Mentari masih bersinar garang meskipun jam sudah menunjuk setengah tiga sore.
Seisi kelas 10-1 sudah berkumpul di lapangan sekolah.
Bukan berarti mereka sedang di hukum di bawah terik mentari. Tetapi di sekolah ini, jam olah raga memang di luar jam pelajaran efektif. Pelajaran olah raga di laksanakan selepas jam sekolah yang berakhir di jam 13.30. Dengan jeda waktu istirahat selama satu jam, setelahnya kelas yang memiliki jadwal olah raga akan mengikuti pelajaran tersebut di mulai jam 14.30.
Selesai melakukan senam pemanasan, Pak Rusdi membawa murid-muridnya ke lapangan volley yang tidak jauh dari tempat mereka berkumpul saat ini. Beberapa menit sebelumnya guru olah raga itu memberikan sedikit pelajaran teori teknik olah raga bola volley. Kemudian satu per satu murid mulai bergiliran mempraktekkan pelajaran yang baru saja mereka terima.
Dari sebuah kaca jendela salah satu ruang di sekolah itu, tepatnya terletak di lantai dua yang kebetulan menghadap ke arah lapangan volley, sepasang mata melihat kegiatan olah raga kelas 10-1. Senyum tersungging di bibir seseorang itu yang pada akhirnya berubah menjadi tawa melihat tingkah konyol murid-murid yang sok serius di pelajaran olah raga sore itu.
Rainhard tertawa melihat Nara yang tertawa terbahak-bahak mengganggu konsentrasi Matcha yang hendak melakukan serve. Cowok itu tadi sempat melihat serve pertama yang di lakukan oleh Matcha, dan benar-benar, cewek itu memang payah dalam pelajaran olah raga. Ketika kemarin dia mengantar pulang, gadis itu sempat bercerita mengenai kelemahannya itu.
Bagaimana bisa, serve bawah yang seharusnya di lakukan dengan mengarahkan bola melambung keatas dan lurus ke depan sampai melewati net malah jadinya melenceng ke kiri dan itupun tak sampai melewati net. Membubarkan kerumunan murid-murid lain yang berdiri mengitari pinggiran lapangan.
Nara yang di lihat oleh Rainhard sedang menggoda Matcha sambil berteriak-teriak meminta semua temannya tiarap, akhirnya malah mendapat lemparan bola dari Matcha yang gemas, tepat mengenai tubuh cowok itu.
“Hey, Macho, ini namanya melempar keleus, bukan serve,” protes Nara yang meringis karena habis terkena lemparan bola oleh Matcha.
“Salah sendiri elo usil terus,” balas Matcha tidak mau di salahkan. Teman-teman mereka tertawa melihat kekonyolan Nara dan Matcha.
“Ayo, Matcha. Sekarang kamu lakukan serve atas,” perintah Pak Rusdi yang sudah menghapus senyum dari bibirnya karena kelakuan murid-muridnya barusan. Untung saja Pak Rusdi guru olah raga yang santai. Jadi, meskipun murid-muridnya selengekan di jam pelajarannya, Pak Rusdi merasa tidak ada masalah.
Matcha bersiap melakukan serve atas. Belum juga Matcha beraksi, Nara sudah tertawa sambil memegangi perutnya. Cowok itu sudah tahu apa yang akan terjadi, karena semenjak SMP satu kalipun Matcha tidak pernah berhasil dalam olah raga volley.
“Tiaraaaappppp … Chacha yang tiarap maksudnyaaaa … ” teriak Nara begitu Matcha melambungkan sedikit bola ke atas dan hendak memukul bola itu dengan telapak tangannya.
Wusssshhh … benar saja, tangan Matcha memukul angin dan bola meluncur kembali ke bawah yang langsung di hindari reflek oleh tubuhnya dengan berlari ke samping.
Pak Rusdi dan teman-teman sekelas yang lain tertawa terbahak-bahak. Rena yang juga tahu akan terjadi hal seperti itu tertawa juga sambil mencekik leher Nara yang terbungkuk-bungkuk sambil tertawa memegangi perutnya. Di susul Matcha yang segera berlari ke arah Nara dan ikut mencekik leher cowok yang sudah terjatuh di tanah itu. Cubitan demi cubitan menghujani tubuh Nara.
“Ampun, Cho … ampun,” rintih Nara dengan wajah merah karena kebanyakan tawa.
“Dasar Kunyil, resek,” dumel Matcha sambil tertawa-tawa kesal.
Pak Rusdi akhirnya meniupkan peluitnya. Kegiatan olah raga kembali di lanjutkan. Kali ini Pak Rusdi membentuk dua tim untuk bermain volley. Matcha menolak keras ketika Pak Rusdi memintanya ikut bermain dalam satu tim bentukannya.
“Saya jadi supporter aja, Pak. Daripada nanti malah jadi pengacau,” ujar Matcha beralasan. Pak Rusdi hanya tertawa, akhirnya beliau mengiyakan dan mengganti posisi Matcha dengan murid yang lain.
“Ngapain lo ketawa-tawa sendiri, Rain?” tanya Rama pada Rainhard yang hari itu lembur bikin proposal kegiatan di ruang OSIS yang terletak di lantai dua sekolah mereka.
“Cewek itu memang konyol, ya? Payah bener olah raganya,” ucap Rainhard yang sudah berhasil menghentikan tawanya.
Rama ikut melongok melihat luar, ke arah lapangan volley yang ramai oleh pelajaran olah raga adik kelasnya. Dan akhirnya, cowok itu menemukan sosok Matcha yang tengah berdiri sambil berteriak menjadi supporter teman-temannya yang saat ini sudah mulai bertanding.
“Dia? maksud, lo?”
“Iya, Chacha.”
Rama tersenyum simpul, menatap Rainhard penuh arti.
“Matcha tipe elo banget, ya?” tanya Rama mulai mengorek informasi dari sahabatnya itu.
“Apaan sih?”
“Udah, kagak usah bohong deh, gue bisa lihat dari cara bicara dan cara mandang elo ke dia. Kejar gih, kalau lo kelamaan, jangan salahin gue lho ya kalau lebih cepet bergerak daripada elo.”
“s****n lo, emang lomba lari?” Rama tertawa.
“Gue turun bentar, ya?”
“Yoi,” jawab Rama tanpa bertanya tujuan Rain mau kemana.
*****
Hampir setengah lima sore.
Selesai pelajaran olah raga, beramai-ramai Matcha dan teman sekelasnya yang lain berjalan menuju kelas mereka. Tiba-tiba mereka yang berjalan duluan di depan, berhenti tepat di depan pintu kelas yang masih tertutup.
“Eh, kenapa pada berhenti, pintunya nggak bisa di buka, ya? Siapa yang bawa kuncinya?” tanya Matcha yang merasa keheranan.
“Cha … buruan maju sini, dong,” panggil Erwin, Si ketua kelas.
“Gue nggak bawa kuncinya, Win, bukannya elo yang bawa, ya?” jawab Matcha yang tetap berdiri di tempatnya.
“Ini mah bukan urusan kunci, Cha. Buruan sini, gih.”
Akhirnya Matcha maju ke depan pintu. Di handle pintu di temukannya sebuah tas plastik tergantung dengan tulisan “To. Chacha”.
Matcha melongok dan mengintip isi tas itu. Sebotol air mineral dingin dan sebatang coklat almond rasa kesukaannya.
Dahi Matcha mengernyit bingung.
“Cieh … cieh … yang dapat kiriman dari secret admirer.”
Teman-teman mulai menggoda Matcha yang masih menatap heran. Suara mereka bersahut-sahutan. Mata gadis itu celingak-celinguk mencari seseorang, dan akhirnya terhenti pada Nara yang masih tersenyum dan barusan ikut teman-temannya menggoda Matcha.
“Ini kerjaan elo, Kun?” tanya Matcha heran.
“Kagak, ngapain juga gue sok-sok baik sama elo?” jujur Nara yang membuat Matcha mengalihkan tatapannya dari cowok itu. Akhirnya di ambilnya tas berisi minuman dan coklat itu. Begitu pintu di buka oleh Erwin, Matcha dan yang lainnya segera masuk kelas.
Matcha menimang tas kecil itu di tangannya. Dia coba mengingat-ingat, dan akhirnya satu senyum tersungging di bibirnya. Dia tahu pemberinya. Tak salah lagi, di sekolah ini yang memanggilnya Chacha hanya dua orang. Si Kunyil sama seorang lagi, dan yang lain itu pasti bukan Rena. Karena meskipun sahabat karibnya, Rena tetap memanggil Matcha dengan nama aslinya, karena kata Rena namanya unik dan lucu kalau di ucapkan.
Matcha mengambil ponsel di tasnya ketika telinganya mendengar suara notif sebuah pesan.
Rainhard W. Rezero : Pulang bareng gue, yuk
Matcha Putri : Kak Rain, masih di sekolah?
Rainhard W. Rezero : Yup
Matcha tersenyum sendiri menatap ponselnya. Pamitan Rena yang keluar terburu-buru dari kelas dia jawab sekenanya. Sambil menimang ponselnya, Matcha menoleh ke belakang mencari sosok Nara, hingga tanpa sengaja dia mendengar percakapan Si Kunyil itu dengan Randi.
“Elo jadi ikut futsal kan, Ra?” tanya Randi yang berjalan di belakang Nara yang menuju ke bangku Matcha.
“Iya, nanti gue nyusul, gue antar Chacha pulang dulu. Setelah itu gue balik ke futsal,” jawab Nara sambil tetap jalan.
“Yah, gue kira elo bakal bareng-bareng sama kita, Ra.”
Matcha yang mengikuti pembicaraan dua teman cowoknya itu segera berdiri dari bangkunya.
“Ra,” panggil Matcha kali ini dengan memanggil nama Nara yang asli, menggantikan sapaan kesayangannya selama ini.
Nara menatapnya penuh tanya.
“Elo berangkat futsal bareng yang lain nggak apa-apa kok, nggak usah nganter gue pulang dulu.”
“Nggak apa-apa, Cho, gue antar elo pulang dulu aja.”
“Gue ada barengan pulang kok, Ra.”
“Yang bener, lo?”
Matcha mengangguk meyakinkan.
“Who?” tanya Nara sok Inggris. Dan, tanpa menunggu lama seseorang sudah menjawab pertanyaan Nara.
“Chacha pulang sama gue, Ra.”
Bersamaan Nara dan Randi menoleh ke asal suara. Terlihat Rainhard masuk ke kelas mereka dan langsung menuju bangku Matcha.
“Oh, Chacha pulang sama Kak Rain?” tanya Nara meyakinkan. Dan, cowok kakak kelasnya itu mengangguk mengiyakan.
Nara terdiam sejenak. Sebentar di lihatnya wajah Matcha yang juga tengah melihat ke arahnya. “Baiklah, kalau gitu gue duluan, ya? Yuk, Ran,” ajak Nara sambil mulai melangkah keluar.
Matcha mengikuti langkah Nara dan Randi dengan pandangannya. Tepat di pintu kelas sebelum berbelok arah, Nara berhenti sejenak dan menoleh ke arah Matcha. Wajah cowok itu datar, tanpa berkata atau memberi isyarat apapun dia kembali melanjutkan langkahnya.
“Pulang sekarang, yuk,” ajak Rainhard sambil menyunggingkan seulas senyum. Matcha segera membalasnya dengan senyuman, berdua mereka berjalan menuju tempat parkir di mana mobil Rainhard berada.
“Terima kasih ya, Kak,” ungkapan terima kasih Matcha yang membuat Rain menaikkan sebelah alisnya.
“Belum di antar pulang kok sudah bilang terima kasih?”
“Bukan untuk itu, terima kasih buat minuman sama coklatnya.”
“Oh. Sudah di habiskan? Kok tahu itu dari gue?”
Matcha memperlihatkan botol minumnya yang tinggal berisi setengah.
“Di sekolah ini, selain Kak Rain dan Nara nggak ada lagi yang panggil gue dengan nama Chacha.”
“Oh iya?”
“Kan gue kemarin bilang, orang-orang terdekat gue yang punya panggilan itu. Mereka ikut omongan gue masa kecil yang kesusahan sebut nama sendiri dengan benar.”
Rainhard tertawa mendengar cerita itu. Gadis di sampingnya ini selalu berhasil membuatnya tertawa dengan beragam cerita-cerita uniknya.
Rainhard mengacak pelan puncak kepala Matcha, dan dengan sengaja dia mencari tangan gadis itu, kemudian menggandengnya dengan tetap berjalan santai. Sekilas dia menoleh ke arah Matcha dengan sebuah senyuman.
Matcha sedikit terkejut, di tatapnya tangan mereka yang sudah bertaut. Ada getar aneh yang dia rasa di dalam dadanya.
Matcha bingung, apa arti degub jantung berirama cepat yang dia rasakan saat ini. Dia sering, entah sengaja atau enggak di gandeng oleh Nara, sering tangannya berada dalam genggaman Nara ketika cowok itu tengah menahan serangan kekesalannya yang membabi buta, sering merasakan Nara mengacak gemas rambutnya, mencubit hidung dan pipinya bahkan kadang merangkul bahunya dengan santai. Meskipun rasanya memang ada kangen ketika Nara tak terdengar suaranya atau tak muncul di hadapannya walau hanya sehari saja. Tapi … sama sekali dia belum pernah merasakan degub jantung yang seperti ini jika bersama Nara. Hari ini dia merasa suatu rasa yang beda bersama Rinhard.
*****