Kabar itu datang seperti angin segar yang sudah lama dinanti. Setelah hari-hari panjang di rumah sakit, setelah berbagai prosedur yang melelahkan, setelah naik turun kondisi yang membuat semua orang cemas—akhirnya dokter mengatakan satu hal yang membuat semuanya terasa lebih ringan. Kaima boleh pulang. Bukan berarti sembuh sepenuhnya. Bukan berarti perjuangannya selesai. Tapi setidaknya… ia bisa keluar dari ruang itu. Kembali ke rumah. Kembali ke tempat yang lebih hangat. Sejak pagi, Kaima sudah terlihat berbeda. Lebih cerah. Lebih hidup. Meski tubuhnya masih lemah, senyum di wajahnya tidak berhenti muncul. Ia bahkan beberapa kali menatap pintu, seolah menunggu sesuatu. Atau… seseorang. Rafa. Ia sudah memberi kabar. Bahwa hari ini ia akan datang menjemput. Dan sejak saat i

