BAB 9 The Last Day Of MOS

1770 Kata
Tanpa terasa MOS sudah memasuki hari ketiga yang berarti adalah hari terakhir para siswa baru menerima gemblengan dari senior mereka. MOS berjalan cukup lancar tanpa adanya gangguan yang berarti. Mengenai hukuman-hukuman? Jelas Matcha dan Nara mencicipinya sampai kenyang. Sampai-sampai nama mereka berdua cukup di kenal oleh para senior dan teman sesama siswa baru. Keduanya memang menjadi sangat famous, tetapi kenyataanya bukan prestasi membanggakan yang membuat mereka terkenal, tetapi kolaborasi konyol yang membuat mereka menjadi cukup di kenal. Saat ini, kembali siswa baru sebanyak hampir 360 siswa itu di kumpulkan di aula sekolah. Upacara penutupan MOS dari pihak sekolah sudah selesai di lakukan tadi jam 10.00. Sekarang mereka hanya tinggal mendengarkan pengumuman-pengumuman penting dari sekolah mengenai mulai aktifnya tahun ajaran baru yang akan langsung di mulai esok hari. Sekaligus merupakan acara ramah tamah di penghujung MOS sambil menunggu dentang 12.00 saatnya jam pulang. Matcha resah dalam duduknya. Beberapa kali gadis itu melirik jam tangannya. “Kun, gue harus ya menemui Ketua OSIS belagu itu?” Nara diam tak langsung menjawab, cowok itu berpura-pura sedang memikirkan satu hal yang sangat penting. “Kun, cepet dong jawab, ini udah hampir jam 11, lho,” rajuk Matcha begitu Nara tetap diam tak mengeluarkan jawabannya. “Emhhhh … menurut gue sih, elo harus temui dia. Daripada kena hukuman lagi nanti pas pulang, kan kemarin-kemarin kita udah kenyang di hukum.” Matcha mendengus sebal mendengar jawaban Nara. Gadis itu ganti menoleh ke arah Rena yang kali ini juga duduk di sampingnya. “Kalau menurut elo gimana, Re?” “Menurut gue sih ya harus elo temui, daripada nanti elo nggak selamat pulang pas di gerbang sekolah.” Kembali Matcha mendengus sebal. Kembali di liriknya jam di pergelangan tangan. Hanya tinggal sepuluh menit lagi. Akhirnya dengan malas gadis itu beranjak berdiri. “Gue nyari dia dulu, ya,” pamit Matcha pada Nara dan Rena. “Semoga lo selamat. Pulangnya, di tungguin apa enggak, Cho?” “Kalau sampai lewat jam dua belas gue nggak hubungi elo, berarti elo tinggal aja deh, Kun. Kan Tante Anisa lagi sakit, mending elo pulang cepet aja.” “Terus elo pulangnya gimana dong?” “Ya Si Ketua OSIS itu harus tanggung jawab, dia wajib bayar ongkos taksi gue nanti. Udah ya, gue pergi dulu.” Nara dan Rena mengikuti kepergian Matcha dengan tatapan mereka. Matcha sendiri segera meminta ijin pada salah satu pengurus OSIS yang ada di sana sekalian menanyakan keberadaan Rainhard saat ini. Dengan langkah santai Matcha berjalan menuju ruang OSIS sesuai petunjuk kakak seniornya yang dia tanyain tadi. Dan begitu sampai di ruang tersebut, terlihat pintu ruang tertutup. Matcha mengetuk pelan. “Masuk.” Matcha mengenali suara itu. Segera di dorongnya perlahan pintu ruang OSIS. Di dalam di temukannya Rainhard sedang duduk menghadap laptop yang terbuka. Beberapa lembar kertas nampak berserakan di samping laptop. Sepertinya cowok itu sedang mengerjakan laporan pertanggung jawaban kegiatan OSIS yang di pimpinnya. “Selamat siang, Kak,” sapa Matcha berusaha ramah. “Siang, duduklah,” sahut Rainhard sambil menunjuk sebuah kursi yang berada tepat di depannya. Mereka duduk berhadapan dan hanya terhalang sebuah meja kerja, persis seperti sesi interview di kantor-kantor pelayanan publik. Matcha terdiam beberapa saat, di perhatikannya Rainhard yang masih menunduk terlihat sibuk dengan laptopnya. Tak berapa lama kemudian cowok itu mengangkat wajah dan mulai menutup laptop di depannya. Senyum tipis yang tidak kentara menghias bibir Rainhard saat ini. “Jadi, kamu masih tertarik mendengar kisah petir dan rambut gue?” tanya Rainhard to the