Sebelum memasuki gerbang sekolah barunya, Matcha menatap bangga dari luar pagar gedung sekolah SMA yang menjulang megah itu.Siapapun pasti bangga bisa bersekolah di situ. Meskipun sekolah SMA Negeri, tapi reputasi sekolah itu di tingkat nasional patut di perhitungkan. Berkali-kali perwakilan siswa sekolah tersebut menghiasi halaman surat kabar karena menyabet beragam penghargaan dalam kejuaraan tingkat nasional. Mulai bidang sains, olah raga, LKR dan lain sebagainya.
Hari ini adalah masa pengenalan lingkunan sekolah alias MPLS atau istilah lamanya di sebut MOS, dan Matcha sengaja berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet supaya tidak sampai telat datang di hari pertamanya sekolah. Apalagi, di sekolah ini masih menerapkan gaya lama orientasi siswa yang mana senior masih memiliki kekuasaan. Ya meskipun semua masih dalam pengawasan pihak sekolah.
"Heh, kamu yang baru datang, kenapa nggak segera masuk?" sebuah teriakan membuyarkan rasa membuncah di hati Matcha yang masih merasakan binar-binar bangga dan kagumnya karena hari ini dia sudah berganti status menjadi gadis putih abu-abu dan bersekolah di SMA favorit yang membanggakan.
Matcha menatap ke arah gerbang sekolah. Tadi sewaktu turun dari mobil papa, dia memang menangkap dua penampakan manusia cowok yang berdiri tak jauh dari gerbang, posisi mereka berada di bagian dalam.
Matcha sempat membatin, pasti mereka adalah seniornya yang kebagian tugas memeriksa atribut dan kelengkapan MOS para junior mereka. Tak salah lagi, mereka pasti pengurus OSIS yang akan memandu acara MOS siswa baru.
Tampang mereka yang tadi terabaikan karena rasa kagum dan bangga yang ada di hati Matcha, kali ini membuat gadis itu terpaksa menatap lurus ke arah mereka.
Dua orang cowok dengan tampang standar. Enggak cakep, tapi juga nggak terlalu jelek. Di bandingkan Si Kunyil jelas teman usilnya itu jauh lebih cakep dari mereka.
Matcha senyum-senyum sendiri merasa geli membandingkan wajah kakak seniornya dengan Nara. Entah cowok itu berangkat sekolah dengan siapa dan naik apa di hari pertama sekolah ini? Sampai dengan sekarang Matcha belum melihat Si Jahil itu di depan sekolah.
"Heh, kamu nggak salah masuk sekolahan, khan?"
Matcha tergagap dari lamunan sesaatnya. Tiba-tiba salah satu cowok kakak kelas tadi sudah berdiri tepat di hadapannya sambil meneliti atribut seragam.
"Matcha Julia Teddy Putri, kamu sudah berdiri disini hampir sepuluh menit, sekarang segera masuk kesana," tunjuk cowok itu dengan suara datar yang dia buat setegas mungkin. Matcha hanya diam sambil melirik ke name tag di baju cowok itu, Rama Aditama, cowok menyebalkan di gerbang sekolah. Dan, kali ini Matcha beralih melirik ke name tag di bajunya sendiri, benar-benar s**l, kenapa nama ini di tulis selengkap gini, ya? Gadis itu baru menyadarinya.
Tanpa berkata apapun, Matcha melangkah memasuki gerbang sekolah. Sedangkan Rama hanya menatap keheranan tingkah cuek gadis juniornya itu, kepalanya hanya menggeleng pelan. Ingin mencari satu titik kesalahan, tapi atribut dan peralatan MOS cewek itu lengkap semua. Sebuah kardus berbentuk tas sekolah sudah nyangklong manis di punggung cewek tadi, begitu juga topi berbentuk kerucut dari karton yang nangkring manis di kepalanya. Membuat wajah cantik gadis itu tadi tampak lucu dan menggemaskan, di tambah rambut panjang hitamnya yang terkuncir dua dengan pita tali rafia berwarna kuning.
Matcha tetap melangkah lurus tanpa sedikitpun menoleh pada satu cowok lain yang berdiri di sisi pintu gerbang dekat pos satpam.
Di dalam area sekolah, kembali Matcha tolah toleh memperhatikan kondisi sekolah barunya. Begitu melewati gerbang tadi, topi kerucutnya sengaja dia lepas dan dia tenteng di tangan kanannya.
Sangking asyiknya menoleh kanan dan kiri, sampai-sampai Matcha tidak menyadari adanya seseorang yang berjalan terburu-buru berlawanan arah dengannya. Bahu mereka bersenggolan cukup keras, hingga topi kerucut di tangan Matcha terlepas dari pegangannya dan jatuh di lantai keramik koridor kelas.
Cowok itu tetap berlalu melewati Matcha, dengan spontan Matcha berbalik badan. Demi melihat cowok buru-buru yang cuek dengan hasil perbuatannya barusan membuat Matcha segera berteriak.
"Hei, masih pagi juga, jalan santai aja kenapa, sih?"
Kareng mendengat teriakan nyaring Matcha, spontan cowok itu berhenti dan membalikkan badan.
Hohoho ... cakeeeppp! dia ganteng banget! Hihi, hati Matcha tak bisa berbohong. Rambut mohawk dengan jambul rapinya yang tidak terlalu tinggi tapi cukup jabrik, membuat penampilan cowok itu keren kekinian.
Cowok yang sudah berbalik badan itu menatap sebentar ke arah Matcha, kemudian berjalan pelan mendekati gadis itu yang berusaha menenangkan hatinya karena silau melihat betapa kerennya cowok itu.
"Sori," ucap cowok itu meminta maaf begitu jarak mereka sudah cukup dekat. Matcha bengong, hanya mampu melirik tulisan "Rainhard Wibisana Rezero" di baju seragam cowok itu.
"Matcha Julia Teddy Putri. Kamu tidak mau memaafkan saya?" tanya cowok itu dengan sangat formal. Dan sekali lagi di pagi ini, nama Matcha tersebut dengan sangat lengkap untuk yang kedua kalinya.
"Enggak," jawab Matcha tanpa berfikir.
Cowok itu tersenyum.
"Elo pasti tahu kan saya senior disini? Bisa menghukum juniornya kapanpun mau, apalagi kalau atribut sekolah dan perlengkapan MOS tidak lengkap. Mana topi kerucut elo?"
Matcha meraba kepalanya, dan tiba-tiba dia di landa panik karena tidak mendapati topi itu ada di sana. Beberapa detik kemudian dia hanya bisa mengikuti gerakan Si Rainhard yang berjongkok mengambil sesuatu di lantai.
"Ini punya, lo?" tanya cowok itu kembali. Matcha hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Tiba-tiba Rainhard maju beberapa langkah dan berdiri persis di depan Matcha. Dengan tenang dia memasangkan topi itu di kepala Matcha.
"Karena gue udah nabrak elo dan jatuhin topi ini dari tangan elo, oke saat ini gue nggak akan kasih hukuman. Padahal seharusnya elo pasti ingat peraturannya, kan? Perlengkapan MOS wajib di pakai selama di area sekolah, hanya boleh di lepas jika panitia MOS yang artinya pengurus OSIS mengijinkan. Dan, perlu elo tahu, gue salah satu pengurus OSIS yang menangani MOS angkatan baru kali ini. Oke Matcha, remember that, See you next."
Matcha tak mampu berkata apapun, hanya bisa membiarkan cowok bernama Rainhard Wibisana itu berlalu dari hadapannya.
Mengabaikan kejadian yang barusan, gadis itu kembali melanjutkan langkah. Tanpa dia sadari seseorang menjajari langkah di sampingnya.
"Selamat pagi, Macho."
Matcha yang sangat mengenali suara dan panggilan khas itu hanya menoleh sekilas tanpa membalas sapa.
"Idih ... yang baru dapat kenalan cogan kakak kelas, cemberut aje nih, senyum bahagia dong harusnya."
Nara mulai melontarkan kata-kata usilnya.
"Cogan tapi ngeselin, males gue. Nggak bakal gue mau jadi pengurus OSIS macam mereka yang banyak dosa pada adik kelasnya."
"Kok, mereka? Haha, elo pasti jadi korban yang jaga di gerbang sekolah juga, ya?"
"Ya iyalah, sok sekolah ini milik mereka aja deh, sebel banget gue."
"Eh Cho, jangan amit-amit gitu lo sama mereka, nanti mereka pada naksir elo deh. Naksir pengin ngerjain elo pas MOS nanti maksudnya."
Matcha hanya mendengus sebal, sedangkan Nara terkekeh geli di sampingnya.
Benar yang Nara bilang tadi. Gara-gara insiden tadi pagi, Matcha cukup menjadi perbincangan tiga orang cowok di gerbang sekolah mereka.
Rainhard yang datang nyamperin Rama dan Odi di gerbang sekolah mendapati kedua teman sesama pengurus OSIS itu terlibat satu perbincangan.
Sebagai ketua OSIS dia berusaha sedikit memahami tingkah anggotanya pagi itu, karena suasana sekolah masih cukup sepi, hanya satu dua orang aja junior mereka yang baru datang, sehingga mereka masih bisa sedikit santai.
"Kalian standby disini kok malah pakai ngobrol, sih?" tanya Rain -nama panggilan Rainhard-.
"Masih sepi juga, Rain. Baru juga dapat mangsa satu cewek, namanya unik dan panjang sampai gue nggak bisa lupa," jawab Rama dengan sebuah senyuman. Odi ikut tersenyum juga sambil manggut-manggut.
"Cewek? Namanya unik?" tanya Rain dengan heran.
"Iya, cantik dengan gaya cueknya yang boleh juga, bikin penasaran."
"Gue tahu. Matcha Julia Teddy Putri, dia apa bukan?"
Rama dan Odi tertawa bersamaan.
"Kok elo bisa tahu juga?"
"Tadi dia tabrakan sama gue. Ya bener sih, gayanya oke juga buat level yang masih junior."
"Wah, ya udah deh, gue serahin ke elo aja kalau gitu. Tipe elo banget kan yang seperti itu? Daripada cewek-cewek manja yang kata elo bikin mules. Biar nggak kelamaan jomblo, lo."
"Enak aja, emang gue ikutan biro jodoh apa? Udah ah, kalian tugas lagi yang bener, mulai rame nih. Gue cek persiapan yang lain," pamit Rain sambil melangkah masuk kembali berjalan menuju ke area dalam sekolah.
*****
Selepas upacara penyambutan siswa baru oleh Kepala Sekolah dan para guru, kegiatan selanjutnya di serahkan kepada pengurus OSIS.
MOS akan di jalankan selama tiga hari, dan di hari pertama ini semua siswa baru di kumpulkan di aula sekolah yang sangat luas.
Para siswa itu duduk lesehan, sedangkan di depan mereka berdiri berjejer para pengurus OSIS.
Matcha mengenali tiga sosok cowok yang dia temui tadi pagi ada di antara mereka. Dan dengan cueknya dia hanya mendengarkan sepintas lalu para seniornya yang memperkenalkan diri di depan ratusan siswa baru itu.
Perhatian Matcha baru tertuju ke depan ketika cowok terakhir yang dia kenal namanya dan satu-satunya cowok yang belum memperkenalkan diri itu saat ini tengah berdiri dengan sikap cool nya sambil memegang mikrofon.
"Nama saya, Rainhard Wibisana, dan saya menjabat sebagai ketua OSIS tahun ini."
Rainhard hanya mengucapkan kata perkenalan sesingkat itu. Selanjutnya terdengar suara Sisil, pengurus OSIS cewek yang kebetulan merangkap tugas sebagai MC pada MOS kali ini.
"Sebelum kita menuju ke acara selanjutnya, ada yang ingin di tanyakan mengenai profil Ketua OSIS kita? Hanya satu pertanyaan, dan angkat tangan kalian. Kakak Rainhard yang akan memilihnya sendiri."
Banyak tangan terangkat, terutama tangan para cewek. Matcha salah satunya.
Mata Rainhard berkeliling memperhatikan satu persatu pemilik tangan terangkat dari para junior yang kali ini duduk lesehan beralas karpet lantai aula.
Mata Rainhard berhenti pada sosok Matcha. Tangannya segera menunjuk ke arah gadis itu.
"Gue?" pertanyaan Matcha tanpa suara yang bisa terbaca dari gerak bibir gadis itu.
“Iya, satu pertanyaan saja," ucap Rainhard benar tertuju ke arah Matcha.
Semua perhatian tertuju ke arah Matcha yang sedang menerima mikrofon yang di ulurkan kepadanya.
"Saya cuma penasaran, nama kakak Rainhard, apakah kakak lahir pada saat hujan deras dan banyak petir, ya? karena gaya rambut mohawk-nya keren, jabriknya seperti kesetrum petir. Tapi tetep keren, kok."
Matcha melontarkan pertanyaannya dengan sangat santai, dan sontak suara tawa memenuhi aula luas itu.
*****