BAB 11 Classmate

1628 Kata
Matcha dan Nara berjalan santai keluar dari parkir sekolah. Mereka berjalan dalam diam. Lagaknya sih seperti sedang memendam beban fikiran yang sangat berat. Entahlah? Apakah mungkin mereka sedang berdoa, ya? Kan hari ini mereka mulai aktif belajar sebagai siswa SMA berseragam putih abu-abu, atau mungkin mereka berharap semua bisa berjalan lancar dan bisa menjadi siswa teladan yang membanggakan. -keepsmile- Indikasi kedua. Sesuai pengumuman di akhir MOS kemarin, pengumuman pembagian kelas mereka mulai hari ini bisa dilihat di papan pengumuman dekat mading. Sepertinya perkiraan inilah yang mendekati kenyataan. Matcha dan Nara sedang berdoa dalam hati, semoga di papan pengumuman nanti dalam satu lembar yang berisi daftar satu kelas tidak tercantum nama mereka berdua dalam satu urutan, seperti yang selalu terjadi dalam beberapa tahun kehidupan mereka kemarin. Kerumunan siswa berjejal di depan papan pengumuman. Beberapa saat keduanya hanya berdiri menunggu kerumunan itu merenggang. Namun semakin siang, bukannya semakin sepi malah semakin ramai. “Kun, elo maju deh, lihat pengumuman pembagian kelas. Tolong lihatin, gue sama Rena sekelas atau enggak.” “Dasar lo, terus gue nggak pakai lihat nama gue sendiri ada di ruang berapa?” jawab Nara diiringi dengan sebuah cibiran di bibirnya. “Ya jelas gue nggak perlu nama elo, buat apa coba? Kan gue butuh Rena, nggak butuh elo,” Matcha sengaja memancing perdebatan dengan Nara hingga akhirnya tanpa bersuara lagi cowok itu merangsek maju ke depan, menyibak kerumunan yang tiada berkurang. Dari belakang, Matcha berkali-kali menjinjitkan kakinya berusaha melongok mencari keberadaan Nara. Namun, kepala cowok itu sama sekali tak nampak olehnya. Berbeda dengan Matcha yang menunggu kabar darinya, di depan papan pengumuman Nara langsung melihat daftar kelas yang di mulai dari kelas 10-1 dahulu. Yups. Nggak perlu ribet lebih lama, di kelas 10-1 Nara sudah menemukan absensi Matcha di urutan absen nomor 15, pandangan matanya mengurut ke bawah. Taraaaa … Nara menjitak sendiri kepalanya, berlanjut dengan kedua tangannya yang menangkup kepala sendiri. Di urutan absen nomor 19 namanya ikut terpampang dengan manis. Nara menjadi enggan untuk memberitahu Matcha jika kondisinya seperti ini. Tak bisa dia bayangkan tampang jutek cewek itu yang pasti sekaligus segera menganiayanya seperti kejadian jaman SMP dulu. Seolah-olah, takdir mereka satu kelas adalah Nara yang menciptakan. Nara hendak balik badan keluar dari ruangan ketika teringat pesan Matcha untuk sekalian cek nama Rena apakah sekelas dengan Matcha atau enggak. Dari deretan namanya di urutan 19, Nara kembali menyusuri deretan nama-nama di bawahnya. Hwahhh … nafas cowok itu berhembus dengan sedikit lega. Meskipun untuk tahun pertama SMA dia kembali sekelas dengan Matcha, setidaknya wasit mereka -Rena- juga masuk di kelas yang sama, tepatnya di nomor absen 24. Sedikit PD Nara kembali melangkah keluar dari kerumunan siswa-siswa baru yang melihat pembagian kelas mereka. Matcha yang masih celingak-celinguk menunggu sosok tengil temannya itu terkejut ketika sebuah tangan menarik tas nya sampai dia terhuyung. “Kunyil … bikin kaget aja, lo, tiba-tiba muncul seperti siluman,” dumel Matcha sambil melihat jengah ke arah Nara. “Rena sama gue sekelas nggak, Kun?” tanya Matcha dengan antusias. Sorot matanya terlihat penuh harap. Nara menarik nafas panjang, tanpa segera menjawab cowok itu malah memainkan alis matanya naik turun. “Kun, jangan