Motor Abizar melaju perlahan mendekati gerbang sekolah. Sinta yang sejak tadi menatap kosong tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Matanya terpaku pada satu sosok yang berdiri di dekat gerbang. Rama. Lelaki itu berdiri di samping motor besarnya, bersama beberapa anggota geng motor yang ia kenal. Jaket kulit hitam membalut tubuhnya, helm tergantung di tangan, wajahnya tampak dingin dan keras. Sorot matanya tajam, menyapu setiap kendaraan yang keluar masuk, seolah tengah menunggu sesuatu—atau seseorang. Dan ketika pandangan mereka bertemu, jantung Sinta berdegup kencang. “Berhenti sebentar, Bi…” ucap Sinta pelan. Abizar menginjak rem perlahan. Abizar mengangguk singkat ke arah Rama. “Rama.” Rama membalas anggukan itu. “Bi.” Sapaan singkat. Datar. Tanpa senyum. Tak ada basa-basi. Tak ada ob

