Hazel berlari keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan bathrobe dengan rambut yang basa. Ia meraih ponselnya yang sedari tadi berdering. Ternyata panggilan dari nomor tak dikenal.
Dahinya mengerut samar, siapa yang menelponnya?
Tidak ingin penasaran lebih jauh, ia segera menjawab panggilan tersebut. “Halo?”
“Akhirnya kau mengangkat telepon dariku, Haz!” pekik seseorang dari seberang.
“Laila?”
“Yes, it’s me. Kau tidak menyimpan nomorku?”
Hazel menyengir. “Maaf, aku ganti ponsel. Harap maklum. Em, bagaimana kabarmu di sana La?”
“Aku sangat-sangat baik, Saka juga baik jika kau juga ingin tahu. Bagaimana denganmu sendiri?” tanya Laila balik, nada suara gadis itu terdengar sangat riang di telinga Hazel.
“Aku sangat baik di sini. By the way, nada suaramu sedikit lain, apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Hazel dengan curiga.
“SAKA MELEMARKU, HAZ!! KEMARIN SIANG HUAAA!” teriak Laila begitu histeris dan sampai membuat Hazel menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Wahh, kalau gitu selamat!! Aku tunggu undangan pernikahan darimu, La! Bagaimana Saka melamarmu? Akh, aku jadi penasaran,” sahut Hazel ikutan heboh.
“Dia cukup romantis. Ugh, pokoknya gitu deh, Haz, aku sampai tercengang.”
“Selamat sekali lagi, aku harap kalian segera menikah. Tapi jangan lupa undang aku,” balas Hazel.
“Itu aman, aku ingin kau menjadi Bridesmaid-ku, Haz!!” seru Laila begitu riang dan semangat.
“Akan aku usahakan pergi ke London nanti! Aku juga jadi tidak sabar. Akhirnya temanku ini menikah!”
Hazel menjatuhkan dirinya di kasur, senyum juga tak lepas dari wajahnya. Seolah ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Laila.
Setelah bercakakp-cakap kurang lebih satu jam bersama Laila, akhirnya sambungan telepon mereka terputus. Hazel membuang ponselnya sembarang di ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar.
“Aku harap semua kembali normal, dan aku bisa bertemu Laila dan Saka,” gumam Hazel pelan.
Tok... tok... tok...
“Ada apa, Ed?”
“Sarapan sudah selesai, Nona.”
“Oh iya, sebentar lagi aku akan keluar.”
Hazel mendengar suara derap langkah kaki yang menandakan Edgar sudah pergi menjauhi kamarnya. Buru-buru ia mengambil kaos oversize di lemari dan juga celana pendek sepaha. Setelah itu, Hazel membiarkan rambutnya yang masih basah.
Hazel keluar dan turun, ia berjalan menuju ruang makan. Edgar sudah menunggunya.
“Kenapa anda lama sekali? Tehnya sudah dingin, mau dibuatkan lagi?” tawar lelaki itu.
Hazel menggeleng samar. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Edgar. “Tidak usah. Terima kasih sudah membuat sarapan hari ini.”
“Tidak masalah, Nona. Lagian anda terlihat sangat lelah.”
“Siapa jug ayang tidak lelah di suruh lari delapan keliling, push up dan latiha judo berjam-jam,” dengus Hazel.
“Itu semua demi kebaikan anda. Kalau bisa, hari ini kita latihan lagi,” kekeh Edgar. Pria itu merasa tak canggung lagi menunjukkan berbagai ekspresi yang ia miliki dihadapan Hazel.
Hazel memandang Edgar horor dan tajam. “Kau mau menyiksaku, ya? Pokoknya hari ini aku mau santai-santai saja. Capek tau!”
“Baru lari delapan keliling, Nona. Belum saya suruh dua belas keliling,” sahut Edgar santai.
“Dua belas keliling your head, Ed! Aku tidak akan mau. Kau lari saja sendiri,” tukas Hazel cemberut.
Edgar terkekeh geli. “Saya hanya bercanda. Ya sudah, anda sarapan dulu, Nona. Masih pagi, jangan memasang wajah cemberut seperti itu.”
“Ya, ini karena kau membuatku kesal.”
“Saya minta maaf kalau begitu.” Edgar langsung menyeruput kopi hitamnya dan matanya sesekali melirik Hazel yang mengunyah sandwich buatannya.
Setengah jam kemudian, mereka telah selesai makan. Karena pagi ini Edgar yang memasak, alhasil Hazel lah yang mencuci peralatan bekas makan pagi ini.
“Ed, kira-kira kapan kita bisa pulang ke London?” celetuk Hazel tanpa membalikkan tubuhnya. Ia masih sibuk membilas piring-piring.
“Tidak bisa dipastikan. Memangnya kenapa, Nona? Anda tidak betah di sini?” Edgar bertanya balik. Pria itu menatap punggung Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Bukan begitu, hanya saja Laila akan menikah. Aku ingin membantunya dan juga ingin menjadi bridesmaid-nya.”
Edgar bungkam. Ia sendiri tidak bisa memastikan kapan mereka akan kembali. Terlebih Edgar masih belum melakukan rencana besarnya.
“Kenapa diam, Ed? Benar-benar tidak bisa ya kita pulang?”
“Em ... sebenarnya bisa saja, Nona. Tapi tergantung kondisi juga, sepertinya kita hanya bisa pergi ke London beberapa jam saja. Tidak sampai menginap.”
Hazel menghela napas berat. Gadis itu mematikan keran air dan membuka sarung tangan khusus mencuci piring.
“Kenapa ini terjadi pada keluargaku? Sebenarnya, apa yang mereka inginkan sih? Mereka sudah mengambil kedua orangtuaku, kenapa mengincarku dan kak Gab?!” keluh Hazel dengan mata yang berkaca-kaca. Ia memandang Edgar dengan tatapan sayu dan hopeless.
‘Karena semua bermula dari para orangtua, dan aku menginginkan nyawa kalian,’ balas Edgar dalam hati.
“Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi, Ed. Apakah aku harus sembunyi selama puluhan tahun dulu? Atau sampai mati pun aku harus hidup dalam sembunyi-sembunyi? Ini tidak adil!” Airmata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya merembes keluar. Hazel menangis, tubuhny luruh jatuh dan terduduk di lantai.
Edgar memalingkan wajahnya ke samping. Entah mengapa ia tak suka melihat Hazel terisak seperti itu, tangannya yang berada di atas paha terkepal kuat mendengar isakan menyedihkan dari Hazel.
“Hiks... hiks...”
Edgar menarik napas pelan dan menghembuskannya. Pria itu berdiri dan berjongkok dihadapan Hazel.
Bahu rapuh Hazel tampak bergetar karena tangisnya. Suara tangisan yang terdengar sangat pilu di telinganya.
“What should i do, Ed?” tanya Hazel lirih. Gadis itu menangkup wajahnya dengan telapak tangannya dan kembali menangis.
Selama ini, Hazel memang menahan semuanya. Ia tak menunjukkan pada siapapun kalau ia sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Edgar bedehem pelan. Rasa tak tega memasuki relung hatinya, tidak tega melihat Hazel menangis meratapi nasib seperti ini.
Dengan berani dan tanpa ragu, Edgar mengelus puncak kepala Hazel dan menarik gadis itu kepelukan. “Jangan menangis lagi, Nona. Sesuatu yang baik pasti akan terjadi. So, don’t cry, Miss.”
“Aku hanya merasa bingung, heran, lelah, dan rasanya ingin bertemu dengan orang yang melenyapkan Daddy dan Mommy. Aku ingin tanya, alasan dia melakukan itu apa? Kenapa harus keluargaku? Apakah dia tidak berpikir bahwa tindakannya itu sangat jahat? Terlebih yang merasakan sangat kehilangan itu aku dan Kak Gab, sebagai anak.”
“Ssssttt, tenanglah, Nona. Semua akan baik-baik saja. Anda jangan menangis lagi, saya akan melindungi anda dari orang-orang jahat,” bisik Edgar lembut.
Kalimat yang begitu ringan diucapkan oleh pria itu, dan belum tentu akan terjadi. Karena Edgar lah neraka Hazel, Edgar lah sosok yang harusnya Hazel takuti.
Walaupun begitu, kalimat tersebut dapat membuat Hazel berangsur tenang dan tidak mengeluarkan air mata lagi.
“Maukah kau berusaha lebih keras lagi mencari pelaku atau pembunuh orangtuaku?” tanya Hazel menyodorkan jari kelingkingnya.
Edgar menatap jari itu lama. ‘Sayalah pelakunya, Nona,’ bati Edgar dalam hati.
“Saya akan menemukannya segera,” jawab Edgar setelah lama terdiam.
Mau sampai kapanpun, saya tidak bisa menemukannya, karena pelaku itu adalah diri saya sendiri.
***
Setelah puas menangis dihadapan Edgar, Hazel tertidur di pangkuan pria itu. Edgar menggendong tubuh Hazel dan membawanya ke kamar gadis itu.
Dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian, Edgar menidurkan Hazel di ranjang. Tidak lupa ia menyelimuti Hazel.
setelah memastikan posisi tidur Hazel nyaman, Edgar terduduk di lantai dengan mata yang memandang lurus ke wajah damai Hazel.
Pikirannya sedang kacau saat ini. Edgar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Melihat Hazel yang sedih dan menangis sendu, membuat hati kecilnya terasa tercubit. Edgar tidak ingin dan tidak suka melihat airmata keluar dari mata Hazel.
Tapi, pada akhirnya, bukankah ia yang akan sangat melukai gadis itu?
Lalu, bagaimana dengan perasaannya? Membayangkan tangannya menghunuskan pedang atau melesatkan peluru ke tubuh Hazel saja ia sudah ngeri sendiri.
Bisakah ia bertahan nantinya?
Hazel...
Hazel...
Hazel...
Seolah seperti mantra, Edgar mengulang menyebut nama Hazel di dalam hatinya.
Hazel, kenapa pengaruhmu terasa begitu besar padaku? Apa yang sudah kau lakukan?
Edgar mengacak rambutnya kasar. Pria itu berdiri dan menatap Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua manik Edgar jatuh menatap bibir pink alami Hazel.
Seperti ada yang menyuruhnya untuk merunduk. Edgar menundukkan tubuhnya dan perlahan bibirnya menempel lembut di atas bibir Hazel.
Kejadian itu hanya berlangsung lima detik, dan Edgar hanya menempelkan bibirnya. Setelah itu Edgar mengelus lembut rambut Hazel dan berjalan cepat meninggalkan kamar Hazel.
Sesampainya di kamar, Edgar membanting pintu kamarnya keras. "Sepertinya aku benar-benarsudah gila!" Edgar meremas rambutnya kuat.
Tangannya meraba bibirnya yang menempel di bibir Hazel tadi. Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan tadi?! Kenapa bisa ia berpikiran mencium Hazel?
Apakah Hazel merasakannya dan sadar?
Hazel tidak pura-pura tidur, kan?
Memikirkan itu cukup membuat Edgar uring-uringan.
Semoga Hazel tidak merasakan apapun! Ya, hanya itu yang bisa Edgar harapkan.