Suara tawa masih memenuhi ruang aula yang merupakan respon atas pertanyaan Matcha barusan. Sedangkan gadis yang memiliki pertanyaan itu justru bersikap santai, nggak mau mikirin soal tawa yang dia dengar itu respon positif atau negatif. Yang dia fikirkan kira-kira jawaban seperti apa yang bakal Ketua OSI itu sampaikan. Sebenarnya pertanyaan yang Matcha sampaikan hanyalah sebuah keisengan yang terfikirkan tiba-tiba dalam rangka balas dendam atas kejengkelannya tadi pagi.
“Cho, pertanyaan elo keren. Sama sekali nggak kampungan,” bisik Nara tepat di telinga Matcha. Cowok itu ngakak nggak ada habisnya. Matcha yang merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaannya pada Rainhard membalas bisikan Nara dengan sebuah pertanyaan yang setengah berbisik pula.
“Kun, nggak ada yang salah kan dengan pertanyaan gue barusan?” bukannya menjawab, Nara malah tertawa ngakak lebih keras. Tangan usilnya nggak tahan lagi untuk tidak menarik kuncir rambut panjang gadis yang duduk tepat di sampingnya.
“Kalau nggak salah, nama kamu Matcha, kan?” tanya Rainhard meyakinkan ingatannya akan nama seorang gadis yang wajahnya cukup familiar baginya. Cowok itu sama sekali nggak mengira akan mendapat pertanyaan macam itu. Biasanya, untuk seorang Ketua OSIS keren seperti dirinya, pertanyaan paling sering yang bakalan di dapat adalah, “Kak, sudah punya pacar apa belum? Kelasnya di ruang berapa? Rumahnya dimana? Dan … lain sebagainya macam pertanyaan-pertanyaan pribadi sejenis itu.”
Rainhard masih menyunggingkan senyum termanisnya sambil menunggu jawaban dari Matcha, membuat para cewek enggan mengalihkan pandangannya dari cowok itu gara-gara senyum yang membuat wajah cakepnya semakin kelihatan keren.
“Benar, Kak,” jawab Matcha singkat.
“Oke … “ suara Rainhard memecah suasana ramai penuh tawa yang belum terhenti 100%. Suasana aula mendadak menjadi lebih tenang.
“Gue jawab pertanyaan Matcha. Menurut orang tua gue, memang gue di lahirkan saat hujan deras. Jadi nama Rain dan Hard memang di ambil dari kondisi saat itu. Tetapi, apakah pada saat itu banyak petir atau enggak, sehingga rambut gue akhirnya kesetrum dan jadi begini, bakal gue sampaikan langsung ke Matcha nanti pada hari terakhir MOS. Matcha, temui gue satu jam sebelum jam pulang. Ingat, jangan sampai lupa, dan jika elo nggak nemuin gue, maka bakal ada hukuman tambahan buat elo.”
Huuu … suit … suit … suara-suara itu segera memenuhi aula begitu mendengar syarat yang di ucapkan Rainhard.
“Kena jebakan Batman, Lo,” bisik Nara kembali.
“Ketua OSIS s****n!” umpat Matcha yang cukup terdengar di telinga Nara. Cowok itu terbahak sekali lagi, menertawakan kekonyolan gadis di sampingnya yang akhirnya terjebak sendiri oleh permainan kakak senior mereka.
Selesai acara perkenalan pengurus OSIS masa jabatan periode tersebut, acara selanjutnya adalah pembagian kelas. Dikarenakan belum ada pembagian kelas secara resmi, jadi isi kelas akhirnya di bagi berdasarkan urutan abjad.
Sisil, salah satu cewek pengurus OSIS membacakan data yang barusan dia terima dari Tata Usaha. Masing-masing kelas di bagi dengan isi sebanyak tiga puluh orang siswa.
“Ruang tujuh … absensi nomor 29, Matcha Julia Teddy Putri,” sebut Sisil yang cukup di perhatikan Matcha dengan seksama.
“Moga aja gue nggak sekelas sama elo, Kun. Lumayan bebas dari elo tiga hari, syukur-syukur sampai seterusnya,” doa Matcha tepat di telinga Nara. Cowok itu tak bereaksi, konsentrasinya masih terfokus pada daftar yang sedang di bacakan oleh Sisil, karena namanya belum di sebutkan. Melihat urutan abjad, seharusnya setelah huruf M sekarang giliran huruf N yang di sebutkan.
“Ruang tujuh … absensi nomor 30, Nara Arya Adiswara.”
Spontan mata Matcha mendelik hendak keluar dari tempatnya begitu nama Nara di sebut setelah namanya. Sedangkan Nara terkikik geli tanpa dosa di sampingnya.
“Doa elo nggak terkabul,” bisik Nara penuh senyum. Cubitan gemas Matcha segera mendarat di lengan Nara yang membuat cowok itu menjerit tertahan menahan sakit.
“Love you, Chacha. Gue bakal setia selalu menjaga elo dimanapun berada, karena gue adalah malaikat penjaga lo,” bisik Nara tak berhenti menggoda Matcha.
Wajah cantik itu memberengut menahan kesal, membuat Nara yang melihatnya semakin gemas untuk lebih menggoda gadis itu. Di acaknya rambut Matcha dengan asal, hingga tanpa sadar dia menjerit kesal yang cukup menjadi perhatian siswa yang lainnya.
“Oopps! sori, gue nggak kenapa-kenapa kok,” klarifikasi Matcha berusaha mengalihkan perhatian banyaknya pasang mata yang menatap ke arah dia dan Nara. Dirinya tak menyadari bahwa salah satu kakak kelasnya yang berada di depan sesekali mencuri pandang memperhatikan tingkah ajaibnya bersama Nara.
*****
Ruang tujuh cukup berisik, kakak OSIS yang menjaga kelas tersebut sedang pamit keluar ruangan karena adanya panggilan mendadak dari Pembina OSIS sekolah.
Saat ini dengan rela Matcha duduk sebangku dengan Nara. Karena satupun tak ada teman yang sudah dia kenal di kelas tersebut. Matcha yakin dia pasti masih tahan duduk dekat-dekat dengan SI Kunyil malaikat penjaganya selama tiga hari ke depan. Setidaknya, begitulah yang ada di fikiran Matcha.
Rena yang juga masuk di SMA yang sama, kebetulan berbeda kelas. Dan entahlah, beberapa jam ini tadi, Matcha hanya sempat bertemu sahabatnya itu pada saat pagi menjelang upacara penyambutan siswa baru. Setelahnya mereka berpisah, bahkan sampai di aula tadi pun Matcha tidak menemukan posisi duduk Rena.
“Kun, gue kangen deh sama Rena. Dia ada di ruang berapa, ya?” tanya Matcha pada Nara yang asyik menggoreskan pensil tengah menggambar sesuatu di buku tulisnya.
“Mana gue tahu, emangnya gue dukun? Begitu tadi nama gue di sebut, setelahnya gue udah nggak merhatiin apa-apa lagi,” jelas Nara tanpa mengalihkan konsentrasinya dari pensil dan kertas di tangannya. Matcha melirik sebal pada Nara yang kembali cuek padanya. Benar-benar nggak kebayang deh seandainya dia sampai tiga tahun lagi harus sekelas dan sebangku dengan cowok menyebalkan ini.
“Sebenarnya sama sih, gue juga nggak memperhatikan waktu pembacaan ruang tadi setelah nama gue dan Nara di sebut,” tak urung batin Matcha berucap membenarkan jawaban Nara yang tidak memperhatikan kelas Rena pada saat pembagian ruang tadi. Tangan Matcha spontan meraih ponsel di laci mejanya. Segera di bukanya chatroom w******p. Dipilihnya contact Rena, dan segera di ketiknya kata singkat sapaannya, sambil berharap semoga kakak OSIS penunggu ruang Rena juga sedang keluar ruang.
Matcha Putri : Re …
Bip, ada suara balasan untuk chat Matcha. Yes, berarti ruang Rena lagi longgar juga, tebak Matcha.
Renatha Widya : Yuupps
Matcha Putri : Kelas lo longgar juga, di ruang berapa?
Renatha Widya : longgar, ruang 10, elo di ruang 7 sama Si Kunyil, ya? apes banget lo
Matcha Putri : bukan hanya sekelas, sekarang gue malah sebangku
Renatha Widya : whattt? yakin lo nggak bakal bunuh dia?
Matcha Putri : emangnya gue psikopat?
Renatha Widya : hahaha, kali aja
Matcha tak lagi membalas pesan Rena begitu melihat Rama dan Sisil di ambang pintu kelas. Segera dia masukkan lagi ponselnya ke laci meja tanpa lupa sebelumnya mengganti mode silent. Nampak di tangan mereka berdua membawa setumpuk lembaran kertas putih yang untuk selanjutnya di bagi satu per satu pada seisi kelas.
“Karena hari ini kita masih sesi santai, kalian di beri kesempatan untuk menggambar di kertas putih ini. Tema lukisan kalian adalah kesan pertama mengenai sekolah baru hari ini. Dan, di bawah lukisan jangan lupa di berikan sedikit deskripsi tentang gambar dan kesan kalian itu.”
Nara segera tersenyum senang, karena melukis adalah hobinya. Tak begitu yang terjadi pada Matcha. Dia memang sangat payah pada urusan lukis melukis atau apalah yang berbau dengan prakarya. Begitu juga dengan urusan olah raga, gadis itu sama sekali tidak bisa di andalkan. Tapi jangan tanya jika berurusan dengan soal-soal berbau hitungan atau dengan sastra, maka gadis itu adalah jagonya. Memang benar pepatah bilang, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Like mother and father like their daughter, sepertinya itu cocok banget untuk menggambarkan sosok Matcha dan keahliannya.
“Kak, itu harus pakai lukisan, ya? Nggak boleh sekedar tulisan aja?” tanya Matcha yang sesungguhnya berusaha menawar.
“Harus ada lukisannya, jika tidak ada, maka kalian sudah menyimpan satu hukuman yang akan di berikan besok ketika kalian mulai aktifitas MOS dengan kegiatan di luar kelas. Jadi, sekalian di ingat, besok kalian menggunakan seragam PDL,” perjelas Sisil dengan cukup tegas.
Karena yang menjawab suara cempreng Sisil, Matcha sudah malas untuk melanjutkan aksi tawar menawarnya. Sesekali dia menoleh ke arah Nara, berharap Si Kunyil itu bakal berbaik hati membuatkannya sebuah lukisan.
“Kenapa? Pasti butuh bantuan membuat gambar,” tanya Nara sekaligus cibiran yang seolah bisa membaca fikiran Matcha. Tanpa mengeluarkan jawaban apapun Matcha segera mengoper kertas Nara yang berisi gambar hampir selesai dengan kertas kosongnya.
“Gambar yang paling simple dong, Kun. Biar gue nggak susah bikin deskripsinya.”
“Yakin lo di buatin gambar sama gue?”
“Iya, yakin. Udah jangan berisik, nanti kedengaran mereka berdua. Suka–suka elo deh gambar apaan, pokoknya nggak SARA dan ada hubungannya sama sekolah ini.”
Nara mulai diam menggambar di kertas kosong Matcha. Dan sepuluh menit kemudian kertas itu sudah kembali ke hadapan Matcha, menggantikan kertasnya sendiri yang sudah berpindah tempat lagi di hadapannya.
Omaigad!
Matcha hanya bisa menelan ludah melihat hasil karya lukisan Nara untuk tugasnya.
“Kun, elo mau bunuh gue perlahan-lahan, ya?” bisik Matcha sambil menuding gambar Nara untuknya.
“Apanya yang salah? Itu yang paling berkesan kan dalam cerita hidup elo mulai pagi tadi?” bela Nara tak mau di salahkan.
Sekali lagi Matcha membenarkan ucapan Nara. Gadis itu terlalu menghayati lukisan di hadapannya, hingga sedikitpun tak memperhatikan senyum jahil di bibir cowok itu.
Bagaimana mungkin Matcha tidak terancam hidupnya ketika yang di gambarkan Nara di kertas kosongnya adalah sketsa kepala Ketua OSIS nya dengan rambut jabrik yang keren. Sketsa itu cukup simple, dan meskipun tidak terlalu mirip dengan wajah asli Rainhard, siapapun pasti bisa membaca siapa yang di maksud dalam gambar itu. Apalagi nama pemilik lukisan itu adalah Matcha.
“Waktunya tinggal lima menit lagi, segera kumpulkan gambar kalian, jangan lupa di kasih nama masing-masing.”
Sekali lagi Matcha menelan ludah. Bingung harus menulis apa di bawah gambar itu. Untuk meminta Nara menggambarkannya sekali lagi, jelas tidak mungkin karena waktunya sudah terlalu mepet dan tidak ada kertas kosong yang dia punya. Akhirnya tangan mungil gadis itu menciptakan corat-coret sedikit mengenai kesan-kesannya.
“KETUA OSIS KEREN DENGAN RAMBUT JABRIKNYA. SUDAH MEMBUAT HARI PERTAMA SEKOLAH GUE PENUH CERITA. GUE MEMAAFKAN DOSA ELO TADI PAGI ASAL GUE JUGA DI BERI MAAF KARENA TERPAKSA MENGGAMBAR SKETSA INI. BY MATCHA–RUANG 7”
*****