resek, lo, buruan kasih tahu dong.” “Kasih tahu nggak ya?” Nara masih bersikukuh menggoda Matcha. “Kunyil … “ “Pengin tahu ya? pengin tahu aja atau pengin tahu banget?” Nara bertahan dengan gaya usilnya. Hingga tangan Matcha terulur menarik hidung mancung Nara supaya menjadi lebih panjang seperti hidung Pinokio. Nara mengaduh kesakitan, sambil tangannya memegang tangan Matcha yang belum melepaskan jepitan di hidungnya. Banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka benar-benar terabaikan. Beberapa orang malah terdengar cekikikan, bisik-bisik mereka yang cukup mengenal dua orang sumber heboh sedari MOS kemarin itu sama sekali tidak masuk dalam perhatian keduanya. “Iya-iya, lepasin hidung gue dong, sakit nih.” Matcha melepaskan jepitannya di hidung Nara dan kembali sedikit tenang menunggu cowok itu bersuara. “Elo sekelas sama Rena, di kelas 10-1,” jawab Nara singkat, padat, jelas. Sorot senang langsung terpancar di mata Matcha. “Asyik … makasih ya, Kun. Gue cari Rena dulu kalau begitu.” Matcha sudah berbalik badan berniat meninggalkan Nara ketika sebuah tangan memegang lengannya menahan langkah. Gadis itu menoleh dan langsung bisa melihat wajah Nara, ternyata benar cowok itu yang menahan kepergiannya. “Apa sih, Kun? Mau ikut gue cari Rena?” “Elo nggak pengin tahu gue dapat kelas di ruang berapa?” Seolah baru teringat sesuatu, Matcha segera melontarkan pertanyaannya. “Oh iya, elo di ruang berapa? Kali ini elo nggak nuduh gue sebagai penguntit hidup elo, kan? Pasti kita nggak satu kelas lagi sekarang. Selamat Kun, hidup lo bebas dari cengkeraman gue.” Nara berdecak ringan. “Gue di kelas 10-1, tepatnya absensi nomor 19, dan elo absensi nomor 15. Kita masih di takdirkan bersama meskipun lebih selamat dari sebelum-sebelumnya karena absen kita nggak berurutan pas atas bawah.” Mata Matcha melotot seolah hendak copot. Dia nggak mempercayai pendengarannya barusan. “Pasti Kunyil ngaco deh,“ desis Matcha, hingga sebuah tangan lembut menyampir di pundaknya. “Cha, kita sekelas lagi sekarang, sama Si Kunyil juga,” suara Rena sudah terdengar dengan sangat cerianya di telinga Matcha. “Iyaaa … selamat ya Cha, Re … kita sekelas lagi. Bahagia deh … Weekkk … “ Nara segera melangkah menuju kelas mereka dengan sebelumnya menjulurkan lidah mengejek Matcha yang masih terdiam. God, what wrong with my class? Give me a patience, more and more. Barusan tadi adalah doa Matcha dalam hati. Matcha hanya bisa menenangkan dirinya sendiri. Terngiang kata-kata Nara yang seringkali terucap, “Gue adalah malaikat pelindung elo.” Hadeuh … apakah itu sudah benar-benar tertulis di buku takdir tanpa campur tangan manusia? Matcha melangkah ke kelas bagai robot dengan di tuntun Rena. Otaknya masih sibuk berputar menganalisa jalan hidupnya.   *****   Suasana kelas 10-1 ramai, ada yang sudah bercanda ngobrol bersama dengan teman sebangku mereka yang entah teman baru atau teman dari SMP. Ada yang masih berebut letak bangku dan ada pula yang hanya berputar-putar sambil tengok kanan kiri. Matcha dan Rena menuju sebuah bangku yang masih kosong di deretan nomor dua dari depan. Jadi, dalam kelas ini terbagi menjadi dua kelompok. Deretan depan adalah para cewek, sedangkan deretan bagian belakang adalah tempat duduk para cowok. Matcha baru saja meletakkan tas ketika Nara menghampiri bangkunya. “Cho, elo duduk sama gue aja, yuk.” “Ogah,” sahut Matcha cepat. “Lo nggak pantes, Cho, duduk di barisan depan gini.” “Maksud, lo?” “Lo pantesnya duduk di belakang sama gue, kan lo nggak