BAB 8 Hari Kedua MOS, Telat …

1660 Kata
Hari kedua MOS. “Ayo cepetan, Cho. Kita udah telat nih,” teriak Nara memanggil Matcha yang berlari di belakangnya. Pada akhirnya di SMA ini, Nara dan Matcha berangkat dan pulang sekolah bersama. Meskipun naik mobil sebenarnya Nara sudah lihai, tetapi mama dan papa baru mempercayainya “hanya” membawa sepeda motor sebagai transportasi ke sekolah. Semenjak Nara naik sepeda motor sendiri, dengan sukacita mama ikut mempercayakan Matcha untuk berangkat dan pulang sekolah bersama cowok itu. Atau lebih tepatnya lagi, sejak pulang sekolah kemarin Nara sudah berprofesi sebagai sopir ojek Matcha yang berkali-kali dibayar dengan cubitan karena waktu di jalan dengan tengilnya cowok itu tak berhenti usil menggoda Matcha. Saat ini mereka masih berada di area parkir sekolah khusus untuk sepeda motor. Pagi ini keduanya sampai di sekolah terlalu mepet, karena memang dari rumah sudah berangkat kesiangan. Nara bangun lelet karena kebiasaan liburan panjang kemarin. Dan sedihnya, Matcha harus dengan sukarela menunggu cowok itu atas ultimatum mama. Ultimatum mama yang di bumbui dengan kuliah pagi tentang pentingnya kesetiakawanan sosial nasional. Meskipun dengan muka cemberut, gadis itu menurut pada perintah Sang Mama untuk menunggu Si Kunyil lelet. “Gara-gara elo nih, Kun. Duh … padahal elo tahu kan gue payah banget  kalau di ajak lari-larian gini. Gue benci olah raga, Kunyil … “ gerutu Matcha yang berlari di belakang Nara. Mendengar kedumel Matcha, akhirnya cowok itu menjadi nggak sabar juga. Dia berhenti dan menunggu gadis yang dengan nafas tersengal-sengal berlari di belakangnya. Segera di raihnya tangan Matcha, dan bagaikan adegan di kejar kelompok gangster mereka berlari menuju lapangan tempat apel pagi di laksanakan sambil bergandengan tangan. Semua siswa sudah berbaris rapi ketika dua orang siswa “telatan” itu sampai di dekat kelompok kelas mereka. Apel pagi memang belum di mulai, tapi semua peserta sudah bersiap, termasuk para pengurus OSIS senior mereka yang berdiri di belakang tiap barisan. Hampir semua mata di kelompok kelas mereka dan kelas sebelah menyambut kedatangan dua orang siswa itu. “Kenapa kalian telat?” tanya Rama yang kebetulan juga sudah berdiri di belakang barisan siswa ruang tujuh yang menjadi tanggung jawabnya. “Maaf, Kak. Tadi ban sepeda motornya bocor,” ucap Matcha beralasan tanpa fikir panjang. Nara hanya diam saja, setuju dengan alasan yang di sampaikan Matcha. “Ban bocor atau berangkat sekolah sambil enak-enakan pacaran?” bentak Rama cukup keras. Emosi mulai sedikit menguasai jiwa Nara mendengar bentakan Rama yang menurutnya sangat tidak berperikemanusiaan itu. Sudah telat, capek lari, di bentak-bentak di depan umum lagi. “Kakak kalau ngomong yang bener ya, jangan asal nyeplos,” cetus Nara gagal mengendalikan diri. “Jangan mentang-mentang jadi senior, dong! Apel pagi juga belum di mulai, main bentak aja,” Matcha ikutan bersuara. Wajah Rama sedikit menegang menerima bantahan dari dua juniornya itu. Arah pandangan matanya tertuju ke tangan Matcha dan Nara yang ternyata masih saling berpegangan. Rupanya mereka berdua tidak menyadari hal itu. “Lalu, apa artinya itu?” bentak Rama sekali lagi menunjuk tangan Matcha dan Nara yang masih bergandengan dengan isyarat dagunya dan sorot mata marah. Dua orang tersangka itu mengikuti arah yang di tunjuk Rama, dan … “Mati aku!” rutuk hati keduanya dengan kata-kata yang sama. Spontan mereka saling melepaskan gandengan tangan. Wajah mereka berubah masam tak berani menatap lagi ke arah Rama. Keduanya menunduk, benar-benar menunduk menahan malu. Senyum geli akhirnya terbersit juga di wajah Rama yang mulai melunak. Cowok itu baru saja melirik ke satu arah dimana Rainhard sedang berdiri, dan cowok itu memberinya isyarat dengan anggukan yang berarti supaya Rama melepaskan dua junior mereka itu karena apel pagi segera di mulai. “Oke, segera kalian masuk ke barisan. Dan ingat, kalian sudah menyimpan satu hukuman. Begitu nanti sudah berganti seragam PDL, kalian temui Sisil. Kamu yang cowok push up 20 kali, dan kamu yang cewek jalan jongkok bolak balik dari sini ke sana 5 kali.” Meskipun dengan hati dongkol dua orang yang biasanya penuh dengan otak usil itu tak menyanggah. Mereka hanya terima nasib, berusaha supaya tidak menambah-nambah masalah lagi. Jelas saja mereka tak mau menderita malu di seantero penghuni lapangan pagi ini, karena insiden gandengan tangan itu sudah pasti bakal menjadikan mereka school celebrity of the year.   *****   Rainhard yang berdiri tak jauh dari barisan kelas ruang tujuh hanya senyum tersembunyi. Dari kejauhan tadi dia melihat dua orang itu berlari dengan saling bergandengan tangan. Dia cukup kasihan melihat wajah cantik Matcha yang nampak sekali sangat kelelahan. Pipinya memerah dan lelehan keringat nampak menghiasi kening gadis itu. Cowok itu merasa salut juga pada dua orang juniornya itu. Tanpa di sadari sendiri oleh Rainhard, diam-diam dia sudah memperhatikan dua orang itu sejak kemarin. Ketika pagi-pagi setelah Matcha tabrakan dengannya, cowok yang memiliki name tag “Nara Arya Adiswara” itu sempat bertemu dengannya. Tak berapa lama dia sempat mendengar godaan cowok itu yang kelihatan begitu usil pada Matcha. Begitupun pada waktu acara di aula pagi kemarin, Nara terlihat selalu berada di dekat Matcha. Beberapa kali Rainhard sempat tersenyum melihat tingkah konyol dua orang itu yang tak berhenti saling jahil. Dan keduanya pun ternyata mendapat kelas yang sama. Ketika Rainhard melakukan sidak dari kelas ke kelas, ternyata mereka duduk sebangku. Dari laporan Rama, dua orang itu memang memiliki watak usil yang sepertinya di level sama. Celoteh spontan mereka konyol dan membuat kelas selalu ramai. Terakhir pagi ini, keduanya kelihatan berlari bersama dari arah parkir dan akhirnya menerima kemarahan Rama. Meskipun sudah jelas-jelas di posisi salah, seperti sudah di komando kata-kata keduanya saling kompak melengkapi untuk membela diri mereka. Keduanya kelihatan cukup dekat, tapi Rainhard bisa membaca mereka bukan pacaran. Makanya tadi dia memberi isyarat pada Rama untuk membebaskan sementara mereka dari hukuman. Entahlah, nama dan sosok Matcha yang unik diam-diam menyita perhatian Rainhard. Wajah cantik tapi konyol dan selalu terlihat ceria.   ***** Bagi Nara, push up dua puluh kali itu hal yang biasa. Sangat berbeda dengan jalan jongkok lima kali yang di lakukan Matcha. Gadis itu terduduk di pinggir lapangan dengan wajah pucat. Nara yang melihatnya menjadi kasihan. Meskipun jahil, tapi melihat Matcha teraniaya seperti itu rasa iba muncul juga di hatinya. Nara hendak menghampiri Matcha ketika sebuah suara mencegahnya. “Nara, kembali ke barisan lagi,” suara itu datang dari Sisil yang menjadi pengawas hukuman Nara dan Matcha. “Tapi kasihan Matcha, Kak. Wajah dia pucat banget.” “Perhatian banget sih kamu sama dia, emang kamu apanya Matcha, sih?” pertanyaan Sisil yang sebenarnya sangat tidak perlu untuk di jawab. “Gue malaikat pelindung dia, Kak,” jawab Nara asal. Sisil menahan tawa gelinya, di depan Nara dia berusaha menampilkan tampang juteknya yang ngeselin. “Oh … ya udah malaikat pelindung Matcha, segera kamu balik ke barisan dan biar Matcha jadi urusan gue.” Melihat tampang tidak bersahabat yang Sisil tunjukkan, Matcha segera beranjak berdiri. “Gue nggak apa-apa kok,” celetuk Matcha yang baru berdiri dan segera mengambil tempat di samping Nara. Untuk menopang tubuhnya yang agak goyah, cewek itu mengaitkan dua telapak tangannya di lengan Nara. Sisil menatap aneh dan Matcha menyadarinya. “Gue sama Nara beneran nggak pacaran kok, Kak. Dia adalah malaikat pelindung gue,” ucap cuek Matcha sambil mengajak Nara jalan. Cowok itu sekuat tenaga menahan tawa hingga perutnya terasa kaku. Menurutnya Matcha benar-benar cewek yang unik, jelas-jelas dia merasakan tangan yang memegang lengannya itu terasa sangat dingin yang membuktikan kondisinya tidak fit. Tapi otak usilnya sama sekali tidak berhenti mengeluarkan ide dan celetuk ajaibnya. “Lo bener nggak apa-apa? Berkeringat dingin gini lho,” bisik Nara yang kali ini serius merasa khawatir. “Daripada gue jadi mangsa Si Bawang Merah, mending gue ikut anak-anak baris berbaris aja.” “Nanti kalau pingsan gimana?” “Kan ada elo.” Tangan Nara dengan jahil menarik rambut panjang Matcha yang terkuncir dua dengan tali rafia seperti kemarin. Sisil yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala, membiarkan mereka masuk kembali ke dalam barisan yang saat ini sedang di pimpin oleh Rama untuk melakukan kegiatan baris berbaris, pembukaan kegiatan di luar kelas hari itu. Diam-diam, sepasang mata dan sepasang telinga nimbrung, mengikuti kejadian kecil barusan. Senyum terukir tipis di bibir dari pemilik wajah tampan yang berdiri di antara barisan–barisan siswa baru itu.   *****   “Junior elo itu emang unik banget, Rain,” ujar Sisil yang duduk di hadapan Rainhard di dalam ruang OSIS yang berpenduduk tidak terlalu banyak di siang pulang sekolah hari ini. Rama yang berdiri tak jauh dari Sisil tiba-tiba meletakkan selembar kertas di depan Rainhard yang masih diam belum menanggapi komentar Sisil. Mata cowok itu terbelalak lebar, senyum tak bisa lagi dia sembunyikan dari bibirnya. Rama dan Sisil yang melihat reaksi Ketua OSIS mereka ikut tertawa terbahak-bahak. Mulai pagi tadi Rama ingin menyampaikan hasil karya juniornya di ruang tujuh itu, tapi Rainhard sangat sibuk dengan guru pembina OSIS mereka, hingga karya spesial itu baru bisa tersampaikan siang ini. “Tepatnya itu junior elo, Sil. Kan sesama cewek,” Rainhard akhirnya memperdengarkan suaranya. “Gila emang cewek itu, Rain. Bisa-bisa wibawa gue jatuh di depan banyak adik kelas kita kalau lama-lama ngadepin dia,” kali ini Rama kembali bersuara. “Betul, belum lagi kalau partnernya yang nggak kalah tengil itu udah berkolaborasi sama dia, bener-bener ampun deh,” Sisil ikutan mengeluarkan pendapatnya. Rainhard yang akrab di panggil Rain, jelas tahu siapa yang di maksud kedua temannya itu. Apalagi sebuah lukisan unik kini sudah sampai di tangannya dengan selamat. Pengin banget Rain segera menemui pencetus kata-kata konyol yang tertulis di bawah sketsa gambar cowok dengan rambut jabrik yang mirip dengan rambutnya itu. Dia ingin meminta pertanggung jawaban atas terbitnya lukisan itu sekaligus membuktikan cerita Sisil dan Rama mengenai betapa konyolnya cewek itu. Meskipun ketika hari pertama sekolah kemarin dia sempat menemukan sisi itu dari ucapan spontan gadis yang jika tertawa memiliki lesung pipi di sebelah kiri, tapi rasanya itu hanya se-per-sekian persen saja yang sudah dia ketahui. Biarlah gue bersabar beberapa saat sampai tiba waktunya besok dia menemui gue, dan semoga saja dia memilih menemui gue dari pada harus menerima hukuman karena kabur. Sebuah senyum terukir di bibir Rainhard saat ini. *****          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN