Pagi itu terasa berbeda. Udara di ruang makan masih sama—hangat, tenang, dengan aroma kopi yang baru diseduh dan sarapan yang sudah tersaji rapi di atas meja. Mila duduk di kursinya seperti biasa, menuangkan teh ke dalam cangkir, sementara Damar membaca koran dengan sikap tenang yang sudah menjadi kebiasaannya. Rafa datang sedikit lebih awal dari biasanya. Langkahnya tidak tergesa. Namun wajahnya… terlihat lebih serius. Ia duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Tangannya meraih gelas air, meneguknya perlahan, seolah sedang menyiapkan sesuatu. Mila melirik sekilas. “Tumben pagi-pagi sudah rapi,” ucapnya ringan. Rafa hanya mengangguk kecil. “Iya.” Tidak ada balasan panjang. Tidak seperti biasanya. Damar menurunkan korannya sedikit, memperhatikan Rafa lebih dalam. Ia mengenal anak

