“Terpesona sama gue?” tanya Rainhard tiba-tiba yang belum mengalihkan pandangannya dari Matcha.
Gadis itu memonyongkan sedikit bibirnya sehingga tampak lucu, “dikit,” pertanyaan Raihard masih tetap di jawab dengan nada cuek dan singkat oleh Matcha.
“Sudah biasa sih cewek-cewek terpesona sama gue. Tapi biasanya bukan tipe-tipe cewek usil seperti elo gini.”
“Hemmmh … usil itu emang udah dari sononya, Kak. Tapi meskipun gue usil tapi gue tahu kalau gue cantik. Emangnya Kakak nggak terpesona sama gue? Sedari tadi juga merhatiin terus.”
Rainhard kembali terkekeh geli. Pengin banget dia mengacak gemas rambut halus di kepala mungil yang saat ini tertunduk di hadapannya. Lagi-lagi gadis itu berbicara padanya dengan polos tanpa melihat ke arahnya, tangannya kembali asyik mengulak-alik kertas di hadapannya.
“Kalau gue bilang, gue terpesona sama elo, bagaimana?”
“Ya gue bilang, sudah biasa cowok-cowok terpesona sama gue, tapi biasanya bukan tipe cowok ngeselin kaya Kakak begini.”
Tawa Rainhard benar-benar meledak kali ini. Tapi untuk menjaga wibawanya, begitu sadar dia kembali diam berusaha menenangkan diri. Benar yang Rama bilang, bisa-bisa wibawanya jatuh jika menghadapi cewek macam Matcha terlalu lama. Belum lagi sisi unik gadis ini yang sungguh tampak nyata, persis seperti yang di sampaikan Sisil kemarin siang.
Tak berapa lama satu per satu para pengurus OSIS yang selesai bertugas di kelas mulai masuk ruang OSIS. Rupanya bel jam pulang sekolah untuk siswa baru sudah berdentang sepuluh menit yang lalu.
“Masih ada tamu rupanya?” celetuk Odi yang masuk bersamaan dengan Rama. Di susul Sisil dan yang lain di belakangnya.
Matcha melihat para seniornya itu satu per satu.
“Jadi, saya sudah bebas dari hukuman kan, Kak?” tanya Matcha dengan nada penuh harap.
“Siapa bilang?”
Beberapa pasang mata mulai memperhatikan obrolan senior dan junior itu. Salah satunya Rama, yang senyum-senyum melihat aksi temannya itu.
“Maksudnya, Kak? Ini sudah waktunya pulang sekolah, dan saya pasti sudah di tinggal pulang sama teman saya. Kakak harus tanggung jawab, ya.”
Karena banyak seniornya yang lain, Matcha menggunakan bahasa formal lagi ketika ngomong dengan Rainhard.
“Bentuk tanggung jawabnya?”
“Kakak harus bayar ongkos taksi saya untuk pulang.” Jawaban spontan itu membuat semua yang ada di ruang OSIS tertawa.
“Oke, akan saya bayar. Tapi itu artinya, elo belum bebas hukuman.”
“Kok gitu? Terus bagaimana supaya saya bisa pulang dan bebas hukuman?”
“Elo tadi sudah kasih tahu rumah lo, kan? Dan itu nggak seberapa jauh dari rumah gue. Jadi sekarang, elo pulang bareng gue, kebetulan gue bawa mobil hari ini.”
Semua yang ada di ruang OSIS itu tertawa sambil bertepuk tangan.
“Modus … modus … “ teriak dan cibir teman-teman Rainhard.
“Ayo, mau pulang sekarang atau nanti naik taksi gue bayarin, tapi pakai di hukum dulu beramai-ramai sama kakak-kakak di situ.”
Semua yang melihat dan mendengar itu hanya tersenyum penuh arti.
“Tapi kan, Kakak belum selesai ngerjain laporannya,” ucap Matcha berusaha mengelak.
“Ada Rama, wakil gue disini. Dia pasti rela ngerjain laporan itu buat gue.”
Tanpa berucap apa-apa lagi Matcha segera berdiri mengikuti langkah Rainhard yang sudah keluar ruang OSIS dan saat ini sudah menunggunya di pintu. Rama sendiri hanya mengacungkan jempolnya pada Rainhard yang mengedip samar ke arahnya.
“Sepertinya Rain bakal cinta deh sama cewek unik itu,” seloroh Odi yang di iyakan oleh hampir seisi ruang OSIS.