point sambil menatap lurus ke arah gadis di depannya. “Sebenarnya enggak sih, Kak. Hanya saja gue nggak mau dapat hukuman konyol lagi di hari terakhir MOS ini.” Rainhard tertawa, membuat wajahnya nampak sangat berbeda dengan wajah Rainhard yang Matcha temui pada pagi di hari pertama sekolahnya kemarin. Wajah kemarin itu terlihat datar dan mengesalkan, sangat berbeda dengan wajah tenang penuh hiasan tawa yang nampak di hadapannya kini. Matcha terdiam, sibuk dengan fikirannya sendiri. Jujur, dia cukup terpesona melihat wajah tertawa Rainhard saat ini. Dan beberapa saat pula Matcha melihat Rainhard sedang memperhatikannya dengan seksama. “Kenapa Kakak lihat gue seperti itu, karena gue cantik ya, Kak?” tanya Matcha dengan PD nya yang over dosis. “Iya, elo cantik. Sadar diri ya kalau cantik?” Tanpa bisa menahan, Matcha yang sedari tadi memasang wajah jutek akhirnya tertawa juga mendengar jawaban polos Rainhard. Sejenak Matcha memperhatikan ruang OSIS yang sepi dan hanya ada mereka berdua saja. Dan sepertinya Rainhard mengerti kekhawatiran Matcha. “Meskipun elo cantik, gue nggak akan nekat ngelakuin apa-apa sama elo, jadi tenang aja.” Kali ini Matcha tersipu, rona merah menjalar di pipi mulusnya. Rainhard tidak mau melewatkan pemandangan indah di hadapannya saat ini. Diam-diam mata tajamnya menyimpan ekspresi wajah malu itu dalam memorinya. Perlahan Rainhard mengeluarkan selembar kertas bergambar di hadapannya. Cowok itu menyingkirkan laptopnya agak ke tepi dan membeber gambar itu tepat di depan Matcha. Gadis itu menjadi sedikit salah tingkah begitu tahu gambar itu adalah tugas melukisnya di hari pertama MOS kemarin. Dia sama sekali nggak mengira kalau gambar itu bakal sampai di tangan Rainhard. “Katanya elo udah nggak pengin tahu lagi kisah petir dan rambut gue, kan? Sekarang gue minta pertanggung jawaban elo atas gambar ini.” Matcha menelan ludah, antara bingung, malu dan nggak tahu jawaban apa yang harus dia kasih untuk Rainhard yang dia tebak akan menghujaninya dengan pertanyaan demi pertanyaan. Matcha terdiam beberapa saat, belum menemukan kalimat yang tepat untuk dia berikan pada Rainhard. “Matcha,” Rainhard memanggil nama gadis yang terdiam di depannya. “I-i-iya, Kak,” Matcha menjawab panggilan Rainhard dengan gagap. “Sepertinya elo sengaja bikin masalah sama gue dengan membuat gambar seperti ini, ya?” tanya Rainhard dengan nada penuh intimidasi. “Enggak, Kak. Serius gue nggak ada niat bikin masalah sama Kak Rainhard.” “Terus, tujuan elo bikin gambar ini apa?” Matcha hampir saja berkata jujur kalau gambar itu adalah hasil karya Nara, tapi dia fikir-fikir lagi sepertinya kok dia bersiap untuk melakukan *harakiri di depan Rainhard, ya? Bisa-bisa bukannya dia lolos dari tangan cowok itu, yang ada malah hukuman baru yang bakal dia terima karena ketahuan tugasnya kemarin bukan hasil karya dia sendiri. “Atau, elo hanya cari alasan supaya bisa kenal sama gue, atau mungkin juga cari alasan buat bisa balas dendam lewat gue karena sesuai laporan anggota pengurus OSIS selama MOS, elo sering kena hukuman?” Matcha terdiam. Entahlah, di kondisi seperti ini kenapa tiba-tiba saja otaknya terasa beku. Aduh … mana Matcha yang biang usil dan bisa nyeplos dengan seenak jidatnya seperti biasa? “Kok elo cuma diam aja sedari tadi?” “Kehabisan kata-kata, Kak.” “Oh, ngomong aja belum udah kehabisan kata-kata?” “Lah, yang mau gue sampaikan udah di omongin sama Kakak semua.”  Yuhuuu … Matcha asli mulai keluar nih. “Yang mana?” “Kakak amnesia dengan banyak kalimat yang udah Kakak sampaikan tadi?” “Emh … anggap aja begitu, sekarang elo boleh ngomong, silahkan.” Beberapa saat Matcha terdiam menyusun kalimat, “Dasar Ketua OSIS ngeselin!” batin Matcha ngedumel dalam hati. “Jadi begini, Kak. Gue emang cari alasan supaya bisa ketemu Kak Rainhard … “ “Panggil aja nama gue Rain,” potong Rainhard. “Ya, Kak Rain.” “Terus? Setelah ketemu gue?” “Ya gue pengin kenal sama Kak Rain, kan begitu Kakak bilang tadi?” “Terus?” “Sekalian gue mau balas dendam karena banyak di hukum waktu acara MOS.” “Oh … lalu?” “Tapi nggak jadi balas dendam, cuma pengin kenal doang aja, nggak tega soalnya. Terus, karena gue ingat kemarin Kakak minta maaf ke gue dan gue belum kasih maaf, jadi sekalian saya mau kasih maaf ke Kakak.” Sekuat tenaga Rainhard menahan tawa. Jika saja dia punya ijin khusus seperti Nara yang bisa jahil sewaktu-waktu pada gadis ini, mungkin tangan ini sudah terulur mengacak gemas rambut hitam gadis di hadapannya. “Jadi sekarang elo udah maafin gue?” “Iya, Kak. Sudah kok.” “Terus kenapa elo nggak tega balas dendam sama gue?” “Karena Kakak cakep lah … kan sayang kalau di hukum. Nanti keringetan, gel di rambutnya luntur, jadi ilang deh jabriknya, nggak keren lagi dong jadinya.” Tawa Rainhard hampir saja menyembur. Perutnya udah mulai kaku, gara-gara cewek di depannya ini dengan tampang tak berdosa berbicara dengan polosnya. Dia mengatakan itu tanpa memandang ke arah Rainhard, tangannya mengulak-alik kertas yang banyak bertebaran di atas meja. “Gitu doang alasannya? nggak nyambung banget dengan masalah gambar sketsa.” “Ya nyambung, Kak Rain. Kan di gambar itu tertulis kalau gue maafin dosa Kakak. Nah, itu alasannya, biar gue bisa ketemu Kakak, akhirnya bisa kasih maaf.” “Terus kata elo tadi mau kenalan juga sama gue, kok nggak ngajak kenalan pakai jabat tangan seperti pada umumnya?” Kampret deh. Dengan segera Matcha mengulurkan tangannya, dan Rainhard menyambut uluran tangan itu. Rainhard terkekeh geli melihat tampang setengah nggak rela yang terpampang di hadapannya. Matcha menatap heran, bingung kenapa tiba-tiba cowok itu malah terkekeh geli seperti itu? “Gue boleh panggil elo Chacha aja nggak?” tanya Rainhard, kali ini wajahnya terlihat ramah. “Boleh, orang-orang terdekat gue juga manggil gitu kok,” jawab Matcha berusaha menyunggingkan senyum manisnya, walaupun sedikit canggung. “Termasuk Nara, ya? Pacar setia elo itu?” “Idih, dia bukan pacar gue, Kak. Dia teman gue sejak bayi, rumah kita bersebelahan dan mulai TK sampai SMA kita satu sekolah. Malah, sampai SMP kemarin kita satu kelas, semoga saja SMA ini kita beda kelas.” Rainhard mengernyit takjub mendengar rentetan penjelasan yang keluar dari bibir mungil gadis itu. “Selama itu kalian bersama? Mulai bayi? Ckckck … “ Matcha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hoho … kenapa juga gue jadi banyak omong ke dia, ya? Matcha kembali beraksi tutup mulut, supaya cerita tidak banyak mengalir lagi dari bibirnya. Beberapa saat dia berpandangan dengan Rainhard. Sekali lagi dia memuji cowok di depannya ini. Cakep banget, dan sepertinya tidak semenyebalkan yang dia kira sebelumnya. Wajahnya mulai terlihat lunak dan lebih ramah.  Senyumnya bikin wajah datarnya menjadi lebih menarik. Rainhard juga membatin hal yang sama. Mengenai gadis yang saat ini duduk di hadapannya. Polos dan cantik. Sedikitpun tiada make up di wajahnya, bahkan bedak yang dia pakai tipis-tipis sepertinya juga sudah luntur. Rainhard menilai, gadis ini bukan pesolek dan tipe manja seperti kebanyakan cewek yang banyak ngedeketin dia selama ini. Satu hal yang membuat Rainhard tak bosan menatap wajah itu, bulu mata cantik melengkung ke atas yang menghiasi mata jernih yang seringkali terlihat berbinar karena keusilannya. Sepertinya itu yang membuat wajah ini selalu nampak segar dan ceria.   ***** -------- *harakiri : bunuh diri ala jepang  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN