Mila benar-benar melemah. Bukan sekadar lelah atau demam biasa yang bisa diredakan dengan kompres hangat dan obat-obatan rumahan. Tubuhnya semakin hari semakin dingin, sementara panas di dahinya justru tak kunjung turun. Matanya sayu, langkahnya goyah, dan senyumnya—yang biasanya ringan—kini terasa dipaksakan. Damar mulai panik ketika Mila tak lagi sanggup berdiri tanpa berpegangan. Kekhawatiran itu memuncak saat hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda yang tak bisa diabaikan. Tanpa banyak bicara, Damar dan Sinta memutuskan membawanya ke rumah sakit. Lorong IGD dipenuhi bau antiseptik yang menusuk, lampu-lampu putih terasa terlalu terang. Mila terbaring lemah di ranjang dorong, wajahnya pucat, bibirnya kering. Sinta berjalan di sampingnya, menggenggam tangan kakaknya erat-erat

