Cantik dan pintar—dua kata yang selalu melekat pada diri Sinta, seolah tak terpisahkan dari napas hidupnya. Parasnya meneduhkan, bukan kecantikan yang mencolok atau berlebihan, melainkan keindahan yang hadir secara alami. Ditambah kecerdasannya yang membuat siapa pun mau tak mau mengaguminya. Ironisnya, Sinta sama sekali tidak menikmati sorotan itu. Ia lebih suka berada di sudut, tenggelam dalam buku atau pikirannya sendiri, berharap dunia tak terlalu memperhatikannya. Namun takdir seakan gemar bercanda, karena justru dua hal yang paling ingin ia sembunyikan—kecantikan dan kepintaran—membuatnya selalu menjadi pusat perhatian. Dimanapun Sinta berada, tatapan akan mengikuti. Bisik-bisik pelan sering terdengar di belakangnya, entah berupa pujian, kekaguman, atau rasa iri yang disamarkan deng

