seperti anda sedang memiting leher saya,” titah Edgar lagi, dengan sedikit gugup. Dengan gerakan tegas dan cepat, Hazel mengunci leher Edgar. Deru napasnya berembus di sekitar leher Edgar, membuat pria itu cukup merasa geli. Dengan gerakan cepat Edgar memegang tangan Hazel yang berada di lehernya lalu merundukkan tubuhnya sehingga tubuh Hazel terangkat ke udara dan terpelanting jatuh di depannya. Tanpa sadar, Edgar mengeluarkan kekuatan prianya tadi. “Akh, aduh!” ringis Hazel kesakitan. Ia merasa badannya langsung remuk seketika. “Kenapa kau keras sekali membantingku? Itu sangat sakit walaupun aku di atas matras,” ringis Hazel sembari memegang lengan dan juga pinggangnya. Edgar berdehem pelan dan menggaruk kepala belakangnya. “Maaf, tapi memang harus seperti itu Nona. Harus menggunakan kekuatan yang keras dan kuat.” “Tapi kan aku bukan penjahat benaran, Ed!” protes Hazel. “Sekarang gantian. Saya yang akan jadi penjahatnya, dan anda adalah sandera,” tukas Edgar mengabaikan protesan Hazel barusan. “OKE!!” balas Hazel semangat. Gadis itu merenggangkan otot tangannya dan tersenyum. Ia harus bisa melakukan hal seperti Edgar tadi. Buat Edgar terbang dan terpelanting di atas matras, seperti yang ia rasakan beberapa menit yang lalu. Ketika Hazel sudah bersiap membelakangi Edgar. Pria itu malah diam terpaku lantaran tak kuat. Jantung Edgar berdetak dengan kencang, rasanya gugup hendak memeluk Hazel dari belakang. ‘Memeluk, eh? Bukan memeluk, Ed! Tapi mendekap!’ suara batinnya menegurnya. 'Em, tapi bukannya sama saja? Memeluk dan mendekap?' batinnya kembali menyahut. “Apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja? Ayo coba lagi,” tegur Hazel menolehkan kepalanya ke belakang dengan sekilas. “I-iya, Nona.” Dengan gerakan pelan Edgar menghampiri Hazel dan mendekap tubuh perempuan itu dari belakang. Hazel melakukan percobaan memberontak hingga Edgar meletakkan tangannya di leher Hazel. Mengunci pergerakan gadis itu. Hazel langsung memegang tangan Edgar di lehernya dan menoba merunduk untuk membuat Edgar melayang dan terpelanting ke depan. Namun na’as, percobaannya gagal. Tubuh besar Edgar tak mampu diatasi oleh Hazel. Membuat Hazel oleng dan jatuh. Tidak hanya gadis itu yang jatuh, Edgar pun jadi ikutan jatuh dan menimpa tubuh sang Nona. Edgar segera menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Hingga posisinya sekarang seperti menindih Hazel yang jatuh terkurap. “Aku pasrah,” keluh Hazel lelah. Gadis itu menolehkan kepalanya ke samping dan tidak berniat bangun. Hazel tidak menyadari bahwa Edgar berada di atasnya karena ia tak merasakan apapun selain rasa lelah yang menderanya. “Tubuhmu terlalu berat untuk aku banting, Ed!” keluh Hazel. Tanpa tahu situasi, ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Edgar yang masih dengan posisi semula. Deg! “Astaga! Kenapa kau ada di atasku?! Aku kira kau sudah menyingkir!” pekik Hazel dengan pipi yang merah merona. Edgar jadi salah tingkah dan buru-buru berdiri. Pria itu mengusap wajahnya kasar, degupan detak jantungnya tidak bisa diatasi dan terasa semakin menggila di dalam sana. Hazel menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia malu sekali. Kenapa bisa ia tidak sadar jika di tindih Edgar?! “Se-sepertinya latihan kali ini cukup sampai di sini, Nona. Anda pasti lelah, kalau begitu saya permisi.” Edgar berjalan cepat meninggalkan ruang olahraga. Dari celah-celah jarinya, Hazel mengintip. Edgar sudah tidak ada di sekitarnya lagi. “Huft! Benar-benar memalukan!” Hazel menjatuhkan tubuhnya di matras lagi dan menatap langit-langit ruang latihan dengan perasaan lelah. Keringat sudah membanjiri tubuhnya. Tiba-tiba bayangan wajah Edgar berada di atasnya kembali terputar dalam benaknya. Dengan jelas tadi ia melihat wajah pria itu memerah, dan tatapan Edgar begitu intens padanya. “Ugh, kenapa kalau diingat-ingat dia tampak seksi?!” gerutu Hazel sambil memukul kepalanya. Jika begini terus, ia tidak yakin jantungnya akan aman. *** Edgar menutup