Sama seperti hari sebelumnya, Hazel akan berlatih lagi dengan Edgar. Ia sudah bertekad untuk menahan perasaannya agar tidak goyah.
“Sebentar, Ed. Ada panggilan dari kak Gab,” ujar Hazel meraih ponselnya.
Edgar mengangguk dan membiarkan sang Nona menjawab teleponnya.
“Ada apa, kak?”
“Oh, kabarku sangat baik. Bagaimana dengan kakak?”
“Syukurlah, yang penting kak Gab tidak sakit itu sudah membuatku tenang. Aku dan Edgar memiliki aktivitas yang bermanfaat di sini.”
Hazel terkekeh pelan ketika mendengar keantusiasan Gabriel dari seberang. Namun senyumnya perlahan luntur kala mendengar Gabriel tiba-tiba batuk hebat.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
“Ada apa, kak? Kau baik-baik saja?!” tanya Hazel dengan nada sangat cemas.
Hazel tak mendapat balasan sebab Gabriel masih saja batuk di sana. Hingga beberapa saat kemudian terdengar balasan dari Gabriel.
“Aku hanya tersedak air. Jangan risau,” imbuh Gabriel dengan suara serak.
Hazel menghela napas lega. “Aku pikir akan terjadi sesuatu yang parah!”
“Apa yang kau lakukan dengan Edgar?” tanya Gabriel, mengurai rasa cemas berlebihan yang mendera Hazel tadi.
“Aku berlatih bela diri bersamanya dan mungkin aku juga akan diajari cara memegang senjata dan cara menggunakannya,” jawab Hazel jujur.
“Itu sangat bagus, Haz. Aku harap kau bisa dengan cepat dan bisa melindungi diri sendiri mulai sekarang, karena kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa.”
“Ya, kak. Aku tahu.”
“Kalau begitu berlatihlah dengan sungguh-sungguh, aku menyayangimu.”
“Aku juga menyayangimu kak. Stay safe dan jangan sakit,” pesan Hazel.
Setelah berpamitan singkat, sambungan telepon pun ditutup. Hazel menyimpan ponselnya di saku dan menatap Edgar. “Ayo kita latihan! Hari ini kau akan mengajariku apa?” tanyanya dengan penuh semangat.
“Sama seperti kemarin Nona. Bagaimana pun anda harus bisa melindungi diri tanpa senajata terlebih dahulu.”
“Baiklah, aku mengikut saja.”
Hazel dan Edgar berjalan beriringan menuju ruang olahraga yang berada di lantai bawah. Sebelum memulai, Edgar berdehem pelan. Pria itu berjalan menuju sebuah lemari dan mengeluarkan sebuah baju.
“Pakailah ini, Nona.”
“Untuk apa?” Manik Hazel menatap Edgar dengan heran.
“Anda seharusnnya tidak berlatihan Judo hanya dengan celana sependek paha. Lebih baik memakai baju yang memang khusus untuk latihan.” Edgar memaksa Edgar menerima baju atlet Judo berwarna putih gading.
“Baiklah, ini aku lapisi saja tidak apa, kan?”
Edgar mengangguk. “Iya, tidak apa Nona.”
Hazel dengan segera memakai baju tersebut di hadapan Edgar. Melapisi baju yang sebelumnya.
“Kita pemanasan terlebih dahulu,” pungkas Edgar yang diagguki Hazel.
***
Eliana menjatuhkan kepalanya dengan lesu di meja kerja sang Ayah. Matanya terpejam erat dan wajahnya menyiratkan kelelahan. Siang ini, setelah berkutat dengan pekerjaannya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah Aditama.
“Ada apa dengan wajah lesumu itu?” tanya Aditama santai sembari menyesap secangkir kopi hitam.
“Aku hanya ingin membantu pekerjaan Kak Edgar selesai, Pa. Tapi kenapa selalu gagal?” dengusnya kesal.
“Kenapa kau mau membantunya tanpa diminta? Sudahlah, biarkan Edgar melakukannya sendiri. Tak lama lagi pasti keluarga Austen hanya tinggal nama saja,” sahut Aditama tenang.
“Aku sudah menyuruh salah satu pekerja di perusahaan Gabriel, untuk meracuni pria itu. tapi kenapa tidak berhasil?! Seolah-olah nyawa Gabriel itu banyak, selalu saja selamat dari banyak hal yang aku ciptakan.”
“Bukankah Edgar dan aku sudah memperingatimu untuk tidak campur lagi?!” desis Aditama tajam. Lama-lama ia jadi kesal karena putrinya ini selalu saja ikut campur.
“Aku hanya ingin mempercepat semuanya. Dendam Papa sangat lama dituntaskan oleh kak Edgar, jadi aku membantunya sedikit. Lagi pula keberadaan Kak Edgar dan Hazel tidak diketahui di mana sekarang. Membuatku kesal saja!” seloroh Eliana dengan kesal.
“Jangan kau ikut campur lagi, jika Edgar tahu ia bisa marah besar padamu. Kau mau Edgar marah?”
Eliana menggeleng pelan. “Tapi aku mati penasaran, di mana sebenarnya keberadaan mereka?! Apakah Hazel sedang menggoda kak Edgar? Apakah mereka sedang bermesra-mesra?”
“Hilangkan dugaan tak masuk akal yang sekarang ada di dalam kepalamu, karena itu tidak akan terjadi.”
“Aku lelah, ingin tidur.” Eliana bangkit dan bersiap akan meninggalkan ruang kerja Aditama.
“Baiklah, istirahat yang cukup.”
Eliana mengangguk samar. Gadis itu berjalan keluar ruangan dan menaiki lantas atas menuju kamarnya yang ada di mansion ini.
***
Di siang hari yang tenang...
“Gab, aku pikir, ini sudah saatnya kau mencari pasangan. Agar kau tidak stres melulu,” ungkap Ansel tiba-tiba.
Gabriel yang sedang baring dengan nyaman sontak menolehkan kepalanya ke arah sofa yang diduduki Ansel, sahabatnya itu sedang berada di kamarnya.
“Aku tidak punya waktu untuk itu,” tukas Gabriel datar.
“Kau punya waktu! Hanya saja kau tidak memikirkan kencan atau apapun,” dengus Ansel.
“Aku tidak berminat dengan hal yang seperti itu.”
Seketika Ansel menatap Gabriel dengan horor. “Gab, kau normal, kan? Tidak belok atau tidak termasuk orang yang bergabung dalam komunitas pelagi?!” pekik Pria itu.
Ansel bergidik ngeri membayangkan jika Gabriel benar-benar belok.
Dengan asal, Gabriel melempar sebuah spidol yang ada di atas nakas ke arah Ansel. “Kau kalau bicara suka sembarangan! Aku itu normal!”
Ansel nyengir kuda. “Syukurlah, aku takut jika kau rada tidak normal. Lebih takut lagi kalau kau malah jatuh cinta padaku.”
Gabriel memasang tampang seakan ingin muntah. Matanya menatap Ansel dengan tajam/ “Dari pada mengoceh terus, ada baiknya kau mulai mengangsurkan dokumen itu padaku.” Gabriel menunjuk setumpuk dokumen yang ada di atas meja.
“Ah iya, tujuanku ke sini membawa pekerjaanmu. Tapi tunggu, tumben sekali kau ingin bekerja di rumah. Padahal kau sudah sembuh sejak pagi tadi.”
“Mood-ku sedang tidak baik, maka dari itu jangan membuaat masalah dan turuti saja perintahku!”
“Oke-oke.” Ansel mengambil beberapa dokumen di atas meja dan menyerahkannya pada Gabriel.
Gabriel mengubah posisinya menjadi duduk dan menerima beberapa map berisi kertas dokumen penting.
“Kau sudah baca semua ini?”
“Sudah, tapi kau bisa membaca ulang jika tak yakin.”
Gabriel mengangguk paham. Ia memilih untuk membaca isi dokumen itu dari awal.
Ketika Gabriel sedang fokus dengan kertas-kertas di tangannya, Ansel kembali berceloteh.
“Bagaimana dengan adikmu? Apakah di Bristol benar-benar aman?”
“Ya, dia baik-baik saja. Tadi aku sempat bertelepon dengannya, dia akan mempelajari beberapa ilmu seni bela diri dan juga cara menggunakan beberapa senjata.”
“Diajari oleh Edgar?” tanya Ansel memastikan. Ansel menatap Gabriel dengan penuh penasaran.
“Iya, lagi pula siapa yang bisa mengajari Hazel selain Edgar?”
Ansel memangut-mangut paham. “Ya kau benar juga. Ya sudah, ayo fokus baca berkas!”
Setelahnya Gabriel dan Ansel tidak lagi bicara satu sama lain.