Damar 31

2179 Kata

Tepat pukul sebelas malam, keheningan rumah terpecah oleh suara derit pintu gerbang yang terbuka. Sinta yang sejak tadi berbaring dengan mata terpejam, langsung membuka mata. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dan melangkah pelan ke arah pintu kamarnya. Ia membuka pintu sedikit saja, cukup untuk mengintip ke arah ruang tengah. Dan benar saja—Rama baru saja masuk. Lelaki itu melepas sepatu, meletakkannya rapi di rak, lalu mengusap wajahnya lelah. Sinta menahan napas. Matanya menyapu wajah kakaknya dengan cermat, mencari-cari tanda yang selama ini membuatnya cemas. Tidak ada lebam. Tidak ada luka. Tidak ada bekas perkelahian seperti beberapa waktu lalu. Ia menghela napas lega, tanpa sadar pundaknya ikut merosot, seolah beban berat yang sejak tadi bertengge

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN