“Kamu boleh pulang. Istirahat di rumah saja.” Ucapan itu terdengar tenang, nyaris lembut, saat Damar berdiri di ambang pintu kamar perawatan. Jaket kerjanya masih melekat di tubuh, wajahnya menyimpan lelah yang belum sempat reda. Namun sorot matanya tertuju penuh pada Sinta—bukan sebagai perintah, melainkan permintaan yang dibungkus kepedulian. Sinta menoleh. Sekilas hatinya bergetar. Ia ingin menolak. Ingin berkata bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia bisa bertahan semalaman di kursi keras itu, menemani Mila hingga pagi. Ia ingin tetap berada di sisi kakaknya, memastikan setiap tarikan napas Mila tetap terjaga, memastikan tak ada rasa sepi yang menyusup di sela-sela sakit. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Sinta menatap Damar lebih lama. Ia melihat kecemasan yang disembunyikan