jelas tuh, penampilan sih bener cewek, tapi tingkah lo? Meragukan!” Ceplak!!! Bukan tangan Matcha yang menggeplak badan Nara, tepatnya di bagian bahu cowok itu. Tapi kali ini Rena yang beraksi lebih cepat. Sepertinya cewek itu sudah gemas dan gerah pada mantan teman SMP nya itu. Bahkan belum genap sepuluh menit mereka masuk kelas, Nara sudah cari gara-gara dengan Matcha. Dan, sebagai wasit sebagaimana biasanya, sepertinya Rena memang harus segera mengambil tindakan. “Apaan sih, Re?” tanya Nara tak terima dengan perlakuan Rena barusan. “Tempat duduk lo dimana, sih?” tanya Rena tanpa memperdulikan protes Nara. “Situ,” jawab Nara sambil menoleh ke bangkunya. Rena segera menggamit lengan Nara dan di tuntunnya cowok itu berjalan menuju bangkunya. “Re, gue kan belum selesai ngomong sama Macho.” “Udahhh … ngomongnya di lanjut besok-besok aja, gue masih pengin hidup tenang, belum kangen sama tingkah konyol kalian berdua,” Rena cuek dengan penolakan Nara yang berusaha memberontak pengin balik ke bangku Matcha. Tepat ketika Rena berhasil mengembalikan Nara ke alamnya, seorang guru perempuan masuk ke kelas mereka. Gadis itu segera berlari menuju bangkunya. Dan, suasana kelas menjadi lebih tenang. “Selamat pagi, anak-anak,” sapa guru itu yang mendapat jawaban kompak seisi kelas. Senyum menghias bibir bergincu merah muda menyala ibu guru tersebut. “Kenalkan, nama saya Pingkan dan untuk satu tahun ke depan, Ibu di percaya untuk menjadi wali kelas kalian. Semoga kalian bisa menjadi anak-anak yang berprestasi selama menjadi anak didik Ibu.” “Baik, Bu … “ jawaban serempak kembali terdengar memenuhi kelas yang otomatis mendapat hadiah senyum dari bibir merah muda Ibu Pingkan. Matcha sudah senyum-senyum seorang diri. Otaknya sudah bekerja seperti biasa. Melihat bibir Bu Pingkan, seolah dia sedang melihat bunga mawar kesayangan mama yang sedang mekar. “Bu Pingkan,” panggil Matcha “Bu Pingkan,” ada suara lain yang terdengar bersamaan dengan panggilan Matcha, jelas sudah, itu suara Nara. Bu Pingkan melihat ke arah Matcha duluan. “Iya, ada apa? Sekalian sebutkan nama kamu untuk perkenalan.” “Nama saya Matcha. Saya cuma pengin sampaikan, Ibu Ping cantik dengan lipstick warna pink, cocok banget, Bu. Seperti warna bunga mawar kesayangan mama saya.” Semua yang mendengar seloroh Matcha mengulum senyum. Hampir semua siswa di kelas 10-1 itu masih mengingat siapa Matcha dan Nara. Bu Pingkan tersenyum, tanpa sadar Ibu guru itu mengedikkan bahunya. Bingung harus memberi balasan kata-kata apa. Kemudian pandangan Bu Pingkan beralih kepada Nara. “Kalau nama kamu siapa? Apa yang akan kamu sampaikan kepada saya?” “Nama saya, Nara. Saya tadi hanya pengin menyampaikan, nama ibu cocok dengan warna lipstick kesayangan Bu Pingkan, yaitu Ibu Ping dengan lipstick berwarna pink, jadinya Ping-Ping.” Deretan gigi mulai terlihat di masing-masing bibir penghuni kelas. Sekuat tenaga mereka menahan tawa, jangan sampai di hari pertama mereka belajar, sudah terjadi kekacauan. Bu Pingkan hanya geleng-geleng kepala. Di hari pertama beliau masuk ke kelas yang harus menjadi anak asuhnya setahun ke depan, sudah di temukannya dua manusia unik yang pasti akan menjadi sumber cerita untuk mengisi diary kesayangan Ibu guru. “Sudah, sekarang kita mulai dulu hari ini dengan saling memperkenalkan diri. Di mulai dari bangku paling belakang ujung kiri,” tutup Bu Pingkan mencegah terjadinya kehebohan yang lebih hebat lagi di pagi ini.   *****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN