Saat membuka pintu kamar, Sinta mendapati Rama berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Seulas keterkejutan sempat melintas di wajahnya—mata itu sedikit membesar, alisnya terangkat—namun hanya sesaat sebelum kembali pada ekspresi datar yang selama ini kerap ia tunjukkan, seolah tak ingin siapapun membaca apa yang ia rasakan. “Kak Rama,” sapa Sinta pelan. Rama menelan ludah, matanya refleks turun ke arah kaki Sinta yang masih dibalut perban tipis. Ada raut cemas yang sama sekali tak berhasil ia sembunyikan. “Mm… gimana kakimu?” tanyanya ragu, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Masih sakit?” “Baikan kok. Nggak sakit lagi,” jawab Sinta cepat, berusaha terdengar meyakinkan. Ia bahkan sedikit menggerakkan kakinya, seolah ingin membuktikan bahwa kondisinya benar-benar baik-baik saja. Namun