“Iya, jarang banget dia perhatian sampai mau ngantar pulang seorang cewek,” sambung Sisil.
“Jeli juga mata hati Rainhard ya, Matcha memang unik dan sangat menarik.”
Sebuah kertas bergulung nimpuk manis kepala Rama.
“Naksir juga nih, lo?” celetuk Odi yang melempar kertas itu pada Rama.
“Kalah pamor gue sama Rain,” dan semua tertawa mendengar perkataan Rama barusan.
*****
Matcha yang duduk di samping Rainhard yang menyetir dengan tenang tak beraksi apapun, hanya diam dengan tatapan lurus ke depan.
“Kok lo jadi diam, ngantuk ya?” tanya Rainhard membuka percakapan.
“Ngantuk sama lapar tepatnya, Kak.”
Rainhard tertawa mendengar celetuk jujur gadis di sampingnya.
“Mau gue traktir bakso?”
“Kakak kok jadi baik, sih? Bukannya tadi jahat sama gue, mau kasih hukuman segala?”
“Kan sudah lepas masa MOS, selesai dong jahat-jahatannya,” jawab Rainhard cuek sambil tetap memperhatikan jalan.
Matcha menoleh sekilas ke arah kakak kelasnya itu. Di lihat dari samping gini, dia kelihatan tambah cakep, puji Matcha dalam hati.
“Malah diam lagi, mau makan bakso nggak?” Rainhard yang sebenarnya tahu kalau sedang di perhatikan oleh Matcha kembali bertanya mengejutkan gadis itu.
“Mau deh mau, atau gue aja yang traktir ya, Kak? Kan Kakak udah baik hati ngantar gue pulang.”
“Nggak usah, lain kali aja. Kan jatah buat bayar taksi lo ini masih utuh, bisa buat makan bakso sepuasnya kan?”
Matcha tertawa dan Rainhard sangat senang melihat gadis itu sedang tertawa. Di belokkannya mobil ke sebuah depot bakso kecil di pinggir jalan.
“Elo nggak apa-apa kan makan di depot kecil pinggir jalan gini, depot ini cukup bersih dan enak, kok,” ujar Rainhard sebelum turun dari mobil.
“Dih, gue makan dimana aja oke kok, asal bersih,” jawab Matcha sambil memamerkan kembali seulas senyumnya.
Sambil menikmati semangkuk bakso dan segelas es jeruk, Matcha dan Rainhard bergurau sambil lalu. Tak ada lagi istilah senior dan junior. Dan, ternyata Rainhard seorang yang rame juga, hingga Matcha merasa nyaman bersama cowok itu.
*****
“Makasih ya, Kak,” ucap tulus Matcha sebelum menutup kembali pintu mobil yang berhenti di depan rumahnya.
“Sama-sama Cha, gue jalan dulu, ya,” pamit Rainhard dengan meninggalkan sebuah senyum manis yang ramah.
“Hati-hati ya, Kak.”
Begitu mobil Rainhard melaju meninggalkan jalan depan rumah Matcha, gadis itu segera balik badan berniat masuk rumah.
Suit … suit …
Matcha mendengar suara siulan jahil itu. Bola matanya berputar mencari arah sumber suara. Begitu tak di temukan sosok yang di carinya dimana-mana, Matcha segera mendongak ke atas, arah balkon rumah Nara. Benar saja, cowok itu senyum-senyum jahil sambil menjulurkan lidahnya.
“Yang habis di antar gebetan, suit … suit … ” Nara kembali menggoda Matcha. Gadis itu segera mengacungkan kepalan tangannya, kemudian segera masuk ke dalam rumah.
Matcha hendak naik ke lantai dua tempat kamar tidurnya berada. Namun sayup-sayup dia mendengar suara gemas Aya dari dalam kamar mama yang tak jauh dari tangga menuju lantai dua. Matcha membatalkan niatnya semula, langkah kakinya berbelok menuju kamar mama. Perlahan di dorongnya pintu kamar yang tidak tertutup sempurna itu. Benar saja, dilihatnya Aya tengah bermanja tiduran dalam pelukan mama. Gadis cilik itu berceloteh riang, sedangkan mama yang sambil melihat TV menanggapinya dengan sabar.
“Mbak Cha … ” teriak Aya girang begitu melihat kepala Matcha yang menyembul dari balik pintu.
“Aya kok ada di sini?”
“Aya tadi cari Mbak Cha, tapi kata Mama Julie, Mbak Cha belum pulang.”
“Pulang naik apa, Cha?” tanya Mama.
“Tadi bareng sama teman, Ma. Kok, Mama sudah pulang sih, papa mana?”
“Iya, tadi mama nggak banyak jam ngajar, kebetulan nggak ada meeting lain-lain juga, jadi bisa segera pulang. Papa ada meeting dengan rektorat, jadi mungkin pulang telat.”
Matcha mengangguk paham, pandangannya beralih pada Aya. Mata bulat bocah itu juga tengah menatapnya.
“Aya sini dulu, ya, Mbak Cha mau ganti baju, habis itu segera kesini. Kita nonton film kartun sama-sama, Mbak Cha punya DVD baru, nih.”
“Asyik … ” teriak Aya girang. Bagi Aya, rumah Matcha adalah rumah keduanya. Karena mama sedang sakit jadi tadi dia berniat main dengan Matcha, tapi yang di temuinya malah Mama Julie. Jadilah gadis cilik itu asyik bermanja pada Mama dari Matcha yang juga selalu memanjakan gadis cilik itu tak ubahnya putri kandung sendiri.
Matcha sudah menenteng DVD yang hendak dia putar di kamar mama. Dia sudah bersiap masuk ke kamar. Tiba-tiba di temukannya Nara sudah ada di dalam rumahnya di dekat kamar orang tuanya.
“Aya disini, Cho?” tanya Nara sambil celingak celinguk.
“Ada di kamar sama mama, kenapa?”
“Adik gue nggak lo apa-apain, kan?”
“Sinting lo, emang Aya mau gue apain? Yang ada elo yang mau gue apa-apain.”
“Ih, p***o nih anak. Ogah gue di apa-apain sama elo.”
“Dasar otak kotor.”
Tiba-tiba kepala Aya nongol dari balik pintu dan gadis cilik itu segera berteriak, “Mama Julie, ini yang ribut Mas Nara dan Mbak Cha.”
“Suruh masuk sini mereka, Ay. Ribut mulu siang bolong gini,” terdengar suara mama yang pura-pura marah. Matcha, Nara dan Aya segera masuk ke kamar orang tua Matcha yang cukup luas itu.
“Ada apa sih, Ra? Chacha berulah lagi, ya?” tanya mama dengan sabar.
“Chacha mau berbuat sesuatu kepada saya, Tan,” jawab Nara sambil cengar cengir.
“Hah?” Mama terkejut mendengar seloroh asal Nara barusan, bersamaan tangan Matcha yang menjitak keras kepala Nara hingga cowok itu mengaduh.
“Rasain, lo. Chacha nggak ngapa-ngapain kok, Ma. Kunyil aja yang suka usil.”
Nara terkikik geli, sedangkan Aya sudah kembali bermanja dalam pelukan Mama Julie.
“Aya biar disini aja, Ra, biar mama kamu bisa istirahat,” nasehat mama yang tahu kedatangan Nara adalah mencari Aya.
Nara menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Nggak apa-apa ya, Tan? Mama malah yang khawatir Aya ganggu istirahat Tante Julie.”
“Enggak, ini malah kita mau nonton DVD kartun bareng-bareng. Kamu mau ikut nonton sekalian? Sini deh.”
“DVD Chacha ya, Tan? Udah SMA dan udah punya gebetan masih suka nonton fim kartun?”
Kembali tangan Matcha terulur hendak menjitak kepala Nara, tapi cowok itu segera menangkap tangan Matcha.
“Dasar ember, usil, lo,” semprot Matcha.
“Gebetan Chacha?”
“Iya, Tan. Ketua OSIS sekolah yang cakep banget, Tan. Tapi lebih cakep Nara, sih, sebenarnya. Kan tadi dia di antar pulang sama dia, Tan.” Matcha mendelik sebal, tak kuasa menghentikan celoteh Nara.
Mama segera melihat heran ke arah Matcha dan gadis itu hanya bisa senyum-senyum canggung.
“Nanti aja Chacha cerita ya, Ma. Sekarang kita nonton filmnya dulu,” ucap Matcha sambil meringis, sembari tangannya menarik lengan Nara di ajaknya duduk di karpet kamar.
“Kunyil duduk manis sama Chacha ya, Ja-ngan Berrrr-ri-sik,” ucap Matcha dengan kata-kata penuh penekanan.
“Gebetan itu apa ya, Ma?” tanya Aya sambil menatap Mama Julie dengan sorot penuh tanya. Dan, Mama Julie hanya diam sambil menutup bibir Aya dengan jari telunjuknya.
*****