Chapter 62

1939 Kata
Laila menyesap Hazelnut latte hangat miliknya, ia sedang menunggu Saka. Sesekali ia melihat ke sekeliling cafe yang tidak terlalu ramai. Orang-orang pada sibuk dengan aktivitas masing-masing.  Dengan bosan, Laila men-scroll sosial medianya untuk membunuh rasa bosan yang menderanya. “Hey, sudah lama menunggu?” Akhirnya Saka datang dan langsung mencium puncak kepala Laila dengan lembut. “Sekitar dua puluh menit,” balas Laila santai. “Maaf, pekerjaanku sangat banyak sekali tadi,” ungkap Saka tidak enak. “It’s okay. Jadi, apakah kamu bisa cuti dua hari?” tanya Laila dengan antusias. Ia harap kekasihnya ini dapat meluangkan waktu dua harinya untuk menemani dirinya ke Manchester. Laila berencana untuk mengunjungi sang Ibu sekalian memperkenalkan Saka pada keluarganya sebagai kekasih. Sudah lebih dua bulan mereka menjalin hubungan, namun kedua orangtua Laila hanya tau Saka adalah temannya sejak kuliah. “Aku bisa menemanimu. Aku sudah menyuruh sekretarisku untuk mengatur kembali jadwal-jadwalku.” Laila bertepuk tangan puas. “Baiklah. Kalau gitu, lusa kita jadi pergi.” Saka mengangguk. “Mau jalan bersamaku?” tawarnya dengan menaik turunkan alisnya. Laila mengangguk antusias. “Ke mana kita akan pergi?” “Ke apartemenku.” Dahi Laila mengerut dalam, merasa heran dengan tempat yang Saka katakan. Jalan-jalan kok ke apartemen? “Kau bilang jalan-jalan, tapi kenapa ke apart?” “Aku lapar, dan ingin memakan masakanmu. Jadi buatkan aku makanan setelah itu kita jalan,” balas Saka sambil nyengir kuda. Laila mendengus. “Dasar kau ini!” walaupun ia memasang tampang kesal usai mendengar jawaban Saka, Laila merasa sangat senang karena pria itu memintanya memasak. Berarti Saka sangat menyukai makanan buatannya. Hal itu cukup membuatnya sangat senang sekarang. Lagian, siapa sih yang tidak senang jika sang kekasih menyukai hasil masakan yang kita buat sendiri? “Ayo kita ke apart!” seru Laila semangat. “Sebelum itu kita berbelanja terlebih dahulu,” putus Saka. “Loh, di apart tidak ada bahan-bahan makanan?” “Of course not.” “Baiklah.” Saka menggenggam tangan Laila dan membawa gadis itu menuju mobilnya. Sesampainya di supermarket, Saka segera mengambil trolley belanjaan dan Laila melingkarkan tangannya di lengan Saka. Mereka sudah seperti pengantin baru saja. Saka hanya memperhatikan setiap barang yang dipilih baik oleh Laila dan mengamati ekspresi gadis itu ketika melihat-lihat setiap bumbu dapur. Kenapa ia baru menyadari bahwa Laila secantik ini sekarang? Ke mana saja dirinya beberapa tahun belakangan ini?! “Kau mau makan apa, Ka?” tanya Laila. “Apapun makanan yang kau buat pasti akan sangat lezat, La. Aku juga bukan orang yang suka memilih-milih makanan,” balas Saka santai. “Baiklah, aku akan membuat bulgogi, aku pernah membuat sekali karena baru mendapatkan resepnya. Jadi aku ingin kau mencobanya juga,” ujar Laila. “Bulgogi? Apa itu?” “Bulgogi itu olahan daging asal Korea. Daging yang digunakan antara lain daging sirloin atau bagian daging sapi pilihan. Minggu lalu aku menonton salah satu drama dari Korea, dan di drama itu ada menu bulgogi, jadi aku bereksperimen di dapur. Hasilnya cukup memuaskan menurutku, tapi sekarang aku ingin kau yang menilai.” Saka mengangguk dan tersenyum. Tangan pria itu terulur mengacak rambut Laila dengan gemas. “Aku pasti akan menyukainya, ah, aku jadi tidak sabar!” “Kalau begitu, aku akan belanja dengan cepat!” Laila mempercepat langkah kakinya, memilih daging sirloin yang segar dan juga beberapa bumbu. Beruntung ia masih ingat bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan. Setelah keperluan dapur selesai, Laila menatap Saka. “Apa ada hal lain yang perlu dibeli?” “Snack? Mie instan?” tanya Saka balik. Laila mencubit pipi kanan Saka gemas dan membuat lelaki itu meringis. “Tidak bagus makan snack mie, Saka. Kalau cookies itu tak apa.” “Tapi kan sesekali,” bela Saka. “Beberapa hari yang lalu aku melihat banyaknya bungkus makanan ringan di lemari makananmmu danjuga di tempat sampah. Kau memakan itu dengan jumlah banyak,” tukasnya galak. Saka menunjukkan cengirannya. “Baiklah, tidak jadi. Bagiku ini sudah cukup, mana tahu ada sesuatu yang kau inginkan?” “Es krim!” seru Laila. “Mendengar kata es krim, aku jadi teringat Hazel. Apa dia sekarang baik-baik saja?” celetuk Saka seraya mengusap dagunya berpikir. Saka melirik kekasihnya yang diam dengan raut wajah cemberut. “Hey, tidak perlu cemburu seperti itu. Hazel adalah sahabat kita.” Laila menghela napas pelan. “Aku tidak cemburu.” Saka tak langsung percaya. “Benarkah? Tapi kenapa wajahmu masam begitu?” “Ya aku kesal saja, masa kau ingat sekali dessert kesukaan Hazel.” “Wajarkan? Aku, kau dan Hazel sudah bersahabat lebih dari lima tahun. Jangan cemburu begitu, yang jelas di dalam hatiku hanya tertulis namamu saja.” Pipi Laila memerah. “Aih kau ini, jago sekali membuatku malu!” Laila berjalan cepat menuju kulkas es krim, meninggalkan Saka yang terkekeh geli. “Aku juga mau, tapi rasa yang matcha,” pinta Saka menyusul Laila. Laila mengambil satu kotak es rasa matcha yang dimaksud Saka. “Sudah?” tanya Saka. “Apa satu cukup untukmu?” lanjut pria itu. “Cukup, karena aku bukan Hazel. Kalau Hazel, mungkin ia sanggup menghabiskan tiga kotak dalam satu waktu,” kekehnya. “Ya, kau benar. Ya sudah ayo kita bayar!” Saka mendorong trolley menuju kasir. Setelah selesai berbelanja, Saka membawa plastik belanjaan mereka menuju mobil. Pria itu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju Apartemennya. Sesampainya di unit apartemennya, Saka masuk ke dalam kamarnya sementara Laila menyusun barang belanjaannya. Laila langsung menata berbagai bahan yang akan digunakan untuk membuat makanan siang ini. Gadis itu berkutat dengan seluruh bahan makanan dan peralatan dapur. Tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkari pinggang Laila. Gadis itu sempat terkejut beberapa detik lalu menoleh sekilas ke belakang. “Kau mengejutkanku!” Saka terkekeh. “Dari belakang aku melihatmu fokus memasak gitu, aku jadi ingin segera menikahimu. Seharusnya dari dulu saja kita berhubungan,” bisik lelaki itu. “Ini kau sedang melamarku atau bagaimana?” Dengan gerakan gesit, Saka mematikan kompor di hadapan Laila dan memutar tubuh sang kekasih. Pria itu mengambil kotak persegi berwarna hitam elegan di saku celananya. “Aku bukan pria romantis, La, dan kamu tahu itu. Tapi aku benar-benar ingin menjadikanmu Ibu dari anak-anakku kelak dan juga menjadikan kau istriku. Yang menemani hari-hariku hingga tua dan ajal menjemput.” Saka menatap manik Laila dengan dalam. “Jadi, would you marry me, Laila Kainila?” tanya Saka dengan sungguh-sungguh. Laila terpaku, matanya berkaca-kaca. “Kau melamarku disaat aku bau bawang seperti ini?” tanyanya lalu terisak pelan. Saka nyaris menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Laila. “Kau tidak bau sayang. Malah harum bawang bombay,” guraunya. Laila memukul lengan Saka pelan. “So, jawabannya?” Saka bertanya dengan wajah penuh penasaran dan tak sabar. “Tentu saja aku mau!” Laila langsung memeluk Saka erat. “Aku harus memberitahu Hazel tentang ini,” gumam Laila dengan bahagia. Saka tersenyum. “Kau bisa memberitahunya lewat pesan atau telepon. Lusa yang jelas aku ingin bertemu dengan Ibumu.” Laila tersenyum lebar. “Sekarang aku jadi tahu, kenapa kau bisa mengurus cuti dengan mudah. Pasti karena alasan ini juga, kan?” Saka terkekeh. “Yeah, you’re not wrong.” Lalu pria itu menyematkan cincin yang telah ia beli ke jari manis Laila. “Perfect,” gumamnya. “Baiklah, aku lanjut masak dulu. Seharusnya kau melamarku ketika kita makan tadi,” gerutu Laila kesal. “Aku sudah sangat tidak sabar, mulutku sangat gatal ingin mengucapkan kalimat itu,” balas Saka sembari terkekeh. Laila memutar kembali tubuhnya dan menghidupkan kompor. “Kita lanjut nanti, soalnya aku lapar dan kau juga begitu, kan?” Saka mengangguk. “Ada yang bisa kau bantu?” “Tidak ada, kau duduk manis saja okay?” Saka mengangguk patuh dan memberi ruang pada calon istrinya untuk memasak. Sekitar setengah jam kemudian, Laila telah selesai masak. Saka menata piring dan peralatan makan lainnya di meja makan sementara Laila memindahkan masakannya ke beberapa piring. “Televisinya harus ku matikan?” tanya Saka. Tadi ia sempat menghidupkan televisi yang tak jauh dari ruang makan karena kedua ruangan itu hanya memiliki sekat kecil. “Tidak perlu, makan sambil nonton juga tidak buruk,” balas Laila. “Okay.” Saka akhirnya mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Laila. Laila menyiapkan piring makan Saka, mengisi piring itu dengan masakan buatannya. Setelah itu barulah ia mengurus dirinya sendiri. “Aku suka seperti ini, La,” ungkap Saka. “Aku senang dilayani seperti ini, kau terasa seperti sudah menjadi istriku,” lanjut pria itu. Ucapan Saka yang penuh godaan jujur itu membuat jantung Laila menggila dan membuat pipinya merona. “Makanlah, Ka. Jangan menggodaku,” balas Laila pura-pura tak terpengaruh dengan godaan Saka. “Aku ingin kita menikah secepatnya!” seru Saka penuh semangat. “Maka dari itu, kau harus menjemput restu dari Ibuku dulu,” kelakar Laila. “Bagaimana kalau kita ke Manchester besok saja? Aku benar-benar tidak sabar.” “Sakaa!! Jangan terlalu buru-buru.” Saka terkekeh. “Iya, iya. Tapi setelah mendapat restu, aku ingin kita menikah bulan depan. Rencana yang bagus bukan?” Kali ini Laila mengangguk setuju. “Nanti kita bahas itu, sekarang mulai makan.” “Iya, Nyonya.” Pasangan kekasih itu melahap makan siang mereka dengan ditemani berita-berita terbaru yang sedang hangat terjadi. “Dunia memang kejam, bagaimana bisa psikopat itu tetap hidup setelah membunuh banyak orang?” komentar Saka. Baru saja muncul berita bahwa di London sedang maraknya kasus pembunuhan berantai. Hingga saat ini pelaku belum ditemukan dan masih dalam penyidikan. Korban pun tidak hanya satu atau dua orang, tetapi sudah ada delapan korban selama dua bulan terakhir. Benar-benar mengerikan! “Belakangan ini, lingkungan memang tampak tidak terlalu aman, ya?” sahut Laila. Saka menoleh. “Bagaimana kalau kau tinggal di sini, La? Aku akan mengantarmu kerja da nmenjemputmu. Kita tinggal bersama dan akan ku pastikan kau aman,” tawar Saka. “Enak aja. Kita bisa tinggal bersama setelah menikah nanti! Sekarang belum boleh,” jawab Laila langsung. “Yahh, ayolah. Mau ya tinggal bersamaku? Aku sendirian di sini,” bujuk Saka menunjukkan puppy eyesnya. “No, Saka.” Saka menghela napas. “Kalau begitu, kurang dalam sebulan aku pasti akan menikahimu.” Laila menyeringai. “Apa kau yakin akan diberi restu oleh Ibuku?” Saka pun bungkam. “Err ... pasti?” jawabnya terdengar ragu. “Katamu pasti? Tapi kenapa jawabnya ragu-ragu seperti ini?” tanya Laila heran. “Ah jangan membuatku pesimis gini, La! Pokoknya Ibumu pasti setuju, aku yakin itu,” pungkas Saka percaya diri. Laila tertawa. “Haha... baiklah. Jika belum mendapat restu, jangan menyerah okay?” “Tidak akan!” sahut Saka penuh keyakinan. "Aku mencintaimu," ungkap Saka tanpa ragu. Laila tak dapat menahan senyumnya yang mengembang dengan lebar. "Apa yang terjadi padamu hari ini? Jangan mengatakan hal-hal yang membuatku berdebar-debar." Saka mengulas senyum miring. "Perkataanku membuatmu berdebar? Itu bagus, berarti kau juga mencintaiku." "Ayo balas pernyataan cintaku," lanjut Pria itu sedikit mendesak. "Harus dibalas, ya? Kalau aku tidak mau bagaimana?" goda Laila. "Tidak adil!" sungut Saka kesal. "Loh, kenapa jadi tidak adil? Kan, aku tidak meminta kau mengucapkan hal itu," kekeh Laila. Saka mendengus. "Kau buat aku kesal, aku akan menciummu." "Hee, peraturan macam apa itu?" Laila menatap Saka dengan tatapan protesnya. Saka bangkit dari kursinya dan langsung mengunci pergerakan Laila dengan memegang ujung meja makan. Laila terperangkap diantara Saka dan meja makan. "Peraturan dariku," bisik Saka dengan suara berat. Laila merasakan bahwa sesuatu lembut menempel di bibirnya. Perlahan ia memejamkan mata dan membalas ciuman Saka. Kegiatan itu berlangsung selama tiga menit. Laila menjauhkan langsung wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ya ampun, ia malu sekali! "Bagaimana? Masih mau membuatku kesal?" tanya Saka dengan suara serak. "SAKAA!!" pekik Laila malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN