Ara menghempaskan tubuhnya di ranjang, sebulan ia tak merasakan empuknya kasur dikamarnya ini, ia merindukan kenyamanan yang ia dapat saat berada dalam kamarnya ini. Ia memeluk guling yang ada di sampingnya, tak butuh waktu lama Ara sudah terlelap. Ara merasa seseorang membelai lembut pipinya, dan ia ingat sentuhan itu dan parfum yang menyeruak dihidungnya sangat ia kenal. Ia segera membuka matanya namun ia tak melihat siapapun dikamarnya, hanya dirinya seorang diri, ia kemudian duduk dan melihat jam, memang sudah pagi dan ia tak mendengar suara alarm ponselnya karena ia terlalu lelah. "Edgar...,"gumam Ara pelan. Ara terdiam sejenak, ia berfikir apa yang akan ia lakukan sekarang, apakah ia harus menemui Edgar tapi apa yang akan ia katakan, ia yang memutuskan membatalka