pintu kamarnya dengan kasar lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Degupan jantungnya yang tadinya menggila kini sudah tenang. Kenapa bisa ia malah terjebak dengan hal yang ia buat? Padahal tadi ia hanya bermaksud mengajari Hazel beberapa seni bela diri yang pastinya akan sangat berguna. Namun ia malah dibuat bingung dengan perasaannya sendiri. Rasa yang selama ini tak pernah ia rasakan, dan belakangan ini ia dapatkan dari Hazel. Edgar tidak tahu pasti, namun tadi pagi ia membayangkan suatu hari ia akan membunuh Hazel. Mampukah ia? Edgar tidak bisa memastikan ia mampu atau tidak. Namun yang jelas, sebuah ide langsung tercetus tadi. Ide yang membuatnya bertekad untuk mengajari Hazel beberapa ilmu bela diri dan ingin mengajarkan gadis itu memegang dan menggunakan beberapa senjata. Tapi ... ketika ia sudah melakukan apa yang ia rencanakan. Mengajari Hazel Judo, kenapa malah ia jadi seperti ini?! Adakah yang bisa menjelaskan padanya?? Satu hal yang Edgar takutkan. Takut jatuh dalam pesona Hazel dan di kemudian hari tak mampu melenyapkan gadis itu dan juga Gabriel. “Apa yang sudah kau lakukan padaku, Haz?” gumam Edgar dengan satu tarikan napas. Pikiran Edgar mulai berkelana, membayangkan hari di mana ia akan mengeksekusi Hazel. Di satu sisi, timbul perasaan tak suka dan tidak ingin melakukannya. Namun di sisi lain ia teringat dengan keluarganya yang hancur. Satu hal yang bisa Edgar lakukan sekarang, yaitu membiarkan semuanya mengikuti alur. Entah bagaimana perasaannya nanti ke Hazel, ia harap tidak ada hal yang buruk terjadi. *** Di lain tempat... Gabriel membaringkan tubuhnya di kasur dibantu oleh Ansel. Hari ini tubuhnya benar-benar drop. Setelah dua hari yang lalu ia diracuni, kini ia malah terserang demam dan membuatnya tidak bisa bekerja secara maksimal. “Apa ada yang kau butuhkan lagi?” tanya Ansel. “Bawakan dokumen yang perlu aku tanda tangan ke sini, Sel,” pinta Gabriel. Ansel mendengus kasar. “Kau itu sedang sakit. Lupakan masalah pekerjaan itu sejenak dan istirahat. Lagi pula aku sudah mengosongkan semua jadwalmu.” “Aku ingat, ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani. Kau berani melawanku?” desis Gabriel tajam. Ansel mengangguk. “Ya, aku berani melawanmu. Kau mau apa hah? Mau aku adukan masalah ini semua pada Hazel di Bristol sana?!” ancam Ansel ketus. Gabriel berdecak kesal. “Sudahlah! Keluar kau dari kamarku,” usirnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara. “Baik, aku akan keluar. Sebentar lagi Julia akan mengantarkan bubur ke sini. Aku harap kau memakannya.” “Kau menyuruh Julia membuat bubur?! Dude, kau paling tahu kalau aku membenci bubur!” kesal Gabriel. “Itu baik untuk kesehatanmu. Aku sebenarnya heran, kau itu sedang sakit. Tapi kenapa masih sangat cerewet?! Diam dan tidurlah sana, aku akan pulang.” “Kau tidak bekerja? Mau ku potong gajimu, hah?” “Bagaimana bisa aku bekerja sedangkan Bosku sendiri sedang sakit. Pekerjaanku juga tergantung dirimu. Jika semua jadwal batal, otomatis pekerjaanku juga dipending,” balas Ansel seenaknya. “Gajimu aku potong sepuluh persen. Sekarang keluar!” “Nyenyenye.” Ansel memutar bola matanya malas. Gabriel jika sedang sakit memang seperti itu, rada aneh. Namun yang harus ia lakukan hanya bersabar. Palingan esok ketika gajian, gajinya tidak dipotong sepersen pun. Ansel sudah mengenal Gabriel sejak lama. Setelah kepergian Ansel, barulah Gabriel menutup kedua matanya. Ia menghela napas berat. Lagi-lagi ia sangat bersyukur karena tidak mati setelah kopi miliknya diberi racun. Jujur, Gabriel sedikit takut untuk menyesap kopi atau pun meminum sesuatu dari perusahaan sendiri. Bagaimana pun juga, kemarin pelakunya adalah karyawan yang tak lain adalah office boy di perusahaan. Kenapa ia tega sekali berkhianat?! Gabriel benar-benar tidak habis pikir. Di sekelilingnya, orang-orang dan para musuh semakin menggila saja. Ia harap Hazel baik-baik saja bersama Edgar di Bristol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN